Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pengamat Ekonomi dan Perbankan

Pengamat Ekonomi dan Perbankan

Mendorong Stance Pemulihan Ekonomi Nasional

Senin, 31 Mei 2021 | 08:36 WIB
Ryan Kiryanto *)

Dari perspektif global, terlihat bahwa program vaksinasi harian di sejumlah negara menunjukkan pola yang divergen. Negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Inggris dan Uni Eropa mampu memenuhi standar vaksinasi Covid-19 yang ideal sesuai arahan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Sementara itu, Negara-negara sedang berkembang, termasuk Indonesia, masih berkejaran dengan waktu untuk dapat meningkatkan kuantitas vaksinasi hariannya guna mencapai kekebalan komunal (herd immunity) secepatnya.

Pun demikian dengan Cili, Peru, Turki, Meksiko dan Brazil. Kelompok negara sedang berkembang ini memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap pasokan vaksin Covid-19 buatan Tiongkok. Seperti kita ketahui, Amerika Serikat (AS), Inggris, India dan Tiongkok adalah negara-negara produsen vaksin, baik untuk memenuhi kebutuhan warganya sendiri maupun untuk pemenuhan kebutuhan negara- negara lainnya.

Tepat jika dikatakan gerakan pemulihan ekonomi global menuju pertumbuhan yang berkesinambungan menciptakan divergensi pula, di mana kelompok negara maju membentuk kurva V lancip, sementara di negara-negara sedang berkembang membentuk kurva V tumpul yang mendekati kurva U.

Kesimpulan awalnya, kecepatan program vaksinasi Covid-19 di suatu negara berbanding lurus dengan pembentukan pola pemulihan ekonominya. Semakin cepat program vaksinasi dilakukan dengan kuantitas yang memadai, maka pembentukan pola pertumbuhan ekonomi akan menyerupai kurva V lancip. Sebaliknya, kelambatan dalam program vaksinasi akan menghambat proses pemulihan ekonominya sehingga cenderung membentuk kurva V tumpul.

Beberapa Contoh

Sebagai contoh, pertumbuhan ekonomi (PDB) Tiongkok pada kuartal pertama tahun ini mencapai 18,3% year on year (yoy). Sementara AS mencapai 6,4% secara tahunan pula, lebih baik bila dibandingkan kuartal terakhir tahun lalu yang tercatat sebesar 4,3, juga ini lebih tinggi dari proyeksi sejumlah ekonom.

Di luar lonjakan pertumbuhan pada kuartal III- 2020, kenaikan kuartal I- 2021 merupakan yang terbesar sejak kuartal III-2003. Baik Tiongkok maupun AS mampu memacu program vaksinasi publiknya dengan lebih baik sehingga mampu menormalkan aktivitas ekonomi dan sosial warganya. Ekspor Tiongkok secara tak terduga melonjak pada April 2021, seiring pemulihan cepat ekonomi AS yang men dongkrak permintaan.

Sementara itu produksi di India tersendat, ketika negara itu tengah berjuang menghadapi ledakan kasus virus Covid-19.

Kondisi yang tengah menimpa India mendorong produk-produk buatan Tiongkok membanjiri pasar global. Ekspor Tiongkok dalam mata uang dolar AS melonjak lebih dari 32% dari tahun sebelumnya menjadi hampir US$ 264 miliar.

Pada bulan yang sama, impor Tiongkok juga tumbuh dengan kecepatan tertinggi lebih dari satu dekade, melonjak 43% dari tahun lalu. Meskipun ketegangan perdagangan masih berlangsung dengan AS dan negara-negara lain, namun ekspor Tiongkok untuk bulan April mampu mencetak surplus.

Di AS, perbaikan dari kinerja perekonomian di awal tahun ini sebagian besar didorong oleh konsumsi masyarakat. Bentuk konsumsi tersebut antara lain dengan pembelian mobil, makanan dan minuman serta jasa seperti restoran dan akomodasi. Lonjakan konsumsi tersebut menunjukkan tingkat kepercayaan konsumen yang mulai meningkat seiring dengan proses distribusi vaksin.

Selain itu, diiringi dengan pemberian stimulus oleh pemerintah setempat. Pertumbuhan PDB mulai merang kak tercermin dari aktivitas ekonomi AS yang semakin menggeliat pasca-vaksinasi publik yang melonjak diikuti pelonggaran kebijakan pembatasan fisik dan sosial. Hanya saja, pembukaan kembali bisnis dan pe ningkatan pengeluaran masyarakat juga mendorong harga lebih tinggi.

Departemen Perdagangan AS mencatat inflasi melonjak 3,5% pada periode Januari-Maret 2021. Angka ini melonjak jika dibandingkan dengan kenaikan 1,5% pada kuartal sebelumnya (IV/2020). Bahkan kenaikan ini tidak termasuk harga makanan dan energi yang lebih tidak stabil atau fluktuatif. Indeks harga

untuk pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) naik 2,3%, melampaui target 2% dari The Federal Reserve Bank.

Di zona Euro, dari 27 negara anggotanya, terdapat dua negara, yaitu Prancis dan Spanyol, yang akan memasuki reli pertumbuhan tercepat tahun ini dengan persentase pertumbuhan ma singmasing 5,5% dan 5,6%, setelah mengalami beberapa kontraksi terdalam tahun lalu, dan akan terus menjadi dua negara dengan pertumbuhan tertinggi pada 2022 nanti.

Yang menarik, Jepang sebagai salah satu anggota Negara maju, mengalami pertumbuhan ekonomi yang memburuk pada kuartal I-2021. Pertumbuhan ekonomi Jepang pada kuartal I- 2021 kembali kontraksi karena peluncuran vaksin yang lambat dan kebangkitan Covid-19 menghantam sektor konsumsi. Ekonomi Jepang menyusut 5,1% secara tahunan (yoy) pada kuartal I- 2021, realisasi yang lebih buruk dari perkiraan pasar, dengan ratarata kontraksi 4,6% (yoy).

Di kelompok negara Asean, ekonomi Singapura tumbuh lebih pesat dari perkiraan pemerintah maupun para analis pada kuartal I-2021. Produk domestik bruto (PDB) Singapura tumbuh 1,3% (yoy) pada kuartal pertama tahun ini. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan perkiraan yang sebesar 0,2% (yoy).

Selain itu, juga lebih besar dibandingkan dengan kontraksi yang terjadi pada kuartal IV-2020 sebesar 5,4% (yoy). Di sisi lain, pemerintah Singapura pun tidak mengubah proteksi pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun 2021 di kisaran 4% hingga 6%. Di India, lembaga pemeringkat kredit S&P Global mengatakan gelombang kedua infeksi Covid- 19 di negara tersebut dapat menghambat pemulihan ekonominya.

Selain itu membuat negara lain terpapar gelombang wabah lebih lanjut. Sistem perawatan kesehatan India telah kewalahan, saat Negara terpadat kedua di dunia melaporkan lebih dari 300.000 kasus baru Covid-19 setiap hari se lama enam hari terakhir dan jumlah kematian diperkirakan melebihi 200.000.

Tentu ini merupakan kabar buruk bagi India, mengingat sebelumnya India mampu mencatat pertumbuhan ekonomi 0,4% (yoy) pada kuartal IV- 2020. Itu artinya, India berhasil keluar dari jurang resesi ekonomi akibat pandemi covid-19. India dinilai mampu bangkit setelah penguncian wilayah (lockdown) ketat se lama berbulan-bulan.

Kebijakan lockdown membuat pasar tenaga kerja sempat runtuh dan ekonomi berkontraksi hampir seperempat pada kuartal II- 2020. Resesi yang dialami India pada tahun lalu merupakan yang pertama sejak kemerdekaan Negara ini pada 1947 silam. Pemerintah India memproyeksi PDB India turun 8% (yoy) pada 2020-2021.

Bagaimana Outlook Indonesia?

Morgan Stanley mengubah prediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 4,5% (yoy) pada 2021 ini. Sebelumnya, lembaga sekuritas berbasis di AS ini memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun ini sebesar 6,2%. Namun, rata-rata konsensus yang dihimpun dari consensus economics sebesar 4,4% (yoy).

Pada kuartal I-202, pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat masih negatif 0,7% (yoy). Kemudian pada kuartal kedua prediksi pertumbuhan ekonomi naik ke level 6,5% yoy. Sedangkan pada kuartal III, Morgan Stanley memprediksi pertumbuhan ekonomi turun tipis ke 6,3% (yoy) dan pada kuartal IV-2021 juga turun tipis ke 6,2% (yoy). Narasi “turun tipis” ini menunjukkan bahwa po la pertumbuhan ekonomi Indonesia sedang menuju ke fase normalisasi seperti sebelum masa pandemi.

Sedangkan pada 2022 Morgan Stanley memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 5,4%. Angka itu lebih rendah dari perkiraan sebelumnya yang sebesar 5,5% dengan rata-rata konsensus yang dihimpun dari consensus economics sebesar 5,5%.

Sebelumnya International Monetary Fund (IMF) memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini menjadi 4,3% dari sebelumnya sebesar 4,8%. Keputusan ini berbanding terbalik dengan pandangan IMF atas pertumbuhan ekonomi global yang diperkirakan tumbuh 6%, naik dari proyeksi Januari 2021 sebesar 5,5%.

IMF menegaskan peningkatan proyeksi pertumbuhan global pada tahun ini dan tahun depan digerakkan oleh kelompok negara maju, terutama AS yang diproyeksi tumbuh 6,4% tahun ini. Negara-negara kaya dengan kemampuan fiskal yang kuat sekaligus menjadi produsen vaksin mampu pulih lebih cepat ketimbang negara-negara miskin dengan kebutuhan ratusan juta vaksin impor.

Sepandangan dengan IMF, Asian Development Bank (ADB) juga memperkirakan ekonomi Indonesia akan tumbuh 4,5% pada 2021 dan meningkat menjadi 5% pada 2022. Pemulihan ekonomi Indonesia akan didorong terutama oleh pulihnya sektor manufaktur serta stimulus fiskal melalui program pemulihan ekonomi nasional (PEN) yang besar pada tahun ini.

Meski terjadi krisis yang tak terduga akibat Covid-19, namun Indonesia mampu melewati 2020 dengan baik karena respons kri sis yang dikoordinasikan dan dikomunikasikan dengan baik dan kepemimpinan yang kuat dalam menanggulangi pandemi.

Sementara itu, Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 4,4% tahun 2021. Angka ini tidak berubah dengan proyeksi sebelumnya pada akhir tahun lalu. Bila dibandingkan dengan target pemerintah di APBN 2021 yang sebesar 5%, maka angka proyeksi ADB tersebut pun masih lebih rendah.

Dari sisi pemerintah, terbersit optimisme bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun ini akan jauh lebih baik dibanding tahun lalu. Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Suharso Monoarfa, mengatakan outlook pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun ini diprediksi tumbuh 4-5% dengan titik tengah 4,5%. Angka ini lebih rendah daripada proyeksi pemerintah sebelumnya yang berkisar 4,5-5,3%. Pendorongnya adalah perbaikan harga komoditas di pasar global yang berpotensi memberikan dampak positif terhadap konsumsi, investasi serta pendapatan. Aloksi belanja modal dan proyek infrastruktur yang berlanjut akan membantu peningkatan investasi.

Selain itu, pemulihan ekonomi dunia –termasuk negara-negara mitra dagang utama Indonesia—yang lebih cepat akan mendorong peningkatan kinerja ekspor. Kemudian, industri pengolahan menunjukkan tanda-tanda mulai dapat beradaptasi di tengah tekanan mobilitas selama pandemi.

Ini terlihat dari Purchasing Managers' Index (PMI) Indonesia yang berada di posisi 54 atau telah berada di zona ekspansi. Terakhir, gelombang kedua peningkatan kasus Covid-19 dapat dicegah, sehingga proses vaksinasi dapat berjalan lebih cepat.

Sekali lagi, vaksinasi menjadi game changer utama untuk menopang pemulihan aktivitas ekonomi dan sosial. Sehingga sisi permintaan masyarakat akan meningkat, permintaan kredit untuk semua jenis penggunaan juga melonjak. Pun, kapasitas produksi industri pengolahan akan mencapai batas optimal dibarengi dengan kenaikan permintaan sisi jasa usaha mencakup sektor kesehatan, pendidikan, konsultansi, pariwisata termasuk horeka (hotel, rekreasi dan kafe) yang kembali bergerak menuju titik normal.

*) Ekonom

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN