Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Paulus Mujiran. Foto: youtube

Paulus Mujiran. Foto: youtube

Modal Sosial Menghadapi Covid-19

Sabtu, 14 Maret 2020 | 12:16 WIB
Paulus Mujiran *)

Indonesia menjadi salah satu negara di dunia yang ikut terjangkit Virus Korona baru atau Covid-19. Yang terpenting sekarang, kita harus kompak menghadapi pandemi global ini.

Kepanikan sebenarnya sudah dimulai semenjak virus ini menyebar dari Wuhan, Tiongkok ke seluruh dunia. Di Indonesia juga sudah ditemukan kasus positif Covid-19. Dalam semangat yang sama Indonesia harus berbenah nyata karena dampak Covid-19 pasti sangat serius terutama terhadap roda perekonomian.

WHO pun sudah menetapkan penyebaran Covid-19 sebagai pandemi global, yang berarti membutuhkan kerja sama bangsa-bangsa di dunia untuk memecahkannya. Sebagai wabah, di samping menghadirkan rasa pilu dan kesedihan, menjadi ajang menumbuhkembangkan empati dan solidaritas sosial. Kita bersyukur di banyak negara aksi solidaritas menyelamatkan korban terasa menyengat. Di Wuhan, Tiongkok semangat menyelamatkan korban begitu luar biasa. Hasilnya, pertambahan kasus tidak signifikan dan banyak pasien menjadi sembuh.

Di tengah wabah kita menyaksikan tumbuhnya tunas-tunas solidaritas. Aksi solidaritas itu tampak dalam beragam aksi kemanusiaan, mulai dari mengalirnya dukungan sosial terhadap mereka yang menjadi korban, selain kesungguhan pemerintah mengatasi masalah ini.

Meski kita tidak tahu kapan wabah ini akan berakhir, ada kabar baik bahwa sebagian besar pasien bisa sembuh.

Manusia membutuhkan solidaritas kemanusiaan dan kebersamaan dalam menghadapi tantangan dan memecahkan masalah yang dihadapi sepanjang hidupnya. Dalam wabah global seperti sekarang ini, yang muncul bukan sekadar panggilan tugas. Sebagai nilai dasar kesejahteraan sosial, solidaritas perlu terus direvitalisasi sesuai dengan konsep kemanusiaan yang berkembang. Pierre Bourdieu (1986), dalam bukunya The Forms of Capital membedakan tiga bentuk modal, yakni modal ekonomi, modal budaya, dan modal sosial. Dia mendefinisikan modal sosial sebagai “the aggregate of the actual or potential resources which are linked to possession of a durable network of more or less institutionalized relationships of mutual acquaintance and recognition”.

Jiwa dan semangat kesetiakawanan sosial terus teruji dalam beragam peristiwa sejarah, termasuk dalam situasi pandemi yang menelan banyak korban.

Sebagai bangsa besar dan menjunjung tinggi solidaritas kita mempunyai pengalaman mengatasi beragam musibah besar. Sebut saja tsunami Aceh, gempa Yogya, gempa Lombok, aksi kekerasan di Papua dan Sampit. Musibah seperti demam berdarah, malaria yang merenggut banyak korban juga kita alami. Dalam pandemi apapun selalu ada jalan untuk keluar dari kesulitan.

Mestinya belajar dari musibah dan tragedi pilu di masa lalu ini kita juga mampu melampui wabah Covid-19 ini dengan baik. Solidaritas sosial pada masa lalu telah berfungsi dengan sangat baik pada pelbagai musibah di Tanah Air. Solidaritas sosial telah merekatkan persatuan dan melepaskan status siapa kawan dan siapa lawan. Yang menarik, Covid-19 jangan dipandang sebagai ancaman yang tidak teratasi. Waspada tetapi tidak panik. Siaga tetapi tetap fokus.

Di masa lalu aneka cobaan di tengah perbedaan pandangan politik sekalipun seakan meluruh ketika dihadapkan persoalan kemanusiaan. Solidaritas sosial berfungsi sebagai jaring pengaman sosial pada saat berbagai kesulitan hidup mendera. Solidaritas sosial membutuhkan hubungan personal dan individual yang terus diasah dalam aneka tantangan kehidupan. Putnam dalam buku Bowling Alone (1983), modal sosial adalah bagian dari kehidupan sosial, jaringan, norma, dan kepercayaan yang mendorong partisipan bertindak bersama secara lebih efektif untuk mencapai tujuantujuan bersama.

Gagasan inti dari modal sosial adalah bahwa jaringan sosial memiliki nilai, kontak sosial mempengaruhi produktivitas individu dan kelompok.

Solidaritas sosial berperan sangat penting dalam menjaga kohesi antarwarga dan menjadi alat kontrol sosial. Dalam hidup bersama sebagai warga, solidaritas sosial seperti minyak pelumas dalam menjaga hubungan yang harmonis antarindividu dalam masyarakat. Inti dari solidaritas sosial adalah kepercayaan. Kepercayaan memungkinkan masyarakat tersebut bekerja sama, baik itu dalam mencapai tujuan, atau menghadapi ancaman bersama yang datang dari luar atau dari dalam.

Wabah Covid-19 memang menghancurkan kehidupan bagi yang menjadi korban bahkan tak kuasa melawan. Hadirnya solidaritas sosial adalah kekuatan sekaligus pengharapan. Hadirnya wabah adalah ingatan kesadaran kolektif bahwa melakukan sekecil apapun aksi untuk mereka yang menjadi korban dirasa relevan.

Perbuatan sekecil apapun sangat berarti bagi orang yang membutuhkan. Termasuk tidak menyalahkan mereka yang menjadi korban. Kita hadapi wabah ini dengan kepala tegak bahwa bangsa ini mampu melampui kesulitan. Semua harus diajak untuk menghadapi kenyataan bahwa musibah sudah di depan mata dan siapapun dapat kena.

Tidak ada alasan saling menyalahkan karena sejatinya kita adalah makhluk sosial yang selalu solider pada orang lain. Dengan demikian solidaritas sesama sejatinya merupakan modal sosial mujarab menghadapi musibah global ini. Modal sosial adalah modal dahsyat bangsa ini untuk bangkit dari keterpurukan. Wabah Covid-19 boleh datang beribu-ribu kali tetapi kekuatan menghadapi dengan solidaritas kemanusiaan melebihi ganasnya penularan.

Meminjam istilah George McTurman Kahin (1977), jika kita memiliki semangat perjuangan seperti halnya para pahlawan membela kemerdekaan, niscaya kita akan berhasil melampaui semua masalah. Bahkan dalam tragedi kemanusiaan yang pelik sekalipun.

Wabah memang berwatak bengis namun pada saat yang sama melahirkan energi untuk menolong sesama. Solidaritas sebagaimana dalam Pancasila sila kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, terbukti menjadi kekuatan bangsa ini menghadapi situasi dan cobaan yang pelik. Dengan cara itu kita semakin berkembang dan berakar dalam solidaritas sebagai anak bangsa.

*) Ketua Pelaksana Yayasan Kesejahteraan Keluarga Soegijapranata Semarang

‚Äč

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN