Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Presiden Jokowi bersama Prabowo naik MRT. Foto: BeritasatuPhoto /Joanito De Saojoao

Presiden Jokowi bersama Prabowo naik MRT. Foto: BeritasatuPhoto /Joanito De Saojoao

Hindari Polarisasi, Jokpro Dorong Jokowi-Prabowo di Pilpres 2024

Senin, 21 Juni 2021 | 04:47 WIB
Imam Suhartadi (imam.suhartadi@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Sekjen Sekretariat Nasional Jokowi-Prabowo (Jokpro) 2024, Timothy Ivan Triyono, menyampaikan salah satu alasan dirinya mendukung gerakan mendukung majunya kembali Jokowi untuk periode ketiga adalah rasa khawatir polarisasi ekstrem yang mungkin terjadi di Pilpres 2024.

Untuk menghindari kemungkinan tersebut, dirinya mendukung agar Jokowi-Prabowo (Jokpro) maju berpasangan pada Pemilu 2024.

“Pak Joko Widodo atau Jokowi harus 3 periode. Kita semua bertemu, ada satu titik bahwa Pak Jokowi harus berpasangan dengan Pak Prabowo. Ini untuk mencegah polarisasi ekstrem,” kata Timothy, dalam halal bihalal pentolan Seknas Jokpro 2024, di Jakarta, Sabtu (19/6).

Sekjen Sekretariat Nasional Jokowi-Prabowo (Jokpro) 2024, Timothy Ivan Triyono
Sekjen Sekretariat Nasional Jokowi-Prabowo (Jokpro) 2024, Timothy Ivan Triyono

Menurutnya, sangat perlusekali ada gerakan untuk mencegah polarisasi ekstrem dimaksud. Selain itu, dia berpendapat ada bahaya lainnya jika_ Jokowi tidak tiga periode.

“Sebab pembangunan yang sudah berjalan ini bisa berhenti. Kalau tak dilanjutkan, nanti kayak slogan Pertamina, pembangunan akan dimulai dari nol lagi,” ulas Timothy.

Penasihat Jokpro 2024 yang juga Direktur Eksekutif Indo Barometer, M Qodari, mengatakan, acara Sabtu ini (19/6) belumlah deklarasi Jokpro. Dia pun mengaku, bukanlahpenggagas gerakan itu.

“Yang punya gagasan ini adalah rakyat Indonesia, idenya ada di kepala banyak orang Indonesia. Itu yang saya yakini,” kata Qodari di Jakarta, Sabtu (19/6).

Pendapat bahwa Jokowi- Prabowo sebaiknya didukung untuk 2024 bukan saja dipikirkan oleh dirinya. Buktinya, Qodari mengaku awalnya tak mengenal para aktivis Seknas Jokpro.

Beberapa relawan Jokpro juga tak terlalu dikenal di lingkungan kelompok relawan Jokowi yang ada saat ini.

Qodari mengaku hanya mempertemukan para relawan dan kelompok masyarakat yang selama ini berdiskusi di whatsapp grup dalam Seknas Jokpro tersebut.

“Sebab yang pasti kita ingin Indonesia ke depan itu aman, damai, sejahtera,” kata Qodari.

Ketua Umum Jokpro 2024, Baron Danardono, mengatakan, pihaknya disatukan cara berpikir dan cara pandangan bersama yang ingin Indonesia ke depan lebih baik. Agar menjadi lebih baik, harus ada keamanan dan kedamaian.

“Saya tak mau banyak bicara. Kami hanya berharap kerja kita bersama dan doa dari kitasemua. Insya Allah 4-5 bulan lagi kita akan lakukan deklarasiketika kepengurusan kita ada di 34 provinsi dan minimum 300 kabupaten kota. Mohon doa restunya,” kata Baron.

Sebelumnya Qodari mengatakan, Presiden Jokowi dinilai tidak bisa menolak bila Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) memintanya kembali maju sebagai calon presiden (capres) dalam pemilihan presiden (Pilpres) 2024.

Ketika ditanyakan mengenai sikap Jokowi yang tidak ingin maju lagi di tahun 2024, Qodari mengungkapkan kemungkinan akan terjadi perubahan sikap dari mantan Gubernur DKI Jakarta ini.

Dua Periode

Berdasarkan hasil survei yang dilakukan Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) menunjukkan mayoritas rakyat Indonesia ingin masa jabatan presiden selama dua periode tetap dipertahankan. Artinya, hasil survei ini mematahkan wacana yang dihembuskan akhir-akhir ini terkait masa jabatan presiden tiga periode.

Peneliti sekaligus Direktur Komunikasi SMRC Ade Armando mengatakan, mayoritas warga Indonesia menganggap ketetapan bahwa presiden hanya bisa menjabat dua periode seperti yang termuat dalam UUD 1945 harus dipertahankan.

“Sekitar 74% warga menghendaki agar ketetapan tentang masa jabatan presiden hanya dua kali harus dipertahankan. Yang ingin masa jabatan Presiden diubah hanya 13%, dan yang tidak punya sikap 13%,” kata Ade Armando dalam webinar peluncuran hasil survei nasional SMRC bertajuk “Sikap Publik Nasional terhadap Amandemen Presidensialisme dan DPD” yang dilakukan secara daring, Minggu (20/6).

Menurut Ade, temuan ini menunjukkan narasi yang diusung kelompok-kelompok tertentu agar Presiden Jokowi bisa kembali bertarung dalam Pilpres2024 dengan mengubah ketetapan UUD 1945 yang membatasi masa jabatan presiden ditolak oleh mayoritas warga Indonesia.

Walaupun dukungan terhadap Jokowi tinggi, namun hampir 75% warga menyatakan tidak perlu ada perubahan dalam pembatasan masa jabatan presiden.

“Ini menunjukkan adanya komitmen yang tinggi dari rakyat Indonesia mengenai perlunya pembatasan kekuasaan bagi seorang presiden,” ujar Ade Armando.

Ade menekankan survei SMRC ini juga menunjukkan bahwa 68,2% warga menganggap Pancasila dan UUD 1945 adalah rumusan terbaik dan tidak boleh diubah.

Selain itu, sekitar 15% warga menganggap, walaupun Pancasila dan UUD 1945 mungkin mengandung kekurangan, namun sejauh ini keduanya paling tepat bagi kehidupan Indonesia yang lebih baik.

Ade mengatakan sekitar 52,9% warga menyatakan tidak setuju Jokowi maju kembali dalam_Pilpres 2024. Sementara, warga yang setuju ada 40,2%.

“Memang dukungan terhadap gagasan untuk mencalonkan Jokowi kembali sebagai presiden nampak cukup tinggi, yakni sekitar 40%,” kata Ade.

Namun, lanjut Ade, tetap persentase itu lebih rendah secara signifikan dibandingkan mereka yang menganggap Jokowi cukup menjabat dua kali yang mencapai 53%.

Ade menjelaskan, survei nasional SMRC tersebut dilakukan pada 21-28 Mei 2021. Penelitian melalui wawancara tatap muka ini melibatkan 1072 responden yang dipilih melalui metode penarikan sampel random bertingkat (multistage random sampling). Margin of error_penelitian sekitar 3,05%. (b1/ant)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN