Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Pengaruh Sistem Pembayaran terhadap Kebijakan Perdagangan

Selasa, 10 Januari 2017 | 15:15 WIB
Oleh Achmad Deni Daruri

Sistem pembayaran diabaikan dalam teori perdagangan seperti comparative advantage. Dalam sebuah model Ricardian, negara mengkhususkan dalam memproduksi apa yang paling baik untuk diproduksi. Tidak seperti model lainnya, rangka kerja model ini memprediksi di mana negara-negara akan menjadi spesialis secara penuh dibandingkan memproduksi bermacam barang komoditas. Juga, model Ricardian tidak secara langsung memasukkan faktor pendukung, seperti jumlah relatif dari buruh dan modal dalam negara.

Perdagangan bebas biasanya didukung oleh sebagian besar negara yang berekonomi kuat, walaupun mereka kadang-kadang melakukan proteksi selektif terhadap industri-industri strategis, seperti proteksi tarif untuk agrikultur yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Eropa. Belanda dan Inggris Raya, keduanya juga mendukung penuh perdagangan bebas, di mana mereka juga dominan secara ekonomis. Sekarang, Amerika Serikat, Inggris, Australia dan Jepang merupakan pendukung terbesarnya.

Banyak negara lain (seperti India, Rusia, dan Tiongkok) menjadi pendukung perdagangan bebas karena telah menjadi negara dengan perekonomian yang kuat. Ketika tingkat tarif turun, ada juga keinginan untuk menegosiasikan usaha non tarif, termasuk investasi asing langsung, pembelian, dan fasilitasi perdagangan. Wujud lain dari biaya transaksi perdagangan dihubungkan dengan prosedur cukai. Umumnya, dalam perdagangan bebas, proteksi tetap diberlakukan terhadap sektor agrikultur dan manufaktur.

Namun, kondisi telah berubah dalam beberapa tahun terakhir. Faktanya, Amerika Serikat, Eropa dan Jepang telah menjadi berperan besar atau penentu dalam pembuatan peraturan atau perjanjian internasional yang memungkinkan proteksi lebih terhadap agrikultur dibandingkan barang dan jasa lainnya.

Sistem pembayaran dapat bias terhadap industri padat modal atau padat karya, seperti yang dijelaskan oleh Teori Heckscgher dan Ohlin. Model Heckscgher-Ohlin dibuat sebagai alternatif dari model Ricardian dan dasar kelebihan komparatif. Mengesampingkan kompleksitasnya yang jauh lebih rumit, model ini tidak membuktikan prediksi yang lebih akurat. Dari sebuah titik pandang teoritis, model tersebut tidak memberikan solusi yang elegan dengan memakai mekanisme harga neoklasikal ke dalam teori perdagangan internasional.

Teori ini berpendapat bahwa pola dari perdagangan internasional ditentukan oleh perbedaan dalam faktor pendukung. Model ini memperkirakan negara-negara yang mengekspor barang secara intensif dari faktor pemenuh kebutuhan dan akan mengimpor barang yang menggunakan faktor lokal yang langka secara intensif.

Masalah empiris dari model ini, dikenal sebagai Pradoks Leotief, yang dibuka dalam uji empiris oleh Wassily Leontief yang menemukan bahwa Amerika Serikat lebih cenderung untuk mengekspor barang padat karya dibanding barang padat modal. Dengan demikian, sistem pembayaran dari produk ekspor Amerika Serikat berorientasi padat modal.

Lain halnya dengan Taiwan yan merancang sistem pembayarannya berdasarkan kondisi faktor produksi. Dalam model ini, mobilitas buruh antara industri satu dan yang lain sangatlah mungkin ketika modal tidak bergerak antarindustri pada satu masa yang pendek. Faktor spesifik merujuk ke pemberian, yaitu dalam faktor spesifik jangka pendek dari produksi, seperti modal fisik, tidak secara mudah dipindahkan antarindustri.

Sebagai tambahan, pemilik dari faktor produksi spesifik yang berlawanan (seperti buruh dan modal), cenderung memiliki agenda bertolak belakang ketika melobi untuk pengendalian atas imigrasi buruh. Hubungan sebaliknya, kedua pemilik modal dan buruh dalam kenyataannya meningkatkan pemenuhan modal.

Model ini ideal untuk industri tertentu. Model ini cocok untuk memahami distribusi pendapatan tetapi tidak untuk menentukan pola pedagangan. Namun, terbukti Taiwan mampu berjaya dalam perdagangan internasionalnya.

Sementara itu, Korea Selatan mengembangkan sistem pembayaran dengan menyandarkan kepada model gravitasi. Model gravitasi perdagangan menyajikan sebuah analisis yang lebih empiris dari pola perdagangan dibanding model yang lebih teoritis di atas. Model gravitasi pada bentuk dasarnya menerka perdagangan berdasarkan jarak antarnegara dan interaksi antarnegara dalam ukuran ekonominya. Model ini meniru hukum gravitasi Newton yang juga memperhitungkan jarak dan ukuran fisik di antara dua benda. Model ini telah terbukti menjadi kuat secara empiris oleh analisis ekonometri. Faktor lain seperti tingkat pendapatan, hubungan diplomatik, dan kebijakan perdagangan juga dimasukkan dalam versi yang lebih besar dari model ini. Korea Selatan juga berhasil dalam perdagangan internasionalnya.

Di tingkat regulasi kerja sama perdagangan, sistem pembayaran justru sering tidak diatur. Regulasi dari perdagangan internasional diselesaikan melalui World Trade Organization pada level global, dan melalui beberapa kesepakatan regional seperti MerCOSUR di Amerika Selatan, NAFTA antara Amerika Serikat, Kanada dan Meksiko, dan Uni Eropa antara 27 negara mandiri. Sistem pembayaran secara langsung maupun tak langsung juga ditentukan oleh kebijakan perdagangan.


Achmad Deni Daruri, President Director Center for Banking Crisis

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

BAGIKAN