Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Laksana Tri Handoko dalam diskusi bertajuk Indonesian Space Agency Pasca Pembentukan BRIN, Senin (17/5/2021).

Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Laksana Tri Handoko dalam diskusi bertajuk Indonesian Space Agency Pasca Pembentukan BRIN, Senin (17/5/2021).

Soal Iklim Riset di Indonesia, Ini Penjelasan Kepala BRIN

Sabtu, 26 Maret 2022 | 16:35 WIB
Fatima Bona (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id  – Pengembangan riset di Tanah Air menjadi tanggung jawab dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Pertanyaan soal kondusivitas iklim riset Indonesia setelah dikelola oleh BRIN pun mengemuka.

Merespons pertanyaan tersebut, Kepala BRIN Laksana Tri Handoko mengatakan, salah satu tujuan  pembentukan BRIN untuk memperkuat ekosistem riset dan inovasi di Indonesia. Pasalnya, selama ini seluruh pelaku pemangku aktivitas riset di Indonesia selalu mengeluhkan banyak masalah dan kekurangan. Ujungnya  critical mass  cenderung rendah dibanding sumber daya meliputi manusia, infrastruktur, dan anggaran riset.

“Maksudnya secara total cukup besar, tetapi karena di-ecer-ecer di terlalu banyak pelaku, sehingga semua kekurangan dan tidak memiliki kapasitas dan kompetensi untuk berkompetisi secara global. Padahal riset adalah aktivitas yang sifatnya universal dan standarnya harus global,” ujar Laksana saat dihubungi Beritasatu.com, Sabtu (26/3/2022).

Ia menuturkan bahwa setelah pembentukan BRIN dan apalagi pasca selesainya konsolidasi sumber daya riset pemerintah pada tahun 2021 lalu, saat ini BRIN memiliki sumber daya yang cukup besar, tidak hanya untuk memfasilitasi periset BRIN, tetapi juga untuk memfasilitasi periset di Tanah Air. “Ke depan kami yakin ekosistem riset dan inovasi nasional akan semakin baik dengan cepat,” ucapnya.

Meski begitu, Laksana menyebutkan ada 2 masalah fundamental dalam penataan iklim riset di Indonesia, di antaranya; Pertama, dominasi pemerintah yang terlalu besar, yakni 80% sumber daya dan aktivitas riset dikuasai pemerintah. Padahal secara global, sesuai standar UNESCO, pemerintah hanya berkontribusi 20% dan sisanya adalah non-pemerintah yakni industri dan berbagai pihak non-pemerintah  lain.

Kedua, sumber daya yang dikuasai pemerintah tersebar di terlalu banyak institusi. Menurut Laksana, sebelum adanya BRIN ada di 74 lembaga dan kementerian (K/L), sehingga semua terlalu kecil dan critical mass sumber daya dan aktivitas risetnya sangat rendah.

Sementara terkait dengan kualitas SDM, Laksana menuturkan SDM unggul merupakan sumber daya utama dalam aktivitas riset, jauh lebih besar daripada infrastruktur maupun anggaran riset.

Sayangnya saat ini kondisi SDM riset Indonesia secara umum masih relatif rendah kualitasnya, meskipun secara jumlah sudah cukup memadai yaitu hanya sekitar 15% saja yang berkualifikasi S3. “Untuk itulah salah satu program utama BRIN untuk memperbaiki ekosistem riset dan inovasi adalah memastikan pembentukan talenta riset dan inovasi masa depan Indonesia melalui program Manajemen Talenta Nasional bidang Riset dan Inovasi,” paparnya.

Peluang Periset Asing

Terkait dengan peran  periset asing, Laksana menuturkan, untuk mempercepat perbaikan kualitas periset dalam negeri,  BRIN justru sangat membutuhkan periset asing. “Karena proses edukasi dan pengembangan talenta riset hanya bisa dilakukan melalui proses learning by doing, yaitu berbasis aktivitas riset itu sendiri,” ujarnya.

Oleh karena itu, lanjut dia, di dalam program Manajemen Talenta Nasional (MTN) bidang R&I, ada 2 skema yang dibuka untuk semua periset, baik warga negara Indonesia (WNI) maupun warga negara asing (WNA) melalui skema pasca-doktoral dan profesor tamu. “Yang penting adalah risetnya harus dilakukan di Indonesia dan bersama dengan kelompok riset di Indonesia,” tukasnya.

Laksana juga menuturkan, dari sisi peraturan perundangan terkait peneliti asing, BRIN telah memperbaiki mekanisme izin peneliti asing agar lebih mudah, sederhana dan terbuka, tetapi justru semakin memastikan bahwa para periset asing melaksanakan aktivitas riset sesuai regulasi dan memastikan kepentingan nasional.

Sementara terkait regulasi BRIN, Laksana menjelaskan bahwa secara regulasi pembentukan BRIN sudah dipayungi dengan UU 11/2019 tentang Sistem Nasional Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dan secara kelembagaan juga dilengkapi dengan Perpres 78/2022  tentang Tentang Badan Riset dan Inovasi Nasional beserta regulasi turunannya, sehingga posisi sudah cukup kuat dan memadai.

“Untuk regulasi pendukung ekosistem riset dan inovasi juga sudah sangat memadai karena telah diperkuat sejumlah regulasi mengikuti praktek terbaik di negara lain.  Kita sudah memiliki semua insentif yang ada di negara lain,” ucapnya.

Skema pendanaan, Laksana menuturkan, hal terpenting sebenarnya bukan hanya jumlah total pendanaan, tetapi bagaimana dapat membelanjakan pendanaan yang ada. Dikatakannya, dengan berbagai skema yang telah dilansir saat ini, hampir semua aktivitas riset yang dilakukan periset dari berbagai institusi sudah dapat didukung dengan baik.

“Justru fokus kami saat ini pada bagaimana mengedukasi komunitas periset di Indonesia agar dapat menyesuaikan mindset dan standar agar dapat memanfaatkan berbagai skema yang sudah disediakan BRIN dengan baik,” ucapnya.

Laksana juga menuturkan saat ini jenis skema fasilitas riset  yang menjadi  fokus BRIN di antaranya;  riset mendukung prioritas riset  nasional, riset penanganan Covid-19, pusat kolaborasi riset,  hari layar yakni aktivitas riset di atas kapal riset,  pengujian produk inovasi  kesehatan mulai  dari uji praklinis, uji klinis dan uji alat kesehatan.

Kemudian, pengujian produk inovasi pertanian meliputi bibit unggul, tanaman dan ternak. Lalu, perusahaan pemula berbasis riset, akuisisi  pengetahuan lokal, dan ekspedisi eksplorasi.

Editor : Frans (ftagawai@gmail.com)

Sumber : BeritaSatu.com

BAGIKAN