Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Presiden Jokowi meninjau pelaksanaan vaksinasi massal Covid-19 di Stadion Pakansari, Bogor, Jawa Barat, Kamis, 17 Juni 2021

Presiden Jokowi meninjau pelaksanaan vaksinasi massal Covid-19 di Stadion Pakansari, Bogor, Jawa Barat, Kamis, 17 Juni 2021

Kemenkes: Varian Delta Plus Belum Teridentifikasi di Indonesia

Sabtu, 19 Juni 2021 | 16:37 WIB
Maria Fatima Bona

Jakarta - Munculnya varian Delta atau dikenal dengan B1617  dan Delta Plus atau K417N  telah meresahkan publik. Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kementerian Kesehatan (Kemkes), Siti Nadia Tarmizi mengatakan, hingga saat ini varian yang sudah dideteksi di Indonesia adalah B1617. Sedangkan untuk Delta Plus mutasi pada protein K417N belum ditemukan. “Hanya B1617 yang  sudah kita identifikasi,” kata Nadia saat dihubungi Beritasatu.com,  Sabtu (19/6/2021).

Nadia menyebutkan, untuk mendeteksi varian baru,  pemeriksaan  sampel  menggunakan Whole Genome Sequencing (WGS). Namun,  sifatnya monitor sehingga  bentuknya surveilans bukan pemeriksaan rutin.

Untuk mengatasi mutasi varian baru, Nadia mengimbau masyarakat untuk patuh terhadap protokol kesehatan (prokes). Selain itu, pemerintah  fokus  pada deteksi dini kasus melalui 3T yaitu testing, tracing, dan treatment. Kemudian,  mempercepat vaksinasi. 

Nadia menyebutkan, hingga  saat ini  vaksin Sinovac, Astrazeneca, ataupun Sinopharm masih efektif untuk mengatasi varian baru.  Apalagi  hingga saat ini belum ada obat khusus untuk mengatasi Covid-19.

“Kita tahu sampai sekarang ini Covid-19 belum ada obatnya.  Jadi pengobatan yang diberikan adalah lebih pada menangani gejala yang ditimbulkan,” paparnya.

Masih menurut Nadia, varian  baru atau mutasi virus  sebetulnya sudah banyak terjadi, karena sejatinya  virus  mengalami mutasi.  Akan tetapi, sejauh ini  World Health Organization (WHO) memasukan 2 kategori, yakni variant of interest (VOI) atau mutasi yang perlu diamati dan variant of consent (VOC) atau mutasi yang benar-benar harus secara hati-hati ditindaklanjuti.

“Kalau varian Delta menyebabkan penularan, kalau Delta Plus ini baru informasi dari negara India saja. Jadi  kita tunggu rekomendasi lebih lanjut setidaknya dari WHO,” ujarnya.

Editor : Fajar Widhi (fajar_widhi@investor.co.id)

Sumber : BeritaSatu.com

BAGIKAN