Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Paulus Mujiran. Foto: youtube

Paulus Mujiran. Foto: youtube

Kesiapan Sekolah Membuka Pembelajaran Tatap Muka

Minggu, 6 Desember 2020 | 04:33 WIB
Paulus Mujiran *)

Masa pandemi merupakan masa krisis bagi siswa dan guru. Jika pandemi ini berlangsung lama dapat berakibat siswa ketinggalan pelajaran, terisolasi dengan teman- teman sebayanya, kecanduan gadget dan konten-konten yang membahayakan anak. Lebih dari itu pandemi ini dapat merusak masa depan anak. Sudah lebih dari 8 bulan siswa/siswi mengalami pembelajaran dari rumah.

Pandemi Covid-19 sudah menimbulkan banyak kesulitan. Baik dari kalangan guru, orang tua dan siswa. Terdapat kendala keterbatasan akses internet, ketersediaan sarana prasarana seperti ponsel canggih sehingga terpaksa dilakukan kunjungan rumah. Risiko terpapar Covid-19 pun menjadi besar terutama di zona merah dengan penularan yang masih masif.

Proses transfer pengetahuan di masa pandemi tidak akan selancar pada situasi normal. Ada sebagian guru yang gagap menggunakan teknologi canggih. Pandemi ini bencana sehingga segala sesuatunya serba darurat. Risiko ketertinggalan materi pembelajaran tetap besar.

Penguasaan terhadap materi dari siswa kurang maksimal. Ini menjadi tantangan tersendiri bagi guru. Meski begitu, upaya guru yang mau berkorban di tengah ancaman Covid-19 harus diapresiasi. Mungkin ada sekolah yang melaksanakan proses pembelajaran secara luring (dengan protokol kesehatan ketat). Sementara yang lain melakukan proses pembelajaran secara daring dengan tetap mengedepankan kepentingan terbaik anak.

Semua itu dijalankan dengan tetap mengedepankan keselamatan dan kesehatan anak. Namun demikian, meski pendidikan di saat pandemi mengalami kendala di sana-sini baik dari siswa maupun guru upaya menjalankan roda pendidikan sangat bermanfaat bagi peserta didik.

Tentu rencana Mendikbud Nadiem Makarim yang mengizinkan sekolah dibuka kembali tanpa memperhatikan zona penyebaran Covid-19 menjadi kabar baik sekaligus kabar mendebarkan. Pembukaan kelas tatap muka dapat mengurangi kebosanan siswa belajar di rumah.

Bagi siswa pembelajaran di masa pandemi ini adalah “neraka” karena tugas dirasakan terlalu banyak. Ada kesan karena pembelajaran tatap muka terhambat maka guru beranggapan memberikan tugas yang banyak adalah solusi agar materi yang banyak terserap secara utuh.

Padahal dengan tugas yang terlalu banyak menyebabkan siswa kehilangan kesempatan bermain, berekreasi bahkan bercengkerama bersama keluarga. Selain itu terdapat kebutuhan adaptasi metode suasana belajar yang baru (terkadang tidak ideal) kerena keterbatasan sarana untuk akses internet. Model pembelajaran ini baru kita kenal selama masa pandemi ini. Tidak semua siswa memiliki akses internet yang memadai.

Siswa yang dalam pembelajaran offline normal berprestasi di sekolah belum tentu mampu mempertahankan prestasinya ketika akses internet tidak lancar. Pembukaan kelas tatap muka menyelamatkan guru yang gagap menggunakan teknologi modern. Mengajar daring dengan tatap muka tentu berbeda. Pada saat normal yang dihadapi adalah para siswa yang langsung bereaksi ketika ada yang kurang jelas.

Pada saat daring reaksi siswa tidak dapat langsung didapat. Guru juga tidak dapat melakukan improvisasi sebagaimana di kelas tatap muka. Orang tua boleh bernafas lega jika dibuka pembelajaran tatap muka karena beban orang tua sebagai guru pengganti di rumah berkurang. Selama ini orang tua harus bekerja, mengurus rumah tangga sekaligus menjadi guru di rumah. Yang banyak terjadi justru uring-uringan.

Tentu menimbulkan ketegangan di sana-sini. Ketika ada soal yang tidak jelas yang ditanya adalah orang tua yang kerap tidak paham untuk memecahkan soalsoal yang ditanyakan. Namun demikian sekolah tatap muka bukan berarti tanpa tantangan.

Pertama, dari segi sarana dan prasarana sekolah perlu menyiapkan sarana prasarana yang diperlukan seperti penyemprotan disinfektan, melengkapi sarana kesehatan seperti memberikan masker, hand sanitizer, pembersih closet wc, sabun cuci tangan, dan peralatan cuci tangan yang higienis.

Kedua, di samping itu terdapat kebutuhan kelas yang lebih banyak karena kelas yang selama ini diisi 30-40 siswa per kelasnya hanya boleh diisi separuhnya untuk tetap menjaga jarak dan menghindari kerumunan. Jam tiap mata pelajaran pun seyogianya tidak sepanjang waktu normal, melainkan maksimal 30 menit sehingga siswa tidak perlu berlama-lama di sekolah.

Ketiga, dibutuhkan lebih banyak petugas di sekolah untuk mengingatkan siswa agar rajin memakai masker, mencuci tangan, menggunakan hand sanitizer, menghindari kerumunan.

Peralatan perbekalan seperti makan minum tidak boleh bertukar satu sama lain. Selain harus terdapat SOP yang jelas, misalnya siswa yang sakit seperti demam tidak boleh masuk sekolah. Keempat, selain itu diizinkan atau tidak siswa mengikuti pembelajaran tatap muka harus dikembalikan kepada orang tua.

Jika orang tua tidak mengizinkan sekolah tidak dapat memaksa karena melanggar hak anak. Sekolah tetap perlu menyediakan pembelajaran online bagi siswa yang tidak bisa datang ke sekolah. Pembukaan pembelajaran tatap muka tetap menghadirkan kekhawatiran jika tidak dikelola dengan bijak. Jangan sampai sekolah menjadi “ladang” penularan Covid-19. ❒

*) Pemerhati pendidikan, tinggal di Semarang

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN