Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Periksa Logistik Pemilukada

Periksa Logistik Pemilukada

PEMILU SERENTAK 2020

Milenial Adalah Pemilih Cerdas untuk Perubahan

Selasa, 10 November 2020 | 16:43 WIB
Kunradus Aliandu (kunradus@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Direktur Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik (Dirjen IKP) Kemkominfo Prof Widodo Muktiyo mengatakan, mahasiswa adalah pemilih yang sehat dan cerdas, sehingga mereka harus menunjukkan perannya dalam Pemilu Serentak 2020.“Mahasiswa jangan menganggap tidak punya peran untuk perubahan,” kata Dirjen IKP Kemkominfo Prof Widodo Muktiyo dalam seminar daring bertema 'Memilih Pemimpin Ideal di Mata Milenial' yang dilakukan dalam rangka sosialisasi pemilihan serentak 2020, Selasa (10/11/2020).

Menurutnya, mahasiswa sebagai golongan intelektual harus mampu memberikan edukasi, baik kepada lingkungan terkecil keluarganya, masyarakat maupun lingkungan yang lebih luas lagi. Edukasi dalam kaitannya Pemilihan Serentak 2020 ini antara lain menyebarluaskan pemahaman dalam alam demokrasi tentang pemimpin terpilih adalah cerminan rakyat. “Tipe pemimpin ideal adalah tipe harapan yang bisa menampung aspirasi masyarakat, terutama dari kelompok milenial,” kata Widodo dihadapan lebih dari 100 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi yang hadir dalam seminar daring.

Lebih lanjut, ia berharap agar kelompok milenial dengan pemerintah bersama-sama melawan hoaks yang belakangan ini marak beredar di media sosial (medsos). Ia melihat ancaman baru keutuhan Indonesia saat ini adalah propaganda yang terjadi di medsos.Widodo menyampaikan bahwa saat ini data pengguna internet mencapai 175 juta (64%) dan akses medsos 160 juta (59%). “Ini kekuatan baru yang menjadi harapan sekaligus ancaman,” kata dia.

Internet maupun medsos, lanjut dia, mampu mempengaruhi pikiran manusia (opini) secara massal, dalam waktu singkat, dengan biaya yang murah. Meski demikian, hal tersebut bisa sekaligus menjadi ancaman berupa provokasi, agitasi, ataupun propaganda.

Ada banyak cara yang dilakukan pemerintah dalam menangani ancaman di medsos mulai dari penegakan hukum sampai edukasi publik. Adapun literasi digital berupa edukasi dan pemberian wawasan kepada masyarakat terkait pemanfaatan internet dan medsos.“Milenial harus melawan hoaks. Mahasiswa bisa menjadi direktur medianya sendiri. Mahasiswa adalah bagian dari masyarakat yang bisa memproduksi konten, mengkonsumsi, dan mendistribusikannya,” kata Widodo.

Pada kesempatan yang sama Peneliti Perludem Bidang Partisipasi Kaum Muda dan Teknologi Pemilu Nurul Amelia mengatakan, ada beberapa pandangan milenial tentang pemimpin yang ideal, antara lain milenial cenderung menolak pemimpin tunggal, anti pemimpin yang berlatarbelakang kasus korupsi dan kekerasan seksual. “Milenial suka pemimpin yang komunikatif di medsos,” kata dia.

Hal senada diungkapkan Akademisi UIN Syarif Hidayatullah Ismail Cawidu. Menurutnya bukan alasan lagi bagi milenial untuk tidak mengenal calon kepala daerah. “Itu alasan kuno, karena sekarang dengan mudah kita bisa mencari tahu siapa calon yang akan dipilih melalui medos,” ujarnya.

Editor : Kunradus Aliandu (kunradu@investor.co.id)

Sumber : PR

BAGIKAN