Menu
Sign in
@ Contact
Search
Mantan Direktur Utama Krakatau Steel, Fazwar Bujang. (Foto: Dok. Kejaksaan Agung)

Mantan Direktur Utama Krakatau Steel, Fazwar Bujang. (Foto: Dok. Kejaksaan Agung)

Kejagung Tetapkan Mantan Dirut Krakatau Steel Tersangka Korupsi

Senin, 18 Juli 2022 | 22:18 WIB
Muhammad Aulia (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id – Kejaksaan Agung (Kejagung) menetapkan lima tersangka kasus dugaan korupsi proyek pembangunan pabrik Blast Furnace oleh PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) pada tahun 2011. Salah satu tersangkanya diketahui merupakan bekas Direktur Utama Krakatau Steel, Fazwar Bujang.

"Direktorat penyidikan Jampidsus telah menetapkan lima orang tersangka," kata Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Kejagung, Ketut Sumedana dalam keterangannya, Senin (18/7/2022).

Selain Fazwar Bujang, Kejagung juga menetapkan empat orang lainnya sebagai tersangka yakni berinisial ASS selaku Direktur Utama PT Krakatau Engineering periode 2005 sampai 2010, BP selaku Direktur Utama PT Krakatau Engineering periode 2012 sampai 2015, HW alias RH selaku Ketua Tim Persiapan dan Implementasi Proyek Blast Furnace tahun 2011, dan MR selaku Project Manager PT Krakatau Engineering periode 2013 sampai 2016.

Demi mempercepat proses penyidikan, para tersangka dilakukan penahanan untuk 20 hari ke depan terhitung sejak 18 Juli 2022 sampai 6 Agustus 2022. Fazwar Bujang menjadi tahanan kota, ASS dan MR ditahan di Rutan Salemba cabang Kejagung. Sementara BP dan HW ditahan di Rutan Kelas 1 Jakarta Pusat Salemba.

Ketut menjelaskan konstruksi perkara yang menjerat Fazwar Bujang dan kawan-kawan.

Dikatakan Ketut, pada 2011-2019, PT Krakatau Steel (Persero) melakukan pengadaan pembangunan Pabrik Blast Furnace Complex yaitu pabrik yang melakukan proses produksi besi cair atau hot metal dengan menggunakan bahan bakar batu bara (kokas). Pembangunan pabrik itu bertujuan memajukan industri baja nasional dengan biaya produksi yang lebih murah karena dengan menggunakan bahan bakar gas, maka biaya produksi lebih mahal.

Direksi PT Krakatau Steel tahun 2007 lantas menyetujui proyek pembangunan pabrik BFC berbahan bakar batu bara dengan kapasitas 1,2 juta ton/tahun hot metal.

"Nilai kontrak pembangunan pabrik Blast Furnace PT KS dengan sistem turnkey (terima jadi) sesuai dengan kontrak awal Rp 4,7 triliun hingga addendum ke-4 membengkak menjadi Rp 6,9 triliun. Kontraktor pemenang dan pelaksana yaitu MCC CERI konsorsium dengan PT Krakatau Engineering," ungkap Ketut.

Namun, dalam pelaksanaan perencanaan, tender/lelang, kontrak, dan pelaksanaan pembangunan, telah terjadi penyimpangan. Proyek pabrik tersebut saat ini mangkrak karena tidak layak dan tidak dapat dimanfaatkan dan terdapat pekerjaan yang belum selesai dikerjakan.

"Akibatnya, diduga mengakibatkan kerugian negara sebesar nilai kontrak Rp 6,9 triliun," kata Ketut.

Atas perbuatannya, para tersangka dijerat dengan Pasal 2 ayat (1) dan Pasal 3 juncto Pasal 18 UU Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : BeritaSatu.com

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com