Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Arlyana Abubakar, Direktur Bank Indonesia, Wakil Rektor Bank Indonesia Institute.

Arlyana Abubakar, Direktur Bank Indonesia, Wakil Rektor Bank Indonesia Institute.

Membangun Ekonomi dan Budaya Regeneratif

Senin, 27 September 2021 | 10:21 WIB
Arlyana Abubakar *)

Bencana ekologis global sudah ada di depan mata. Suhu bumi terus meningkat, dan efeknya sudah mulai terasa di mana-mana. Banjir di musim panas di belahan utara bumi, gelombang panas, badai tropis, rentang suhu bumi melebar, muka laut meningkat, muka daratan menurun, dan seterusnya.

Jika kita tetap melakukan hal yang sama seperti yang lalu –menebang pohon dan membuang gas karbon ke udara– suhu bumi akan meningkat sebesar 3 derajat dan seluruh bencana yang disebutkan tadi akan terus memuncak. Ketika itu terjadi, bencana ekologis akan menjadi bencana kemanusiaan.

Negara-negara dunia coba menyelesaikan persoalan ini dengan pendekatan politik, melalui Perjanjian Paris. Intinya, semua anggota PBB sepakat bersama-sama mengendalikan laju pemanasan global. Tetapi tidak ada cara yang mengikat. Setiap negara dipersilakan menentukan sendiri agenda terkait dengan hal ini. Di sinilah persoalan dimulai. Ada negara yang berlari kencang, tetapi ada yang bahkan belum meratifikasi kesepakatan itu, sampai hari ini. Akibatnya, enam tahun setelah perjanjian itu, justru semakin terasa bahwa persoalannya kian mendesak. Secara akademik jelas sekali. Fatalitas pemanasan global yang tak terkendali akan lebih besar dibanding dampak Pandemi Covid-19 (Bernstein, 2021).

Sustainable Tak Lagi Cukup

Selama ini kita sudah punya konsep dan strategi global untuk mengatasi laju pemanasan global, yakni konsep keberlanjutan (sustainability). Tetapi menghadapi krisis yang sedemikian besar, kita perlu meninjau ulang konsep ini, minimal karena dua alasan. Pertama, sustainable adalah istilah yang bias. Awalnya sustainable adalah istilah lingkungan hidup, yang merujuk pada pelestarian alam, khususnya alam yang masih sehat, dengan seluruh keanekaragaman hayatinya. Dari sana istilah itu ditempelkan pada konsep pembangunan, menjadi sustainable development, dengan makna yang masih sesuai dengan aslinya. Pembangunan yang bertanggung jawab adalah pembangunan yang berkelanjutan –dengan tetap menjaga kelestarian alam.

Istilah sustainable mulai bergeser makna ketika kalangan manajemen bisnis mengumandangkan imperatifnya, bahwa bagi perusahaan untung saja tidak cukup, tetapi harus tumbuh. Bahkan tumbuh saja juga tidak cukup, tapi harus tumbuh secara berkelanjutan (sustainable growth). Di sini sustainable murni menjadi istilah manajemen, yang tidak ada hubungannya dengan lingkungan hidup.

Istilah sustainable growth bisa dipakai oleh bisnis apapun, termasuk bisnis-bisnis yang sama sekali tidak ramah lingkungan. Bahkan istilah sustainable growth juga dipakai untuk menakar pertumbuhan sebuah perekonomian atau negara. Para pegiat lingkungan berkata, kalau mendengar istilah sustainable growth, janganlah kita terkecoh. Bisnis atau negara yang tumbuh berkelanjutan tidak serta merta mengelola lingkungannya secara berkelanjutan. Bahkan istilah itu bisa dipakai untuk merekayasa citra ramah lingkungan. 

Yang kedua, istilah sustainable dipakai dalam diskursus ekonomi, sebagai antitesis terhadap konsep ekonomi ekstraktif –yakni ekonomi yang eksploitatif terhadap sumber daya, khususnya sumber daya alam dan manusia. Hutan dibabat, keanekaragaman hayati dirusak, manusia diperlakukan tidak adil, sepenuhnya demi keuntungan. Konsep sustainable economy melawan dengan konsep sebaliknya, yakni bahwa ekonomi harus dikelola dengan menjaga sumber daya alam dan dengan penuh hormat pada harkat dan martabat manusia.

Masalahnya, krisis kita sudah sedemikian serius. Hutan sebagai paru-paru dunia terus menyempit; sedangkan ekonomi, industri, dan budaya emisi karbon tidak serta merta bisa dihentikan. Dengan penduduk yang sudah melebihi daya dukung bumi, eksploitasi sumber daya alam dalam kenyataannya tidak terelakkan. Dan di sinilah kita.  Kita berada pada titik, di mana melanggengkan (sustaining) keadaan yang sudah buruk justru dan jelas merupakan kesalahan. 

 

Pendekatan Baru

Sekarang ini ada tiga pendekatan beyond sustainability yang berkembang secara berurutan. Yang pertama adalah konsep circular economy. Konsep ini ditawarkan untuk mengatasi penggunaan sumber daya yang berlebihan. Secara tradisional ekonomi dan industri kita berjalan secara linear. Ada bahan baku (sumber daya) yang diolah menjadi produk, kemudian produk dikonsumsi atau digunakan, dan akhirnya dibuang. Ada dua kelompok sampah di sini, yakni sampah industri dan sampah konsumsi.

Konsep circular economy mengubah paradigma ini. Sumber daya kita semakin terbatas, sehingga memboroskannya adalah kejahatan, yakni merampasnya dari mereka yang tidak punya akses dan dari generasi mendatang. Cara meminimalkan pemakaian sumber daya adalah dengan memperpanjang daur hidupnya, yakni dengan mengurangi pemakaian (reduce), memakai ulang (reuse), membentuk ulang (reform), dan mendaur ulang (recycle).

Konsep ini semakin populer dan mempunyai banyak pendukung, baik di sisi industri maupun dan terutama di sisi konsumen generasi muda. Banyak industri yang mendaur ulang kemasan, atau membiayai pihak ketiga yang melakukan proses daur ulang. Sementara di banyak kalangan praktik membeli barang bekas pakai sudah semakin umum, sebagaimana bisa dilihat di berbagai marketplace nasional maupun global. Data Statista.com menunjukkan bahwa pasar barang bekas global mencapai US$ 27 miliar pada 2020, dan diperkirakan akan naik menjadi US$ 36 miliar pada 2021.

Tetapi pada saat yang sama, pendekatan ini tidak bebas kritik. Dalam perspektif perubahan iklim, circular economy berfungsi sebagai rem, agar kerusakan lingkungan tidak semakin parah. Ini adalah langkah penting, tetapi tidak cukup.

Karena itu diperlukan langkah berikutnya, konsep kedua, restorative economy. Pemanasan global terjadi karena kerusakan keseimbangan ekosistem. Jika kita ingin menghentikan pemanasan global, mengembalikan keseimbangan ekosistem menjadi keharusan. Karena itulah PBB menetapkan dekade ini, 2021 sampai 2030, sebagai dekade restorasi. Fokusnya adalah mengembalikan keseimbangan ekosistem, termasuk kawasan hutan dan pesisir yang kritis. Langkah ini diikuti oleh 10 negara Asean, yang Agustus silam mencanangkan gerakan menanam 10 juta pohon endemik dalam waktu 10 tahun.

 

Budaya Regeneratif

Yang ketiga adalah konsep regenerative economy, yang mendasarkan diri pada konsep sistem kehidupan (living system). Salah satu keistimewaan planet bumi adalah bahwa di dalamnya ada kehidupan yang tertata dalam satu sistem. Semua makhluk terhubung dengan cara tertentu, dalam hubungan yang tak terpisahkan. Kerusakan ekologi terjadi karena manusia melupakan dan bahkan merusak hubungan sistemik itu, dengan menghilangkan sejumlah mata rantainya (Fullerton, 2020).

Itu terjadi karena keyakinan bahwa yang disebut dengan aset harus bisa ditakar dengan dolar atau rupiah. Padahal assets –yakni segala sesuatu yang diperlukan untuk hidup– mencakup lebih banyak hal yang tak ternilai secara ekonomi tradisional. Sebut saja kehidupan sosial kemasyarakatan, budaya, agama, sejarah, pengalaman, dan hal-hal lain yang ikut menentukan kualitas hidup manusia. Regenerative economy mengajak semua pihak membuat takaran baru, bukan hanya sampai tahap wealth, melainkan ke tahap wellness dan wellbeing.

Karena itu, regenerative bukan pertama-tama soal ekonomi, minimal ekonomi sebagaimana kita pahami selama ini. Regenerative adalah soal cara pandang, cara hidup, dan semangat yang lebih menyatu dalam keseluruhan sistem kehidupan. Karena itu regenerative adalah sebuah budaya baru di ranah sosial, manajemen publik, ekonomi, politik, dan sebagainya. Dengan budaya regeneratif, kompetisi akan berubah menjadi kolaborasi dan koordinasi, egosistem akan berubah menjadi ekosistem. Pada titik yang lebih optimal lagi, keseimbangan ekosistem hanyalah akibat logis. Manusia kembali menjadi bagian dari sistem hidup, dengan ketahanan (resilience) yang terintegrasi dengan ketahanan semesta.

 

Kita perlu mengambil banyak pendekatan sekaligus, mengingat beragam serta kompleksitas problem lingkungan yang ada di lapangan. Kita perlu melestarikan lingkungan yang masih bagus. Kita perlu mengerem laju kerusakan alam bersamaan dengan usaha merestorasi keseimbangan ekosistem.

Ketiga konsep ini muncul relatif berurutan, dan ada peluang untuk memperbandingkan satu dengan yang lain pada tataran akademik. Tetapi kita sedang berada dalam situasi kritis, dengan potensi risiko yang jauh lebih besar dibanding Covid-19, sehingga semua pihak harus habis-habisan menghadapi persoalan ini. Kita harus melakukan pendekatan krisis, seperti menghadapi perang. Tetapi untunglah, berbeda dengan perang melawan Covid-19 yang tidak kelihatan, kali ini kita menghadapi musuh yang jelas bentuk dan magnitude-nya.

Dalam skenario perang tersebut, semua konsep ini bukan pilihan, melainkan sisi-sisi strategis yang saling melengkapi, yang perlu dilakukan secara terkoordinasi. Kita perlu mengambil banyak pendekatan sekaligus, mengingat beragam serta kompleksitas problem lingkungan yang ada di lapangan. Kita perlu melestarikan lingkungan yang masih bagus. Kita perlu mengerem laju kerusakan alam bersamaan dengan usaha merestorasi keseimbangan ekosistem. Sementara, semua langkah itu hanya akan efektif jika semua pihak menata ulang mindset-nya tentang hidup dan tujuannya.

 

*) Direktur Bank Indonesia Institute

Editor : Totok Subagyo (totok_hs@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN