Menu
Sign in
@ Contact
Search
Hamdi Hassyarbaini, Direktur Pengawasan Transaksi dan Kepatuhan BEI periode 2015-2018

Hamdi Hassyarbaini, Direktur Pengawasan Transaksi dan Kepatuhan BEI periode 2015-2018

Salah Kaprah tentang Robot Trading

Senin, 8 November 2021 | 23:52 WIB
Hamdi Hassyarbaini *) (redaksi@investor.id)

Dua tahun belakangan ini penawaran robot trading, khususnya untuk forex trading, gencar dilakukan melalui media sosial maupun televisi, bahkan menggunakan jasa influencer ar tis terkenal.

Penawarannya seringkali menggunakan kata-kata bombastis walaupun tidak masuk akal, seperti “Anda tidak perlu pusing trading, biarkan robot yang bekerja”, atau “Kalau beli robot ini, Anda pasti untung”, atau “Pakai robot ini, profit Anda akan konsisten”.

Bahkan ada penawaran robot dengan embel-embel “bergaransi”, dalam arti kalau pembeli tidak mendapat untung, pembeli boleh mengembalikan robot tersebut dan meminta uangnya kembali. Ada juga penawaran robot dengan skema multi-level marketing atau member-get-member lengkap dengan paket investasi yang menawarkan keuntungan pasti. Padahal dalam investasi apapun tidak ada yang namanya pasti untung. Setiap investasi selalu ada unsur untung dan rugi.

Semakin tinggi keuntungan yang diharapkan, risiko rugi juga kian besar (high risk high return). Cara-cara pemasaran yang tidak masuk akal itu membuat sebagian masyarakat percaya bahwa robot trading adalah makhluk pintar yang bisa disuruh mencari uang. Padahal berdasarkan logika sederhana, kalau robot trading memang pintar mencari uang, pasti si pembuat tidak akan menjual robot buatannya kepada pihak lain.

Lebih baik robot itu diberdayakan sendiri untuk mencari uang sebanyak-sebanyaknya. Seorang rekan berkelakar, kalau memang ada robot yang pintar mencari uang, bolehlah disarankan kepada menteri keuangan un tuk membeli robot tersebut dan mengkaryakannya untuk men cari uang guna menutup defisit anggaran.

Lalu, apa sesungguhnya robot trading? Robot trading pada dasarnya hanyalah perangkat lunak atau program yang dibuat menggunakan algoritma matematika untuk mengeluarkan sinyal buy/ sell atau membantu eksekusi or der, baik cut loss maupun take profit, sehingga sering disebut expert advisor (EA). Agar bisa mengeluarkan sinyal, pengguna robot atau dalam hal ini trader, harus memasukkan parameter sesuai strategi trading yang di pilih. Penyusunan algoritma didasarkan pada hasil analisis teknikal masa lalu (back testing) yang dipercaya mempunyai sifat berulang.

Oleh karena itu, fungsi robot hanyalah sebagai alat bantu (tool) bagi trader. Kendali harus tetap di tangan trader, khususnya dalam penetapan parameter yang digunakan dalam algoritma. Demikian pula, karena penetapan parameter didasarkan pada kon disi masa lalu yang tidak se la lu berulang dengan pola sa ma, intervensi trader diperlukan da lam hal terjadi perubahan arah pasar. Karena fungsinya hanya sebagai alat bantu bagi trader, robot trading seyogianya bisa di gunakan di broker atau pialang manapun.

Sekadar informasi, untuk bisa melakukan forex trading, trader harus membuka rekening di salah satu broker/pialang. Jadi, kalau ada penjual robot yang mensyaratkan pembeli hanya bisa menggunakan robot tersebut di broker/pialang tertentu, harus diwaspadai. Bisa jadi broker/ pialang yang ditunjuk tersebut adalah pihak afiliasi dari pembuat robot sehingga rentan praktik manipulasi. Apalagi bila broker/ pialang yang ditunjuk berada di luar Indonesia, siapa yang bisa menjamin bahwa dia tidak tibatiba menghilang dengan membawa kabur dana milik nasabah, seperti dialami nasabah Mark AI dan Sunton Capital baru-baru ini.

Perdagangan forex masuk dalam ranah industri perdagangan berjangka komoditas di bawah pengawasan Badan Pengawas Per dagangan Berjangka Komoditi (Bappebti). Setiap broker/pialang forex yang beroperasi di Indonesia harus memperoleh izin Bappebti dan terdaftar di bursa berjangka di Indonesia, seperti Bur sa Berjangka Jakarta (BBJ) atau Jakarta Futures Exchange (JFX).

Demi keamanan dana nasabah, Bappebti mensyaratkan bahwa dana nasabah yang disetorkan ke pialang harus ditampung di re kening terpisah (segregated account) dan 70% di antaranya harus disimpan di lembaga kliring, yaitu Kliring Berjangka Indonesia (KBI). Jika ada broker/ pialang luar negeri yang menjual jasanya di Indonesia tanpa memperoleh izin Bappebti, mereka digolongkan sebagai broker/ pialang ilegal.

Jadi, apabila ada orang Indonesia menggunakan jasa broker/pialang ilegal tersebut dan di kemudian hari meng hadapi masalah, tentu sulit memperoleh perlindungan hukum dari Bappebti. Sebagai kesimpulan, tidak ada yang salah dengan penggunaan robot dalam trading. Tapi harus diingat, fungsi robot hanya sebagai alat bantu, kendali harus tetap di manusianya alias trader. Tidak ada robot yang saking pintarnya bisa mencari uang sendiri, sementara pemiliknya tinggal du duk manis atau malah tidur menunggu cuan.

Hati-hati dengan penawaran robot yang disertai dengan paket investasi yang menjanjikan keuntungan pasti. It’s too good to be true alias terlalu indah untuk jadi kenyataan. Sesuatu yang terlalu indah untuk jadi kenyataan, biasanya memang tidak akan pernah jadi kenyataan. Bisa-bisa Anda malah terjebak dalam skema Ponzi atau money game. Waspadalah!

*) Penulis adalah Direktur PT Bursa Berjangka Jakarta.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com