Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Paulus Mujiran. Foto: youtube

Paulus Mujiran. Foto: youtube

Menjaga Muruah Kemerdekaan

Minggu, 16 Agustus 2020 | 04:31 WIB
Paulus Mujiran *)

Sudah 75 tahun kita merdeka, namun kita masih harus memperjuangkan banyak hal untuk mewujudkan cita-cita kemerdekaan. Pada hakikatnya kemerdekaan tidak hanya terletak pada utuhnya kedaulatan NKRI, tapi juga pada semangat patriotisme untuk membela bangsa dan negara. Semangat seperti inilah yang dibutuhkan ketika bibit-bibit perpecahan mulai muncul sebagai dampak negatif konflik sektarian, separatisme, intoleransi, resesi ekonomi, dan praktik politik yang lebih mementingkan kelompok. 

Dengan begitu peringatan hari kemerdekaan bukan lagi sekadar seremonial yang dirayakan setiap tahun, melainkan juga menumbuhkan pergerakan untuk bersatu memajukan bangsa Indonesia. Hari kemerdekaan adalah undangan sekaligus tantangan partisipasi macam apakah yang telah kita berikan untuk kemajuan bangsa ini. Hari kemerdekaan bukanlah ritual yang bisu, melainkan suatu dorongan besar agar mengisi dan melestarikan kemerdekaan itu dengan aksi nyata.

Tugas anak bangsa saat ini adalah memberi makna baru kemerdekaan dalam mengisi kemerdekaan sesuai dengan perkembangan zaman. Saat memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan, rakyat_ telah mengorbankan nyawanya. Mereka juga meninggalkan segala yang mereka miliki: keluarga, har ta benda, kekayaan dunia, kenyamanan dan kenikmatan, untuk angkat senjata mengusir penjajah. Tetesan darah dan keringat telah membasahi Bumi Pertiwi selama lebih dari tiga setengah abad.

Dalam mengisi kemerdekaan pun dituntut utuk menyerupai pahlawan. Pahlawan dalam arti keberanian dan patriotisme membela bangsa dan negara. Bukankah arti pahlawan itu adalah orang yang menonjol karena_ keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran? Bukankah makna pahlawan itu adalah pejuang gagah berani? Karena itu peringatan kemerdekaan juga harus berwajah kekinian, aktual dan dapat dihayati oleh semua komponen bangsa.

Pertama, memaknai kembali makna kemerdekaan harus dengan tindakan nyata. Aksi itu adalah bagian dari mewujudkan nasionalisme dan semangat kebangsaan. Dewasa ini kepahlawanan harus diberi model yang baru sesuai dengan tuntutan dan perkembangan zaman.Dengan begitu gema nasionalisme dan kecintaan pada bangsa dan negara tetap melekat dalam semua komponen bangsa.

Kedua, harus ada upaya menanamkan jiwa dan semangat kepahlawanan kepada generasi muda. Jangan sampai mereka kagum hanya pada tokoh-tokoh dalam film kartun dan tidak pada jasa-jasa para pahlawan yang telah gugur pada pembela bangsa.

Perlu ada sosialisasi keteladanan melalui para tokoh bangsa untuk meneruskan semangat kejuangan bangsa. Meneladani pahlawan _ pejuang kemerdekaan adalah melakukanperbuatan atau kegiatan yang memiliki manfaat baik bagi dirikita maupun bagi sesama.

Pada masa lampau sejarah panjang itutelah secara nyata dimulai, antaralain dengan lahirnya Budi Utomo Surabaya, 20 Mei 1908, Sarekat Islam Surabaya, 1912, IndischePartij Bandung, 1912, Perhimpunan Indonesia di negeri Belanda, 1922, hingga lahirnya PNI 1927. Dalam barisan panjang bangsaini, patut kita catat juga kehadiran dan ikut ser tanya berbagai gerakan seperti Jong Java 1918, juga lahirnya Jong Sumatra, Jong Celebes, Jong Ambon, Pemuda Indonesia Bandung, 1927, yang kemudian mencapai puncaknya dengan lahirnya Sumpah Pemuda 1928.

Bagian-bagian lainnya yang tidak bisa dilupakan juga adalah kelahiran Parindra, Gerindo, Partindo, PusatTenaga Rakyat 1943, yang dipimpin oleh 4 serangkai Soekarno-Hatta-Ki Hadjar Dewantara-Kyai Haji MasMansur, kelahiran Pembela Tanah Air (PETA) tahun 1943, dan Barisan Pelopor 1944, yang dipimpin oleh Soekarno. Gerakan itu mencapai puncaknya pada 17 Agustus 1945 ketika bangsa ini memproklamasikan kemerdekaan.

Untuk sekarang setidaknya ada empat nilai atau karakter kepahlawanan pejuang kemerdekaan yang perlu diwarisi oleh seluruh elemen bangsa ini.

Pertama, keberanian yang dapat diwarisi dalam mengisi kemerdekaan adalah keberanian dalam memperjuangkan kebenaran dan keadilan. Di tengah ganasnya virus korupsi diperlukan sikap yang bukan sekadar ikut arus tetapi berani berdiri di depan dan menentang segala bentuk kejahatan terutama korupsi.

Manakala kebenaran telah dilanggar dan prinsip-prinsip keadilan tidak lagi ditegakkan, pada saat itulah keberanian untuk meluruskan semua penyimpangan muncul ke permukaan. Keberanian untuk menegakkan kebenaran dan keadilan ini tentu memerlukan sikap yang konsisten dan mental baja. Itulah pahlawan-pahlawan baru yang kita rindukan.

Kedua, kepeloporan diperlukan untuk mengubah keberanian menjadi aksi, tindakan, atau karya nyata. Kepeloporan ditandai oleh adanya keinginan kuat untuk selalu tampil menjadi pendahulu, perintis, pembuka, atau pemukul gong bagi sebuah tindakan. Itu membutuhkan kepeloporan dan keberanian serta tidak pantang menyerah. Kepeloporansekaligus pula memperlihatkan sebuah karakter dinamis untuk selalu berubah ke arah yang lebih baik.

Ketiga, kerelaan berkorban merupakan karakter utama yang harus dimiliki bangsa ini. Kerelaan berkorban merupakan sebuah perilaku yang ditandai oleh adanya keikhlasan hati untuk memberikan yang terbaik bagi kepentingan bangsa dan negara, betapa pun hal itu harus dilakukan dengan meminta pengorbanan yang besar, termasuk pengorbanan harta benda, bahkan nyawa sekalipun, dengan tanpa mengharapkan balasan atau imbalan atas apa yang telah diperbuatnya.

Keempat, perilaku unggul dan terpuji lainnya yang dimiliki para pahlawan yang perlu diwarisi dan diteladani adalah kepedulian dankeberpihakan terhadap nasib rakyat. Kepedulian dan keberpihakan terhadap nasib rakyat inisekaligus pula dapat dipahami sebagai kepedulian terhadap nasib bangsa dan negara. Itulah jati diri sekaligus faktor kuat yang mampu menolong bangsa ini dari jerembab kehancuran dan bangsa gagal.

Merayakan kemerdekaan sejatinya adalah mengembalikan muruah (kehormatan diri) pendahulu bangsa yang telah berjuang merebut dan memerdekakan Indonesia dengan proklamasi.

Semangat itulah yang kini kita perlukan dalam menjaga bangsa ini.  Semangat yang sama diperlukan oleh para penerus pergerakan di zaman sekarang agar berani bergerak dan terus melangkah menuju masadepan Indonesia yang jaya. Usia kemerdekaan yang ke-75 bukanlah usia yang pendek dalam mengisi dan mempertahankan kemerdekaan.

Oleh karena itu dibutuhkan rasa syukur apalagi di tengah bangsa yang dilanda pandemi Covid-19 ini memerlukan kesabaran, ketekunan dan bersatu padu sebagai bangsa untuk menghadapinya. Saatnya kemerdekaan kita isi dalam bentuk yangnyata pada masa pandemi ini: jaga jarak, hindari kerumuman, memakai masker, peduli sesama, tidak menyebarkan kabar bohong adalah sikap dalam rangka mengisi kemerdekaan.

Pendek kata, perlu ada pemaknaan baru atau revitalisasi semangat kemerdekaan. Tidak hanya berhenti pada simbol, seremoni, melainkan harus ada gerakan yang mengakar mengajak semua komponen bangsa bergerak maju menuju kemerdekaan sejati. Dirgahayu Republik Indonesia ke-75.

*) Ketua Pelaksana Yayasan Kesejahteraan Keluarga Soegijapranata Semarang, di Semarang

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN