Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Dua Ibu Melahirkan Meninggal Setiap Jam

Sabtu, 11 Oktober 2014 | 08:39 WIB
Alex Dungkal dan Emral Ferdiansyah

JAKARTA- Pengurus Pusat Ikatan Bidan Indonesia (IBI) memperkirakan ada 5 juta ibu hamil dalam setahun dengan 15.000-17.000 ibu yang melahirkan dan meninggal dunia dalam setahun, sehingga ada dua ibu melahirkan yang meninggal dalam setiap jam.

"15.000-17.000 ibu hamil yang melahirkan itu umumnya meninggal dunia akibat komplikasi kehamilan, persalinan, nifas, dan faktor lain," kata Sekretaris Jenderal PP IBI Tuminah Wiratnoko di Jakarta, Kamis.

Berdasarkan Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) 2007 disebutkan bahwa Angka Kematian Ibu (AKI) Indonesia masih berada pada posisi 228/100.000 kelahiran hidup.

Sementara itu, Angka Kelahiran Bayi (AKB) sebesar 34/1000 kelahiran hidup. Jumlah kematian Ibu menurut provinsi di Indonesia diperkirakan mencapai 11.534 pada 2010.

"Dari seluruh provinsi di Indonesia, Jawa Barat menduduki tempat pertama untuk jumlah kematian ibu, menyusul Jawa Tengah, NTT, Banten dan Jawa Timur ," sebutnya.

Bila melihat target MDG5 pada 2015 AKI, lanjutnya, di Indonesia mencapai 102/100.000 kelahiran hidup, dikhawatirkan target penurunan angka kematian dan meningkatkan kesehatan/kesejahteraan ibu itu sulit dicapai.

"Perlu ada terobosan guna percepatan penurunan AKI dan AKB di Indonesia. Tentunya AKI berdampak negatif bagi kesejahteraan keluarga dan masyarakat di kemudian hari," papar Tuminah Ia mengemukakan faktor utama penyebab tingginya AKI melahirkan di Indonesia tidak hanya seperti perdarahan, infeksi, atau pre eklamsi, tetapi faktor lain atau tidak langsung berkontribusi besar dalam meningkatkan risiko kematian ibu.

Perempuan Indonesia kata dia, masih belum memiliki otonomi yang memadai terhadap dirinya, terutama dalam kesehatan reproduksinya. Fakta menunjukkan adanya keterbatasan perempuan dalam mengakses pelayanan kesehatan.

"Faktor pendukung seperti kemiskinan, kondisi struktur geografis, penyebaran penduduk yang tidak merata, sosial ekonomi yang rendah, serta praktik budaya yang menghambat dan ketidaksetaraan gender," ungkapnya.

Kemiskinan menurut dia, menyebabkan ibu hamil tidak mendapatkan asupan gizi yang layak menunjang kehamilannya, kemudian kawin muda, aborsi, diskriminasi serta beban ganda yang dipikul turut berpengaruh pada kesehatan ibu.

"Kurangnya sosialisasi tentang pentingnya alat reproduksi perempuan, masalah kemiskinan, jangkauan tenaga medis dan bidan diwilayah terpencil serta masalah lainnya menjadi tingginya AKI di Indonesia," tambahnya.(ant/hrb)

Editor : herry barus (herrybarus@yahoo.com.au)

BAGIKAN