Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Varian Omicron. Foto ilustrasi: Istimewa

Varian Omicron. Foto ilustrasi: Istimewa

PAEI Dukung Peniadaan Larangan Negara dengan Masa Karantina Tidak Dikurangi

Minggu, 16 Januari 2022 | 10:50 WIB
Hendro Situmorang

JAKARTA, investor.id  - Kepala Bidang Pengembangan Profesi Perhimpunan Ahli Epidemiolog Indonesia (PAEI) Masdalina Pane mendukung langkah Satgas Penanganan Covid-19 mencabut dan meniadakan daftar 14 negara yang dilarang masuk ke Indonesia karena varian Omicron. Tetapi ia tidak setuju adanya pengurangan masa karantina karena cukup berbahaya.

"Saya setuju dan mendukung karena Omicron sendiri sudah menyebar ke lebih dari 150 negara. Jadi sudah tak relevan lagi kalau ada pelarangan warga negara lain ingin masuk," katanya ketika dihubungi Beritasatu.com, Sabtu (15/1/2022).

Menurutnya, saat ini ke-14 negara tersebut, khususnya Afrika sudah mengalami penurunan kasus dan hal itu sudah sejalan riwayat alamiahnya. Jadi variant of concern dengan intervensi tertentu seperti isolasi, karantina, pembatasan mobilitas, intervensi public health, normalnya akan turun sendiri.

"Kalau varian Delta antara 8-14 minggu. Sementara Omicron lebih cepat yakni 6-8 minggu sudah turun, tergantung kondisi di setiap negara," jelasnya.

Tetapi Masdalina tidak setuju adanya pengurangan masa karantina karena cukup berbahaya. Masa inkubasi sampai hari ini penetapan WHO masih 2-14 hari. Namun memang ada beberapa jurnal dari 1-2 peneliti yang menyatakan masa inkubasi Omicron lebih rendah.

"Tetapi seharusnya hal itu tidak jadi standar karena hasil tersebut temuan mereka sendiri. Jadi tidak tepat pemerintah menyatakan perubahan masa karantina disebabkan karena dinamisasi dari Covid itu sendiri, padahal tidak seperti itu sebenarnya," ungkap Pane.

Menurutnya, Covid-19 ini sejak awal ada hingga hari ini, masa inkubasinya masih sama, gejala relatif masih sama meski kumpulan gejala tidak semua orang memiliki gejala tertentu. Paling lazim yakni demam, batuk, nyeri otot dan diare. Tetapi ada juga yang tak timbulkan gejala sama sekali.

"Jadi sampai hari ini tak berubah apapun variannya, lebih dari 35 gejala yang khas maupun tidak. Jadi sebenarnya tak tepat bila dikatakan perubahan Covid-19 nya sendiri," pungkasnya. 

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : BeritaSatu.com

BAGIKAN