Menu
Sign in
@ Contact
Search
Agus Sugiarto. Kepala Departemen di OJK

Agus Sugiarto. Kepala Departemen di OJK

Bank Digital, Bank dalam Genggaman Tangan

Selasa, 5 Oktober 2021 | 21:01 WIB
Agus Sugiarto *) (redaksi@investor.id)

Masyarakat saat ini sangat menikmati berbagai bentuk layanan penyediaan barang ataupun jasa yang berbasis teknologi digital. Dengan hadirnya teknologi digital tersebut, masyarakat tidak perlu lagi mendatangi tempat di mana penjual barang atau jasa berada, namun cukup melakukannya secara daring dari tempat mereka tinggal.

Dengan dukungan ja ringan internet yang semakin meluas, semakin banyak wilayah Indonesia yang mendapatkan askes internet, sehingga menambah jumlah masyarakat yang mampu mengakses internet.

Saat ini diperkirakan ada sekitar 202,6 juta penduduk Indonesia yang telah mengakses internet di berbagai pelosok Tanah Air. Kehadiran internet yang semakin meluas tersebut telah mengubah budaya dan perilaku masyarakat secara keseluruhan yang lebih menginginkan kemudahan dan kenyamanan dalam melakukan berbagai transaksi.

Dengan demikian, kita bisa mengatakan bahwa transformasi digital sebenarnya bukan hanya terjadi di industri jasa keuangan saja, melainkan juga terjadi dalam perilaku masyarakat. Kondisi tersebut didukung dengan fakta bahwa 89% dari pendduduk  Indonesia telah memiliki smartphone. Sehingga penggunaan aplikasi maupun transaksi yang berbasis digital menjadi semakin bertambah, termasuk di antaranya dalam melakukan transaksi keuangan.

Transaksi keuangan yang berbasis digital bukan lagi menjadi suatu impian bagi masyarakat, namun telah menjadi sebuah kebutuhan yang digunakan dalam kegiatan sehari-hari.

Oleh karena itu, hadirnya bank digital yang melayani keuangan yang berbasis digital untuk mendukung kebutuhan masyarakat, sudah tidak bisa ditahan-tahan lagi. Masyarakat menginginkan industri jasa keuangan, khususnya bank, agar mampu memberikan layanan keuangan yang sejalan dengan keinginan dan ekspektasi mereka saat ini, yaitu layanan berbasis digital atau bank digital.

Keuntungan Buat Masyarakat

Bank digital, bank dalam genggaman tangan
Bank digital, bank dalam genggaman tangan

Kehadiran bank digital menjadi sebuah breaktrough atau terobosan bagi masyarakat untuk mendapatkan layanan perbankan yang mudah diakses dari mana saja, cepat dan tanpa adanya kendala waktu yang terbatas. Layanan keuangan bank digital dapat diakses oleh masyarakat melalui aplikasi digital yang bisa diunduh di berbagai instrumen elektronik, khususnya di telepon genggam.

Dengan mengunduh aplikasi digital milik bank pada telepon genggam, maka seseorang sudah membuka kantor cabang bank di telepon genggam mereka.

Masyarakat bisa memilih aplikasi bank digital apa yang sesuai dengan keinginan dan kebutuhan mereka. Bahkan masyarakat tidak hanya bisa membuka satu kantor cabang dari sebuah bank, namun bisa membuka beberapa kantor cabang sekaligus dengan mengunduh aplikasi digital mereka dalam satu telepon genggam ataupun perangkat elektronik lainnya, seperti laptop dan tablet.

Dengan aplikasi digital tersebut, masyarakat dapat melakukan berbagai jenis transaksi keuangan yang dulunya dilakukan dengan mendatangi kantor fisik sebuah bank atau melalui anjungan tunai mandiri (ATM). Zaman sudah berubah, konsumen tidak perlu lagi mencari-cari di manakah letak kantor bank yang terdekat dengan rumah mereka guna melakukan transaksi keuangan.

Sekarang ini yang dicari oleh konsumen adalah bank apa yang bisa memberikan layanan keuangan secara digital yang sesuai dengan kebutuhan keuangan mereka. Lokasi kantor cabang bank sekarang tidak lagi berada di seberang jalan, melainkan sudah ada di dalam rumah kita sendiri.

Di saat pandemi Covid-19 yang masih terus berlangsung sampai sekarang ini, tentunya layanan bank digital menjadi semakin pen ting guna mengatasi terbatasnya mobilitas dan pergerakan manusia.

Di samping itu, bank digital akan memudahkan mereka yang tinggal di daerah-daerah yang selama ini belum mendapatkan layanan perbankan, menjadi lebih mudah mengakses bank. Absennya kantor bank di beberapa da erah terpencil, terluar maupun pedalaman, bukan lagi menjadi isu bagi masyarakat untuk mendapatkan layanan perbankan.

Dengan melakukan pembukaan rekening secara daring dari tempat mereka tinggal, menjadikan kebutuhan layanan keuangan masyarakat tersebut menjadi terpenuhi. Bagi bank sendiri, adopsi pembukaan rekening secara daring tanpa harus melalui kantor fisik bank akan memperluas jaringan nasabah mereka tanpa harus berdomisili dekat dengan kantor bank tersebut.

Di sinilah kita bisa melihat bahwa bank digital mampu mendongkrak inklusi keuangan bagi masyarakat yang selama ini sulit mendapatkan akses terhadap layanan perbankan.

Manfaat bagi Bank

Bank tentunya telah merespons dan mengakomodasi de ngan cepat keinginan masyarakat terkait dengan layanan keuangan yang berbasis digital. Buktinya, bankbank sudah mulai menawar kan aplikasi digital kepada nasabah mereka, tanpa harus menghabiskan waktu dan biaya mendatangi kantor fisik bank ataupun ATM terdekat untuk melakukan transaksi keuangan.

Di sisi lain, transformasi layanan yang dilakukan oleh bank dalam bentuk bank digital juga memberikan berbagai manfaat bagi bank itu sendiri. Pertama, bank tidak perlu melakukan in ves tasi besarbesaran memba ngun infrastruktur kantor cabang fisik maupun pemasangan gerai ATM di berbagai tempat. Miniatur layanan bank sudah bisa dilakukan dengan aplikasi digital yang memberikan layanan yang hampir sama dengan sebuah kantor cabang atau ATM.

Kedua, jaringan layanan keuangan bank yang selama ini menggunakan basis omnichannel yang bersifat brick and mortal, melalui kantor cabang, kantor kas, ATM, agen bank, telepon dan layanan fisik lainnya tidak lagi menjadi pilihan utama bagi nasabah. Aplikasi digital mampu melakukan semua transaksi perbankan yang dibutuhkan oleh konsumen dan nasabah, kecuali untuk penarikan uang tunai. Jaringan layanan bank yang berbasis omnichannel tidak lagi dipandang sebagai faktor kompetitif dari suatu bank.

Kanal digital lah yang akan menjadi faktor kompetitif bagi bank untuk bersiang dengan bank-bank lain dalam melayani nasbah. Data menunjukkan jumlah kantor bank di Indonesia mengalami penurunan dari 32.963 unit pada tahun 2015 menjadi 30.733 unit pada tahun 2020, sebagai bukti semakin meningkatnya layanan berbasis digital.

Ketiga, dengan memudarkan jaringan layanan bank yang berbasis omnichannel tersebut, ma ka bank dapat memperoleh cost saving yang tidak sedikit sehingga dapat mengurangi biaya operasional dan pada akhirnya akan menekan biaya transaksi yang harus dibayar oleh nasabah.

Bank tidak perlu lagi membangun dan mendirikan kantorkan tor fisik yang baru ataupun memasang ATM baru, apabila mayoritas nasabah bank sudah memanfaatkan layanan digital yang disediakan oleh bank. Bank bisa belajar banyak dari pengalaman kehadiran perusahaan financial technology atau fintech yang tumbuh dan berkembang dengan sangat pesat tanpa harus memiliki jaringan yang berbasis omnichannel.

Ketiga, hasil riset dari beberapa penelitian menunjukkan bahwa bank digital memiliki kinerja yang lebih bagus dibandingkan de ngan bank konvensional. Beberapa studi dari Tunay, et al (2015), Wadesango dan Magaya (2020), serta Kwateng, et al (2020) memperlihatkan bahwa ROA (return on asset), ROE (return on equity), dan ROI (return on investment) dari bank digital le bih baik dari bank konvensional.

Selanjutnya, studi dari Wirdiyanti (2018) juga menunjukkan bahwa bank-bank yang mengadopsi teknologi digital ternyata mempunyai tingkat efisiensi yang lebih baik. Dari indikator tersebut menjadi lebih jelas bahwa bank yang memiliki layanan berbasis digital ataupun bank digital memiliki kinerja yang lebih baik dibandingkan dengan bank konvensional yang belum memiliki layanan berbasis digital.

Dukungan Kebijakan

Melihat dinamika perubahan yang sedang berlangsung tersebut, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sangat mendukung keberadaan bank digital di Indonesia.

Dukungan tersebut antara lain diberikan dalam bentuk pengaturan pendirian bank digital yang diatur dalam POJK Nomer 12/POJK.03/2021 tentang Bank Umum.

Di dalam POJK tersebut diperjelas mengenai pengertian bank digital, yaitu bank berbadan hukum Indonesia yang menyediakan dan menjalankan ke giatan usaha terutama melalui saluran elektronik tanpa kantor fisik selain kantor pusat, atau menggunakan kantor fisik yang terbatas.

Selanjutnya juga diatur mengenai pendirian bank digital melalui pendirian bank baru yang berbadan hukum Indonesia dengan modal disetor minimum Rp 10 triliun. Namun demikian, bagi bank berbadan hukum Indonesia yang sudah beroperasi saat ini dapat pula bertransformasi menjadi bank digital dengan memiliki modal minimum Rp 3 triliun.

*) Kepala Departemen di OJK.

(Tulisan ini merupakan opini dan pandangan pribadi dari penulis).

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com