Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Paulus Mujiran. Foto: youtube

Paulus Mujiran. Foto: youtube

Manusia Silver di Tengah Pandemi

Minggu, 17 Oktober 2021 | 06:03 WIB
Paulus Mujiran *)

Fenomena “manusia silver” yang marak di berbagai sudut kota besar kini menyita perhatian banyak pihak. Di berbagai media diberitakan keberadaan manusia silver yang kian merebak. Menjadi manusia silver kini menjadi salah satu cara mengamen yang tengah populer di jalanan.

Sampai saat ini, Komnas PA mencatat di wilayah Provinsi DKI Jakar ta setidaknya ada 189 keluarga manusia silver. Sementara di Kota Depok dan Tangerang Selatan (Tangsel) sebanyak 200 keluarga.

Jumlah ini belum termasuk keluarga manusia silver yang tidak terdata sehingga kemungkinan dapat bertambah, terlebih lagi bisa masalah tidak segera diselesaikan pemerintah.

Keberadaan manusia silver ini mencerminkan cara instan sebagian warga masyarakat untuk memperoleh penghidupan.

Inilah cara paling praktis menarik perhatian masyarakat hanya dengan bermodalkan cat warna silver yang dibalurkan di sekujur tubuhnya. Mengemis dengan cara konvensional barangkali kurang lagi menarik. Ini juga cara praktis dan murah karena tak butuh modal besar.

Lebih dari itu karena dilakukan berkelompok, modal yang dibutuhkan pun tidak terlalu banyak. Munculnya manusia silver ini tidak semata-mata terkait pandemi Covid-19. Kebetulan saja mereka muncul pada saat pandemi.

Keberadaan mereka sudah lebih duluan ketimbang hadirnya pandemi. Orang miskin yang mengais rezeki di jalanan dengan meminta-minta sudah ada sejak lampau. Pemerintah sebenarnya sudah tahu dari data-data statistik tentang problem sosial. Data penduduk miskin per September 2021 sebesar 27,55 juta orang.

Sejumlah usaha juga telah dilakukan untuk mengurangi angka atau jumlah pengemis di jalanan. Himpitan ekonomi menyebabkan mereka menerjunkan diri ke jalanan dengan profesi manusia silver.

Motivasi manusia silver semata ekonomi. Keberadaan manusia silver pada awalnya tergabung dalam Komunitas Silver Peduli. Komunitas ini merupakan gerakan donasi untuk anak yatim. Aktivitas ini pada mulanya berdalih meminta sumbangan untuk anak-anak yatim. Sempat dilarang di beberapa kota seperti Bandung dan Bogor, namun rupanya aktivitas ini terus merebak ke berbagai kota.

Dari segi kesehatan, penggunaan cat silver ini sebenarnya membahayakan. Sebab melumuri tubuh dengan cat dapat memicu alergi. Cat itu kemudian akan bereaksi dengan kulit dan poripori tubuh sehingga kemungkinan masuk dalam tubuh kian besar. Cat ini biasanya dipergunakan mewarnai pagar rumah, velg kendaraan, koin, perhiasan hingga lukisan.

Manusia dengan paparan cat di sekujur tubuhnya juga rentan mengalami gangguan kesehatan dan penyakit kulit. Penelitian di luar negeri terutama di Guatemala, 92% anak jalanan terserang kutu dan jamur, dan 88% mengalami gangguan napas.

Di tengah sulitnya mencari lapangan kerja, keberadaan manusia silver seolah menjadi “solusi” untuk ke luar dari masalah terutama kemiskinan. Kesulitan ekonomi keluarga menjadi alasan utama manusia silver turun ke jalan. Dan celakanya, pemerintah se perti membiarkan saja keberadaan mereka.

Tidak bisa dimungkiri keberadaan manusia silver diperburuk oleh situasi pandemic Covid-19. Aneka program sosial yang diluncurkan pemerintah bisa jadi belum sepenuhnya menyelesaikan masalah.

Untuk tetap bertahan hidup, profesi lama dikemas kembali dengan membaluri tubuhnya dengan cat warna silver. Mereka melakoni pekerjaan yang sebenarnya sangat berisiko untuk kesehatan.

Untuk mengurangi maraknya manusia silver memang tidak bisa hanya dengan merazia mereka di jalanan. Karena akarnya bukan kriminalitas. Maka merekapun harus diberikan akses ekonomi seperti akses pangan dan pekerjaan yang mudah termasuk akses kesehatan dan pendidikan.

Di Tanah Air upaya mengatasi kemiskinan karena dampak pandemi memang baru sebatas yang sifatnya karitatif, sementara penyediaan lapangan kerja jangka panjang belum tersedia.

Mandat menolong manusia silver ini ada di Pasal 33 UUD 1945 yang menyatakan fakir miskin dan anak telantar dipelihara oleh negara. Pasal itu sebenarnya dimaksudkan para pendiri Negara agar pemerintah meru muskan program yang sangkil dan mangkus mengatasi permasalahan orang miskin dengan merumuskan program yang tepat sasaran dan mempunyai daya ungkit mengentaskan kemiskinan masyarakat.

Gerakan-gerakan dan upaya pengentasan kemiskinan sebenarnya terus berkembang dari waktu ke waktu. Dahulu kemiskinan dientaskan dengan diberikan bantuan langsung atau dikenal dengan gerakan karitatif. Ini berlangsung di tahun 1960 sampai awal 1980-an ketika berdiri lembaga-lembaga sosial karitatif untuk mengentaskan kemiskinan.

Meski cara ini sudah lama di tinggalkan, di era pandemic dipraktikkan kembali dengan cara membagi uang tunai, Sembilan bahan pokok. Kemudian dipraktikkan gerakan pemberdayaan masyarakat karena dipercaya orang menjadi miskin disebabkan oleh lingkungan struktural yang menyebabkan dia menjadi miskin. Bentuknya pemberian pelatihan dan bantuan modal usaha. Bagi-bagi bantuan tidak menyelesaikan masalah.

Di samping itu masih ada stigma yang dilekatkan kepada si miskin untuk dapat bekerja. Seperti rendahnya keterampilan, kurangnya tanggung jawab, mental instan, dan stigma-stigma negatif lain. Akibatnya usaha orang miskin tidak pernah dapat berkembang. Mengentaskan kemiskinan bukan perkara mudah di tengah struktur kapitalisme dalam segala bidang yang kurang mendukung konsep pemberdayaan masyarakat miskin.

Menjadi manusia silver adalah pilihan konkret yang mudah dan anggapannya tidak mengganggu/ merepotkan orang lain. Namun begitu perlu ada orang yang mempunyai keteguhan dalam menggerakkan, melatih dan memberdayakan masyarakat miskin agar mandiri. Termasuk mengentaskan manusia silver ini.

Gerakan ini kerapkali tidak berbuah banyak. Tetapi satu dua orang bisa berubah pola pikirnya untuk tidak berkutat dengan kemiskinannya dapat dipandang sebagai keberhasilan.

Problem manusia silver adalah ungkapan kritik sosial bahwa ada masalah kemiskinan yang harus diatasi. Harapan kita semua, pascapandemi ekonomi segera pulih sehingga kesejahteraan rakyat dapat dirasakan. Maraknya manusia silver meraih rezeki di jalanan pertanda ekonomi sedang sulit, membuat mereka menjadi korban, dan bekerja dalam pekerjaan yang membahayakan. Namun masalah itu bukan sekadar dirasani, perlu ditangani dengan konkret. 

Sebagai negara yang tengah bangkit dari keterpurukan pandemi, manusia silver ini jangan sampai memperburuk keadaan. Sebab kehadiran mereka di jalanan bisa jadi membahayakan pengguna jalan dan diri mereka sendiri. Harus ada gerakan nyata mengatasi masalah ini. Namun demikian, etalase kota yang dihiasi manusia silver sangatlah mengganggu. Pemerintah harus segera bergerak mengatasinya. Keberadaan mereka adalah kritik sosial, kita belum selesai dengan masalah kemiskinan!

*) Alumnus Pascasarjana Undip

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN