Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Joko Tri Haryanto, Peneliti, BKF Kemenkeu

Joko Tri Haryanto, Peneliti, BKF Kemenkeu

Makna Presidensi G20

Minggu, 19 September 2021 | 05:10 WIB
Joko Tri Haryanto *)

Indonesia sekali lagi mendapatkan pengakuan dari dunia internasional dengan terpilih menjadi Presidensi G20 tahun 2022. Tongkat estafet Presidensi G20 secara resmi baru akan diserahkan kepada Indonesia akhir Oktober mendatang di Roma. Namun demikian, segala bentuk penyiapan dan pematangan rencana kerja sudah dimulai jauh hari sebelumnya.

Kondisi ini tak lepas dari keinginan pemerintah untuk tidak sekadar menjadi tuan rumah yang baik tetapi dapat memanfaatkan secara optimal salah satu event paling prestisius di dunia.

Dampak minimal adalah yang dapat diberikan bagi daerah yang nantinya akan dipakai sebagai lokasi penyelenggaraan acara. Memori keberhasilan Sidang Tahunan IMF-World Bank (WB) tahun 2018 di Bali, tentu menjadi modal positif untuk direplikasi nantinya. Keberhasilan ini juga wajib disyukuri, terlebih di tengah upaya dan kerja keras pemerintah mengatasi dampak pandemi Covid-19.

Pemilihan ini juga diharapkan menjadi momentum yang tepat upaya menunjukkan kepemimpinan Indonesia sebagai salah satu role model pemulihan ekonomi dunia di masa krisis pandemi. Terlebih, sejak forum G20 terbentuk pertama kalinya tahun 1999, untuk pertama kalinya Indonesia mendapatkan kesempatan menjadi Presidensi di antara negara-negara anggota lain nya.

Sebagai catatan, beberapa negara besar di Asia yang pernah terpilih menjadi Presidensi G20 di antaranya: Jepang, Korea Selatan, Saudi Arabia, dan Tiongkok. Menilik dari sejarah pembentukan, forum G20 merupakan respons atas munculnya krisis ekonomi tahun 1997/1998 atau lebih dikenal sebagai Asian Crisis. Dan hingga saat ini, keberadaan forum G20 tidak dapat dipandang sebelah mata karena beranggotakan 20 negara utama penggerak perekonomian dunia dengan penguasaan hampir 85% produk domestik bruto (PDB) global, 75% porsi perdagangan global, serta dua pertiga populasi penduduk dunia.

Komposisi anggotanya juga relatif berimbang antara 11 negara maju: Australia, Kanada, Jerman, Perancis, Jepang, AS, Rusia, Inggris, Tiongkok dan Italia beriringan dengan 9 negara berkembang yang diproyeksikan akan menjadi kekuatan utama ekonomi dunia ke depannya seperti Brasil, Argentina, Meksiko, Indonesia, India, dan Afrika Selatan.

Memanfaatkan Dampak

Dalam pertemuan nantinya, forum G20 akan dibagi menjadi 2 kelompok besar: kelompok pembahasan topik keuangan (Finance Track), dan kelompok non-keuangan (Sherpa Track). Untuk pembahasan di Finance Track, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) dan Bank Indonesia (BI) akan menjadi koordinator membawahi beberapa Working Groups (WG) dan Task Forces (TF). Working groups dan task force yang berada di bawah koordinasi Finance Track meliputi WG-infrastruktur, WG-framework, WG-international financial architecture, WG-global partnership for financial inclusion serta WG-sustainable finance.

Dari sisi komposisi, terlihat pembagian WG dan TF di kelompok Finance Track ini fokus kepada penyempurnaan aspek internal kelembagaan, aturan main serta model bisnis yang akan dikembangkan.

Sebaliknya, di dalam kelompok Sherpa Track, koordinasi di bawah Kementerian Perekonomian (Kemenko Perekonomian) beserta de ngan Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) yang akan memfokuskan pembahasan kepada isu-isu sektoral. Karenanya Sherpa Track membentuk Ministerial Meeting (MM) yang berisikan tema kesehatan, pendidikan, ketenagakerjaan, keberlanjutan energi, lingkungan hidup, pertanian, ekonomi digital, in vestasi dan perdagangan, pariwisata, pembangunan ekonomi, kebudayaan dan hubungan internasional.

Di masing-masing tema sektoral, juga akan dibentuk Working Groups (WG) serupa dengan kelengkapan di Finance Track. Meski tidak seperti lembaga mul tilateral IMF atau WB, forum G20 sudah menorehkan banyak kontribusi nyata bagi perbaikan tatanan global sekaligus merespons tantangan kekinian.

Di bidang penanganan krisis misalnya, forum G20 sudah menelurkan kesepakatan stimulus ekonomi global serta COVAX Initiative untuk membantu percepatan vaksinasi di beberapa negara demi mencapai kekebalan komunal.

Begitupula yang dilakukan di sisi arsitektur keuangan internasional dengan disepakatinya jaring pengaman keuangan in ternasional dalam kerangka debt sustainability and transparency. Juga tak ketinggalan upaya forum G20 dalam penguatan global partnership khususnya bantuan bagi negara-negara miskin dan berkembang di Afrika melalui program Compact with Africa. Dalam beberapa tahun terakhir, forum G20 juga terus mengkampanyekan ini siatif BEPS (Base Erosion and Profit Shifting), AEOI (Automatic Exchange of Information) dalam mendukung reformasi perpajakan internasional. Pembentukan Global Infrastructure Hub dan penyusunan Roadmap Infrastructure as an Asset Class pun ditujukan bagi terselenggaranya proses investasi di bidang infrastruktur yang berkualitas.

Melihat fakta tersebut, tak salah jika pemerintah betul-betul menaruh harapan atas penyelenggar a an Presidensi G20 tahun 2022. Dengan mengambil tema “recover together, recover stronger” ditekankan pentingnya aspek kolaborasi nyata multi pihak secara menyeluruh. Pandemi Covid-19 memberikan pelajaran berharga bahwa era persaingan bebas sudah mengalami kemunduran dan kini beralih pada pengakuan pentingnya stronger collective global leadership.

Dalam pertemuan nantinya, pemerintah akan mencoba menawarkan 3 pilar utama yang dibagi menjadi kluster promoting productivity (P1) melalui promoting green recovery dan enhancing efficiency in the economy. Kluster P2 bertema increasing resilience and stability dengan subtema enhancing financial system and macro economic stability. Kluster yang terakhir P3 adalah ensuring sustainability and inclusive growth dengan kata kunci sustianbality dan inclusive growth.

Sebagai penutup, penulis yakin jika semua hal positif tersebut secara sungguh-sungguh dijalankan dengan ketetapan hati yang besar maka dampak optimal penyelenggaraan Presidensi G20 akan dapat diwujudkan.

Pengalaman sebelumnya sudah membuktikan bahwa Indonesia mampu dan dapat menjadi tuan rumah yang baik sekaligus mencoba menarik manfaat sebesar-besarnya atas penyelenggaraan event bergengsi dunia.

Bayangkan jika pertemuan forum G20 minimal memberi do rongan kenaikan PAD 10% di daerah, maka seluruh tenaga dan upaya sepertinya sangat layak un tuk dikerahkan.

*) Peneliti Madya, BKF, merupakan pendapat pribadi tidak mencerminkan kebijakan institusi.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN