Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Menag Fachrul Razi. Sumber: BSTV

Menag Fachrul Razi. Sumber: BSTV

Hari Santri, Menag Ingatkan Pesantren Tidak Jadi Klaster Covid-19

Jumat, 23 Oktober 2020 | 05:32 WIB
Imam Suhartadi (imam.suhartadi@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – Menteri Agama (Menag) Fachrul Razi mengingatkan agar entitas pondok pesantren tidak menjadi klaster Covid-19 dengan meningkatkan kewaspadaan di masing-masing pesantren.

Untuk itu, Menag meminta pondok pesantren lebih meningkatkan kewaspadaan terhadap serangan Covid-19. Hampir setahun sejak wabah corona, pesantren menjadi salah satu titik rawan penyebaran virus ini.

"Pesantren adalah entitas yang sangat rentan persebaran Covid-19. Maka kewaspadaan harus selalu ditingkatkan," kata Fachrul dalam keterangan tertulisnya pada peringatan Hari Santri yang diterima di Jakarta, Kamis (22/10).

Peringatan Hari Santri tahun ini jatuh pada tanggal 22 Oktober, mengacu pada Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015 tentang Hari Santri. Tanggal itu diambil dari peristiwa tercetusnya

"Resolusi Jihad" dari Pesantren Tebuireng, Jombang pada 22 Oktober 1945.

Menurut Menag, keterbatasan fasilitas dan sarana kesehatan adalah titik lemah yang dapat menjadi pintu masuk penularan virus di pesantren.

Pola interaksi dan komunikasi yang intens di dalam pesantren juga menjadi kebiasaan yang tidak menguntungkan bagi pertahanan terhadap wabah ini.

"Saya yakin, jika santri dan keluarga besar pesantren mampu melampaui pandemi ini dengan baik, insya Allah negara kita juga akan sehat dan kuat," katanya.

Untuk membantu pesantren meningkatkan layanan kesehatan, Kementerian Agama melalui Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren telah mengucurkan bantuan operasional pesantren sebesar Rp 2,4 triliun.

Meski angka tersebut belum sebanding dengan jumlah pesantren yang mencapai 28.900 di seluruh Indonesia, Fachrul berharap bantuan itu dapat meringankan beban pesantren.

Terkait dengan peringatan Hari Santri yang digelar di tengah pandemi, Menag menyampaikan penghargaan kepada para kiai dan santri pondok pesantren atas jasa-jasanya memperjuangkan kemerdekaan dan membangun bangsa ini.

"Jangan pernah lelah untuk berkontribusi untuk negeri ini. Saya percaya, selama santri pondok pesantren terus berdedikasi demi bangsa, selama itu pula negara tercinta ini akan aman dan sentosa," katanya.

Imam Besar Masjid Istiqlal, Nasaruddin Umar, mengajak komunitas santri untuk proaktif untuk melawan Covid-19. Dalam hal ini, santri dapat melawan Covid-19 dengan berbagai cara seperti banyak berdoa dan menjadi contoh masyarakat untuk melakukan protokol kesehatan masyarakat.

"Jadi kalau santri pernah melakukan komando jihad mengusir Belanda, maka komunitas santri ini harus tampil untuk mengusir virus corona ini," kata Nasaruddin, di Jakarta, Kamis (22/10).

Selain santri, Nasaruddin juga mengajak masyarakat untuk tidak pasrah pada situasi saat ini. Menurutnya, seluruh penyakit yang ada selalu ada obatnya. Maka, pandemi Covid-19 yang terjadi saat ini, masyarakat tidak boleh berdiam diri, tetapi tetap selalu berikhtiar untuk mencegah dan mengobati.

"Pasalnya, virus ataupun penyakit telah ada dalam sejak zaman nabi. Untuk itu, masyarakat diharapkan menyikapi wabah dengan mematuhi protokol kesehatan dan tetap berdoa untuk kesembuhan," tandasnya.

Jaga Persatuan

Ketua DPR RI Puan Maharani. Foto: IST
Ketua DPR RI Puan Maharani. Foto: IST

Ketua DPR RI Puan Maharani berharap peringatan Hari Santri menjadi momentum untuk terus menjaga persatuan dan menguatkan gotong royong dalam menghadapi berbagai tantangan saat ini dan masa depan.

Dia mengatakan Hari Santri adalah wujud penghormatan atas jasa para santri dalam perjuangan meraih kemerdekaan.

“Semoga keteladanan para santri dan jihad cinta Tanah Air menjadi semangat yang nyalakan cita-cita kita untuk terus gotong royong membangun Indonesia,” kata Puan dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (22/10).

Dia mengatakan, peringatan Hari Santri yang ditetapkan melalui Keppres Nomor 22 Tahun 2015 didasari pada fatwa Resolusi Jihad untuk mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.

Menurut dia, Resolusi Jihad merupakan fatwa yang dicetuskan KH Hasyim Asy’ari bersama kiai-kiai lainnya untuk merespons pertanyaan Presiden Sukarno mengenai hokum membela Tanah Air.

“Semangat ini harus kita kuatkan kembali, yakni kebersamaan menghadapi pandemiCovid-19. DPR RI berharap para santri mau dan mampu berperan sebagai agen perubahan," ujarnya.

Puan meminta semua elemen masyarakat harus bergotong royong untuk dapat menghadapi pandemi Covid-19, termasuk di dalamnya adalah para santri yang menjadi elemen penting menjaga nilai-nilai gotong royong menghadapi persoalan tersebut.

Dia menegaskan bahwa DPR RI berkomitmen mendukung pesantren melalui fungsi dan tugasnya, salah satu produk legislasi yang diharapkan dapat mendukung jalannya proses pendidikan di pesantren adalah Undang-Undang tentang Pesantren dan pemerintah didorong segera menerbitkan aturan turunan undang-undang tersebut.

Menteri Agama Fachrul Razi mengingatkan entitas pondokpesantren agar bersiap mengadaptasi secara cepat implementasi Undang-Undang Nomor 18 tahun 2019 tentang Pesantren.

Fachrul mengatakan saat ini Peraturan Menteri Agama (PMA) tentang pelaksanaan beleid UU18/2019 telah melalui uji publik. Uji publik Perpres tentang ponpes juga hampir selesau, sehingga Menag mengingatkan kesiapan pesantren.

"Undang-undang ini memberikan afirmasi, rekognisi dan fasilitasi terhadap pesantren dalam melaksanakan fungsi pendidikan, dakwah dan pemberdayaan masyarakat," kata Menag .

Secara umum, dua peraturan turunan UU18/2019 itu mengamanatkan pesantren menjadi resmi sebagai lembaga pendidikan formal yang diakui ijazahnya, sebagaimana jenjang pendidikan umum. Hal ini tentunya akan menimbulkan konsekuensi berupa penyiapan sumber daya, pembiayaan dan lain-lain. (b1/ant)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN