Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Suasana kegiatan belajar mengajar yang digelar secara tatap muka di SMP Negeri 2 Bekasi, Kota Bekasi, Jawa Barat, Selasa (23/03/2021).  Foto ilustrasi: BeritaSatuPhoto/Joanito De Saojoao

Suasana kegiatan belajar mengajar yang digelar secara tatap muka di SMP Negeri 2 Bekasi, Kota Bekasi, Jawa Barat, Selasa (23/03/2021). Foto ilustrasi: BeritaSatuPhoto/Joanito De Saojoao

Epidemiolog: Anak Berisiko Rendah Tertular Covid-19

Sabtu, 3 April 2021 | 07:42 WIB
Natasia Christy Wahyuni

JAKARTA, investor.id  – Epidemiolog dari Centre for Environmental and Population Health Griffith University, Australia, Dicky Budiman, mengatakan data di dunia menunjukkan risiko penularan Covid-19 kepada anak terbilang rendah. Dicky menyebut kasus infeksi pada anak terjadi 1 diantara 9 kasus.

Angka kematian pada anak adalah 1diantara 3.500 kasus dibandingkan dengan orang dewasa 1 diantara 60 kasus, sedangkan jumlah anak yang dirawat karena Covid-19 pada tingkat global sebesar 2%.

“Dari sini kita lihat bahwa anak pada posisi low risk, risiko rendah atau moderat terhadap dampak Covid-19, namun bukan berarti kita mengabaikan atau menganggap anak itu aman dalam situasi pandemi,” kata Dicky saat dihubungi Beritasatu.com, Jumat (2/4/2021).

Hal itu disampaikan Dicky terkait kekhawatiran akan munculnya klaster-klaster Covid-19 di sekolah karena pembelajaran tatap muka. Dicky mengatakan strategi pengamanan di sekolah harus dipastikan kuat dan dipatuhi secara konsisten.

Menurutnya, kemunculan klaster Covid-19 di sekolah bukan serta merta disebabkan varian baru B117, melainkan lemahnya penerapan strategi pengamanan untuk protokol kesehatan.

“Misalnya, kasus dimana maskertidak konsisten dipakai. Kapasitas kelas tidak sesuai prinsip social physical distancing,” kata Dicky.

Dicky mengatakan sekolah perlu melakukan evaluasi secara berkala atas proses pembelajaran tatap muka setidaknya setiap dua minggu. Salah satunya, mekanisme tracing jika ternyata ditemukan kasus positif di sekolah. Menurutnya, minimal ditemukan dua kasus dalam satu kelas maka sekolah harus ditutup selama 2 minggu.

“Bahkan jika di satu daerah terjadi 1/3 dari sekolah ditemukan ada 2 kasus seharusnya sekolah-sekolah di satu kota itu tutup dulu selama 2 minggu. Ini untuk review, testing yang memadai,” kata Dicky.

Sebelumnya, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Anwar Makarim mengatakan riset dan data secara global menyatakan anak memiliki kerentanan lebih rendah terhadap infeksi dibandingkan orang dewasa. Anak juga memiliki kemungkinan lebih kecil untuk menularkan infeksi jika dibandingkan orang dewasa.

“Infeksi pada anak (di bawah umumr 18 tahun) secara umum bergejala ringan,” kata Nadiem dalam paparannya saat pengumuman SKB 4 Menteri tentang Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran di Masa Pandemi, Selasa (30/3/2021).

Nadiem menambahkan kelompok usia 3-18 tahun memiliki tingkat kematian karena Covid-19 lebih rendah. Itu artinya, peserta didik rentang PAUD, pendidikan dasar dan menengah berada pada rentang usia tersebut.

“Dalam upaya akselerasi pembelajaran tatap muka, pendidik dan tenaga kependidikan adalah pihak utama yang membutuhkan perlindungan,” ujar Nadiem merujuk vaksinasi pada guru.   

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : BeritaSatu.com

BAGIKAN