Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pengamat Ekonomi dan Perbankan

Pengamat Ekonomi dan Perbankan

Vaksinasi Global dan Harapan Normalisasi Ekonomi

Selasa, 10 Agustus 2021 | 12:33 WIB
Ryan Kiryanto *)

Berbagai kajian lembaga internasional: Dana Moneter Internasional (IMF), Bank Dunia, Bank Pembangunan Asia (ADB) dan Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi Amerika Serikat (OECD) telah mengkonfirmasi bahwa kecepatan normalisasi ekonomi dunia sangat bergantung kepada kecepatan vaksinasi global.

Pemulihan ekonomi global akan terjadi secara tidak merata (uneven recovery) yang antara lain disebabkan oleh perbedaan situasi pandemi Covid-19, kecepatan vaksinasi, dan dukungan stimulus ekonomi. Dengan kata lain, kecepatan normalisasi ekonomi suatu negara sangat bergantung kepada kecepatan vaksinasi di negara tersebut.

Di sini terlihat, secara persentase realisasi vaksinasi terhadap target populasi yang divaksin di negara-negara maju (Amerika Serikat, dan di Eropa) jauh lebih tinggi dibandingkan dengan negara-negara berkembang (Tiongkok), negara-negara sedang berkembang (Asia, Timur Tengah, dan Amerika Latin), serta negara-negara berpendapatan rendah (Afrika).

Kondisi tersebut menciptakan divergensi ekonomi, di mana kelompok negara maju pulih dan tumbuh lebih cepat dibanding kelompok negara sedang berkembang dan terbelakang. Dari kondisi inilah kini menggema suara global agar negara-negara maju, lebih-lebih yang juga menjadi produsen vaksin, untuk membantu memperbanyak distribusi vaksin ke negara-negara sedang berkembang dan terbelakang melalui skema Global Alliance for Vaccine and Immunization (GAVI) maupun melalui aliansi-aliansi internasional lainnya.

Hanya dengan percepatan vaksinasi yang terdistribusi dengan cepat, perekonomian suatu negara, lebih-lebih bagi negara kepulauan seperti Indonesia,  akan dapat segera kembali menuju ke level normalnya. Kini negara-negara di dunia berlomba-lomba mempercepat vaksinasi hariannya supaya kondisi herd immunity (kekebalan kelompok atau komunal) segera terwujud.

Syarat utama perekonomian dapat bergerak kembali normal seperti masa sebelum pandemi Covid-19 adalah ketika kekebalan komunal sudah terbentuk. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menjabarkan kekebalan kelompok sebagai “perlindungan tidak langsung dari penyakit menular yang terjadi ketika suatu populasi kebal, baik melalui vaksinasi atau infeksi sebelumnya”.

Salah satu negara yang berhasil mencapai level kekebalan kelompok adalah Republik Malta. Per Juni 2021 lalu, untuk pertama kalinya dalam 11 bulan terakhir, negara ini melaporkan nol kasus baru virus corona. Salah satu kunci keberhasilan Malta adalah program vaksinasi yang terbilang sukses. Saat ini sudah lebih dari 50% orang dewasa mendapat vaksinasi lengkap, dan sekurangnya 75% sudah mendapat dosis pertama. Alhasil, negara di Uni Eropa ini telah melonggarkan pembatasan yang diterapkan sejak pandemi Covid-19 melanda negara ini.

 

Proyeksi IMF Terkini

Pada proyeksi terbaru, IMF memperkirakan ekonomi dunia akan tumbuh 6% pada 2021 dan 4,9% pada 2022. Sementara ekonomi negara-negara maju diprediksi tumbuh 5,6% pada 2021 dan 4,4% pada 2022. Sedangkan negara-negara berkembang tumbuh 6,3% pada 2021 dan 5,2% pada 2022.

Proyeksi pertumbuhan ekonomi AS sebesar 7% pada 2021 dan 4,9% pada 2022. Para ekonom percaya pertumbuhan ekonomi AS akan terus meningkat karena vaksinasi digenjot dan masyarakat AS yang ingin “keluar rumah” sudah disambut oleh bisnis yang baru dibuka kembali. Aktivitas yang melonjak dari konsumen sebagian didorong oleh dukungan keuangan hampir US$ 3 triliun yang telah disetujui pemerintah sejak Desember 2020.

Alhasil, inflasi atau pertumbuhan Indeks Harga Konsumsi (Consumer Price Index/CPI) di AS secara tahunan mencapai 5,4% pada Juni 2021. Angka ini mencetak rekor tertinggi dalam 13 tahun terakhir. Kenaikan harga kendaraan bekas menyumbang hingga sepertiga dari pertumbuhan CPI pada bulan sebelumnya. Inflasi juga dipengaruhi oleh peningkatan harga kamar hotel, sewa mobil, pakaian jadi, dan tiket pesawat lantaran imbas pemulihan ekonomi.

Ekonomi Kanada diramalkan tumbuh di 6,3% pada 2021 dan 4,5% pada 2022. Di kawasan Eropa, prospek pertumbuhan ekonomi terus berjalan baik dimulai dari akhir 2020 lalu. Negara-negara kawasan Eropa diramal tumbuh 4,6% pada 2021 dan 4,3% pada 2022. Pertumbuhan tertinggi di kawasan Eropa ada di Inggris, yaitu 7% pada 2021 dan 4,8% pada 2022. Menurut IMF, di negara-negara dengan cakupan vaksinasi yang tinggi, seperti Inggris dan Kanada, dampak pandemi akan ringan.

Di jajaran negara berkembang, ekonomi Tiongkok diperkirakan tumbuh 8,1% pada 2021 dan 5,7% pada 2022. Sedangkan India mencapai 9,5% pada 2021, lalu turun ke 8,5% pada 2022.

Berbeda dengan Tiongkok dan India, pertumbuhan ekonomi lima negara Asia Tenggara (Asean-5), yaitu Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Thailand diramal hanya berkisar 4,3% pada 2021 dan akan meningkat ke 6,3% pada 2022. Jelas bahwa arah pergerakan ekonomi negara maju membentuk kurva “V” lancip, sementara negara sedang berkembang dan berpendapatan rendah membentuk kurva “V” tumpul atau tidak lancip.

 

Indonesia Melanjutkan Momentum

Pada proyeksi terkini (Juli 2021), IMF menurunkan perkiraan pertumbuhan ekonomi Indonesia 2021 dari 4,3% menjadi 3,9%. Penurunan proyeksi ini utamanya disebabkan oleh lonjakan kasus Covid-19 di dunia. Sementara itu, realisasi vaksinasi di Indonesia masih terbilang rendah dibandingkan dengan negara-negara lain.

Pandemi Covid-19 masih menjadi faktor terbesar penghambat segala aktivitas ekonomi di banyak negara, termasuk Indonesia.

Dengan demikian untuk ketiga kalinya IMF menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Memang Indonesia tidak sendirian, IMF pun menurunkan angka proyeksi pertumbuhan ekonomi Asean-5, terdiri atas Malaysia, Filipina, Thailand, dan Vietnam, plus Indonesia, dari awalnya 4,9% menjadi 4,3%.

Lagi-lagi penurunan proyeksi dipicu oleh gelombang kedua Covid-19 yang menyebabkan mobilitas dan aktivitas masyarakat terhambat, sehingga pemulihan ekonomi pun melambat. Namun demikian, IMF merevisi ke atas angka proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2022, dari 5,8% menjadi 5,9%. Ini berbanding terbalik dengan arah pertumbuhan ekonomi dunia yang 4,9% pada 2022 dan 6,0% pada 2021 ini.

Menurut IMF, Indonesia bersama India termasuk negara-negara yang tertinggal dalam pelaksanaan vaksinasi. Ini tentu menjadi perhatian ekstra bagi pemerintah Indonesia sebagai anggota Asean-5 maupun G20. Kelemahan berlarut-larut dalam aktivitas ekonomi diperkirakan menimbulkan kerusakan terus menerus pada kapasitas pasokan ekonomi. Maka, vaksinasi yang masif, agresif dan cepat menjadi kunci jawaban supaya herd immunity terbentuk sehingga aktivitas ekonomi terpacu.

Paralel dengan vaksinasi yang digenjot, upaya memutus rantai penularan melalui kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 4 dan diperkuat dengan penambahan anggaran penanganan Covid-19 (termasuk bantuan sosial/bansos) akan menyangga perekonomian dari sisi belanja pemerintah dan konsumsi rumah tangga agar tidak melemah.

Vaksinasi memang merupakan salah satu kebijakan kunci bagi setiap negara untuk mengendalikan pandemi Covid-19. Indonesia sendiri saat ini menargetkan untuk mendorong vaksinasi harian di tingkat 1,5 juta dosis, dan akan terus ditingkatkan secara gradual. Per 27 Juli 2021, total kumulatif vaksin yang telah diberikan pada masyarakat mencapai 63,94 juta dosis. Yang tak kalah penting, pemerintah juga telah memastikan jumlah vaksin tersedia agar percepatan vaksinasi dapat dilaksanakan sesuai target.

Pemerintah harus terus berusaha keras mengejar target vaksinasi kepada 208 juta orang secepatnya. Kehadiran varian Delta yang sangat menular membayangi upaya pengendalian pandemi dan pemulihan ekonomi di banyak negara, termasuk Indonesia. WHO melaporkan varian Delta telah menyebar di 124 negara dan bahkan menjadi varian yang mendominasi di berbagai negara, seperti Indonesia, Inggris, Rusia, Malaysia, Thailand, dan Afrika Selatan.

Selain dari kehadiran varian Delta, Indonesia juga perlu terus waspada terhadap kemungkinan percepatan normalisasi kebijakan moneter AS sebagai implikasi dari pemulihan ekonomi yang cepat, yang dapat mendorong pembalikan arus modal menuju negara tersebut.

 

Catatan Penutup

Pemulihan ekonomi global terus berlanjut, tetapi dengan kesenjangan yang melebar antara negara maju dengan negara sedang berkembang dan negara berpendapatan rendah. Prospek pertumbuhan untuk negara maju membaik sebesar 0,5 poin persentase, tetapi diimbangi dengan revisi ke bawah untuk kelompok negara sedang berkembang dan negara berpendapatan rendah.

Pandemi telah mengurangi pendapatan per kapita di negara maju sebesar 2,8% setahun dan 6,3% setahun untuk negara sedang berkembang (tidak termasuk Tiongkok) dan negara berpendapatan rendah. Menjadi tantangan berat bagi perekonomian negara sedang berkembang dan berpendapatan rendah untuk mengejar capaian vaksinasi untuk mendekatkan levelnya dengan negara-negara maju, sehingga divergensi atau kesenjangan semakin menyempit.

Untuk Indonesia, vaksinasi dosis lengkap yang terdistribusi dengan baik di seluruh wilayah Tanah Air dibarengi dengan kepatuhan terhadap protokol kesehatan (6M dan 3T) yang ketat, akan membuka kembali aktivitas ekonomi sehingga bisa mendukung pertumbuhan pada level 3,9% tahun ini dan 5,9% tahun depan seperti estimasi terkini IMF.

 

*) Ekonom

Editor : Totok Subagyo (totok_hs@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN