Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Paulus Mujiran. Foto: youtube

Paulus Mujiran. Foto: youtube

Film Tilik dan Stereotip Perempuan

Minggu, 6 September 2020 | 07:50 WIB
Paulus Mujiran *)

Jagad maya Tanah Air kembali dihebohkan dengan hadirnya film pendek berjudul Tilik yang menggambarkan para perempuan perkasa dari pedesaan hendak menengok panutan mereka, Bu Lurah yang mondok di rumah sakit. Dalam perjalanan menuju kota dengan naik truk –angkutan yang biasa dipakai penduduk desa karena murah-- mereka memperbincangkan sosok Dian, kembang desa yang tiba-tiba menjadi “bintang”.

Adalah sosok Bu Tejo yang tampil sebagai provokator sehingga diskusi di atas bak truk itu demikian hidup. Film Tilik cepat menjadi viral karena menggambarkan situasi masyarakat, khususnya sebagian perempuan, kalau berkumpul tidak jauh jauh dari gibah atau gosip. Meski menggambarkan situasi kehidupan masyarakat, film ini rentan dituding stereotip dan misogini alias kebencian terhadap perempuan.

Dalam film ini perempuan tak hanya menjadi karakter yang dominan, akan tetapi juga direpresentasikan secara beragam. Memang terdapat laki-laki sosok Gotrek, sopir truk, tetapi berada pada pihak yang “kalah” apalagi ketika menerima uang tutup mulut dari Bu Tejo.

Gotrek pun berusaha mencuri-curi dengar gosip apa yang tengah dibicarakan para perempuan. Meminjam pendapat Richard Dyer (1977) dalam Irawanto (2020), stereotip merupakan tipe sosial yang menarik batas tegas, jelas, baku dan muskil diubah. Gambaran tentang seseorang buah dari proses mengumpulkan informasi dan memosisikan dalam tatanan tipifikasi tertentu.

Selebihnya, stereotip melakukan pereduksian terhadap karakter seseorang dengan melebih-lebihkan simplikasi. Tilik memang melebih-lebihkan karakter Bu Tejo untuk memancing kelucuan, tapi lantas melakukan simplifikasi.

Sosok Dian yang berani meninggalkan desa dan bekerja di kota lantas menjadi orang sukses, tak mereka lihat sisi baiknya. Padahal, Dian bisa jadi mewakili perempuan mandiri yang berani melawan arus, mengadu nasib di kota dan sukses. Sosok Lurah perempuan, sayangnya tak muncul sepanjang film berlangsung.

Padahal diskusi sepanjang perjalanan tak lepas dari sosok Bu Lurah ini. Di masyarakat patriarkhi kemunculan perempuan dalam jabatan publik terbilang langka. Namun yang kerap mengemuka justru gosip dan humor rendahan.

Ini membuktikan perempuan yang meniti karier dan berada di puncak tangga menghadapi ancaman serius juga dari kaumnya sendiri. Dalam titik ini muncullah diskriminasi ketimpangan gender, yakni diskriminasi yang dibangun para perempuan sehingga merugikan kaumnya sendiri.

Padahal, sistem patriarkhi hingga kini masih menjadi salah satu norma sosial yang diikuti masyarakat. Di samping menjadi pola pikir masyarakat dan tindak tanduk dalam hidup bersama, sistem ini kerap membelenggu relasi perempuan dan laki-laki.

Tak aneh posisi perempuan sebagai pihak yang mudah disalahkan/dikambinghitamkan. Cara pandang yang bias gender setidaknya tampak dalam karakter Bu Tejo yang merasa Pak Tejo lebih pantas menjadi Lurah ketimbang Bu Lurah yang kini sedang sakit. Bahkan digambarkan tengah sakit parah dan dirawat di ICU.

Cara berpikir bahwa perempuan adalah makhluk yang harus selalu baik justru mengungkung kaum perempuan dalam dunia dan paradigma sempit. Atau sebaliknya mudah dijadikan rumor murahan, justru membuat dunia perempuan kian terbelenggu.

Atas nama rating kalau di televisi atau atas nama viral di media sosial, perempuan justru dikorbankan. Cara berpikir itu juga menggiring masyarakat pada penilaian jika perilaku kurang baik itu penyebabnya adalah perempuan. Bahwa yang tidak pernah disadari kebanyakan orang, ketimpangan gender juga dibuat oleh mereka sendiri.

Tentu saja cara berpikir seperti ini harus diakhiri. Masyarakat perlu diajak menyadari untuk berpikir dan bertindak yang lebih menghargai perempuan. Tentu kita harus maklum juga film ini tidak ditujukan memotret perempuan. Film ini hadir semata-mata sebagai hiburan dan memancing kelucuan.

Selain itu, seyogianya masyarakat tidak menjadikan kasus ini menjadi kesempatan “mem-bully” perempuan karena bisa jadi perempuan itu adalah orang tua kita, anak-anak kita, istri dan sahabat kita semua. Justru dengan mem-bully, perempuanlah yang berada dalam posisi dirugikan.

Karena diangkat dalam film dan mudah diakses di media sosial, suka atau tidak film ini akan membentuk persepsi masyarakat. Sosok Bu Tejo dalam sekejap melambung menjadi idola. Nama itu kini banyak diperbincangkan. Termasuk dijadikan konten dalam iklan di media sosial. Dan diam-diam meniru perilaku Bu Tejo dalam interaksi keseharian masyarakat.

Pertanyaan kritisnya, apakah tidak ada cara lain untuk membuat viral? Bahkan dewasa ini kita harus bijak mengelola informasi secara bijak. Bukan sekadar yang mengundang tawa dan membangkitkan rasa senang. Kita juga berharap film Tilik tidak secara sengaja dipergunakan untuk mendiskreditkan perempuan.

Di tengah penatnya kita menghadapi krisis akibat pandemi, apapun yang dilempar ke publik yang menjadikan dunia digital sebagai pelarian semu apapun dengan cepat menjadi viral. Tilik adalah contohnya.

Ia hadir dalam masyarakat latah yang ditandai dengan cepat menjadi besar namun dengan cepat pula gembos.

Semoga masyarakat tidak belajar dari kelemahan film ini, di mana perempuan mereproduksi, menyebarkan berita bohong mengenai sosok Dian. Masyarakat seharusnya lebih cerdas dan bijak menggunakan masalah ini untuk lebih menghargai dan menghormati martabat kaum perempuan.

*) Pemerhati gender, Alumnus Pascasarjana Undip Semarang

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN