Menu
Sign in
@ Contact
Search
Nirwono Joga, pengamat Tata Kota. Sumber: BSTV

Nirwono Joga, pengamat Tata Kota. Sumber: BSTV

Jakarta Jangan Pernah Kau Tenggelam

Jumat, 6 Agustus 2021 | 22:18 WIB
Nirwono Joga *) (redaksi@investor.id)

Jakarta tengah menjadi sorotan dunia. Melalui pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden pada 27 Juli 2021, Jakarta diingatkan akan tenggelam 10 tahun ke depan (2030). Laporan analisis Greenpeace tentang dampak perubahan iklim terhadap tujuh kota pantai di Asia pada 28 Juli lalu juga meramalkan Jakarta tenggelam pada 2030.

Laporan Badan Antariksa AS (NASA, 2019) tentang kondisi Jakarta dituliskan bahwa masalah banjir dan pemompaan air ta nah menyebabkan tanah turun. Laporan Verisk Maplecroft (12 Mei) menempatkan Jakarta di peringkat teratas sebagai kota paling rentan krisis iklim di dunia. Dengan kondisi 40% wilayah di bawah permukaan laut, diprediksi Jakarta tenggelam pada 2050.

Peringatan alam telah tampak pada kerusakan di darat dan di laut, disebabkan perbuatan tangan manusia, supaya mereka merasakan sebagian dari perbuatan mereka, agar kembali ke jalan yang benar (Surat Al Baqarah: 11, 60; Surah Al-Maidah: 64, Surat Ar-Rum: 41, Surah Al-Qashash: 77; Surat Asy Syura: 30). Lalu, langkah apa yang harus dilakukan?

Pertama, Sang Khalik menurunkan hujan menurut ukuran/kadar yang diperlukan dan bergiliran, lalu menetap di bumi untuk mencegah banjir dan kekeringan (Surat Al Mu’minun: 18; Surat Al Furqan: 50; Surat Ar Rum: 48; Surat Luqman: 34; Surat Zukruf: 11; Surat Al Jasiyah: 5; Surat Qaf: 11; Surat Al Qamar: 11-12).

Maka, kota harus mampu menampung air sebanyak-banyaknya dan meresapkan air sebesar-besarnyake dalam tanah. Caranya, pemerintah harus meregenerasi sungai, harmonisasi normalisa sinaturalisasi, merevitalisasi danau paparan banjir (situ/danau/embung/ waduk) di kiri-kanan sungai, serta memperluas ruang terbuka hijau (daerah resapan air).

Kedua, sungai adalah alur atau wadah air alami dan/atau buatan berupa jaringan pengaliran air beserta air di dalamnya, mulai dari hulu sampai muara, dengan di batasi kanan dan kiri oleh garis sempadan (PP No 38/2011 tentang Sungai).

Kita harus memuliakan sungai (Surat Al Baqarah: 25; Surat Taha: 76; Surat Al Hajj: 14, 23; Surat Al Furqan: 10; Surat Al Ankabut: 58; Surat Az Zumar: 20; Surat Muhammad: 15; Surat Al Fath: 5; Surat Al Fath: 17; Surat Al Hadid: 12; Surat Al Hasyr: 22; Surat As Saff: 12; Surat At Tagabun: 9). Garis sempadan sungai (GSS) tidak bertanggul di dalam kawasan perkotaan berjarak 10 meter dari tepi kiri dan kanan palung sungai dengan kedalaman sungai kurang dari atau sama dengan 3 meter, sedangkan untuk kedalaman 15 meter adalah 3-20 meter, dan 30 meter adalah lebih dari 20 meter.

Untuk sungai bertanggul minimal berjarak 3 meter dari tepi luar kaki tanggul (Permen PUPR No 28/ PRT/M/2018 tentang Penetapan Garis Sempadan Sungai/GSS dan Garis Sempadan Danau/GSD).

Untuk di luar kawasan perkotaan, GSS besar tidak bertanggul paling sedikit berjarak 100 meter, GSS kecil berjarak paling sedikit 50 meter, serta GSS bertanggul paling sedikit berjarak 5 meter dari tepi kiri-kanan palung sungai sepanjang alur sungai.

Ketiga, air sungai merupakan sumber kehidupan, air berkualitas terbaik berwarna bening/tawar, sedap/lezat rasanya, tiada berubah rasa dan baunya (Surat As Saffat: 45-47; Surat Muhammad: 15; Surat Ad Dahr: 5, 17, 21; Surat Al Mursalat: 27; Surat Al Mutaffifin: 25-27).

Tugas kita membebaskan sungai dari sampah, limbah, hingga buang hajat, agar air sungai bermanfaat. Pemerintah harus mengendalikan tata guna lahan sepanjang sungai; mencegah erosi dan sedimentasi; menjaga kebersihan dan kualitas air; serta melestarikan ekosistem tepian sungai dari hulu ke hilir.

Kawasan resapan mata air sumber air sungai dikonservasi/ direboisasi hutan lindung, merevitalisasi hutan kota, hingga merestorasi hutan mangrove di pesisir.

Keempat, sepanjang sungai di kiri-kanan pada jarak tertentu disediakan danau paparan banjir berupa situ, danau, embung, waduk (SDEW) yakni tempat tampungan air alami yang merupakan bagian dari sungai. Garis sempadan SDEW paling sedikit berjarak 50 meter dari tepi muka air tertinggi yang pernah terjadi dan bebas dari bangunan. Jakarta harus meningkatkan ketahanan air. Pemerintah mengoptimalkan sumber pasokan air berupa air permukaan statis (SDEW), air permukaan dinamis (sungai, kanal), air hujan andalan, air tanah dangkal dan dalam, air laut (proses desalinasi), serta air olahan instalasi pengolahan air limbah berteknologi tepat guna.

Air bersih harus terjamin kualitas, kuantitas, dan kontinuitas ketersediaannya. Ketika pasokan air bersih sudah terpenuhi, maka pemerintah harus melarang pengambilan air tanah.

Kelima, pemerintah harus merestorasi kawasan pesisir pantai yang diperluas selebar 500 meter ke arah daratan dan bebas bangunan. Muara sungai dikembangkan hutan mangrove yang lebar dan rapat memagari tepian pantai hingga menyusup ke jantung kota melalui tepian sungai.

Hutan mangrove berfungsi mencegah banjir rob, mengurangi sedimentasi, menahan abrasi, mencegah intrusi air laut, meredam terjangan tsunami, menetralisasi pencemaran air laut, serta meles tarikan habitat satwa liar.

Kesiapsiagaan Jakarta mengatasi ancaman Jakarta tenggelam merupakan tugas kita menjadi rahmat bagi semesta alam (Surat Al Anbiya’: 107).

*) Koordinator Pusat Studi Perkotaan

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com