Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
David Manurung, Head of Investment Pacific Capital Investment.

David Manurung, Head of Investment Pacific Capital Investment.

Merger Operator Telko, Strategi Kolaborasi Melawan Disrupsi Teknologi

Jumat, 19 November 2021 | 12:31 WIB
David Manurung *) (redaksi@investor.id)

Pada pertengahan September 2021, Ooredoo QPSC dan CK Hutchison Holding Limited mengumumkan penggabungan bisnis anak usaha mereka masing-masing di Indonesia, yaitu PT Indosat Tbk dan PT Hutchison 3 Indonesia.

Perusahaan hasil merger akan diberi nama PT Indosat Ooredoo Hutchison Tbk, di mana PT Hutchison 3 Indonesia akan bubar demi hukum, seluruh aset dan liabilitas PT Hutchison 3 Indonesia akan beralih ke PT Indosat Ooredoo Hutchison Tbk.

Advertisement

Rencana merger berawal dari Indosat, yang akan menerbitkan saham baru sebanyak 2,6 miliar lembar saham baru untuk pemegang saham Hutchison 3 Indonesia (H3I), yaitu CK Hutchison dengan porsi 21,8% dan PT Tiga Telekomunikasi Indonesia (TTI) sebesar 10,8%.

Selanjutnya, CK Hutchison akan menukar kepemilikan 21,8% saham Indosat dengan 33,0% saham Ooredoo Asia dari Ooredoo Group, serta membayar US$ 387 juta untuk mendapatkan tambahan 16,7% kepemilikan Ooredoo Asia. Ooredoo Asia akan berganti nama menjadi Ooredoo Hutchison Asia (OHA).

Setelahnya, Ooredoo Group dan CK Hutchison akan menguasai masing-masing sebesar 50% di Ooredoo Hutchison Asia (OHA). Pada akhir merger, 65,6% saham Indosat akan dikuasai Ooredoo Hutchison Asia (OHA), 10,8% PT Tiga Telekomunikasi Indonesia (TTI), 9,6% oleh pemerintah Indonesia, dan 14% dimiliki publik.

Pascamerger, PT Indosat Ooredoo Hutchison Tbk akan menjadi perusahaan telekomunikasi terbesar kedua di Indonesia, dengan estimasi pendapatan tahunan mencapai Rp 42 triliun (68% Indosat dan 32% Hutch 3 Indonesia).

Dari sisi jumlah pelanggan, aksi merger ini akan makin memperkuat posisi Indosat sebagai operator telekomunikasi kedua terbesar di Indonesia.

Pada semester I-2021, jumlah pelanggan Indosat sebanyak 60,3 juta pelanggan, sedangkan Hutch 3 Indonesia mencapai 44 juta pelanggan, sehingga total mencapai 104,3 ju ta pelanggan. Angka tersebut membawa Indosat kian mendekati jumlah pelanggan Telkom (169 juta pelanggan), namun semakin menjauh dari XL Axiata (56,7 juta pelanggan).

Tujuan utama dari perusahaan melakukan merger adalah sebagai strategi utama mempercepat pertumbuhan. Alasan lain perusahaan melakukan merger adalah untuk dapat menciptakan sinergi yang menghasilkan skala ekonomi tertentu, memperkuat struktur permodalan, meningkatkan keterampilan manajemen dan karyawan, maupun menciptakan peluang ekspansi, baik pada lini produk maupun area pasar yang belum terjangkau.

Ilustrasi merger
Ilustrasi merger

Merger antara PT Indosat Tbk dan PT Hutchison 3 Indonesia termasuk ke dalam kategori merger horizontal karena memiliki lini usaha yang sama. Patut disadari, industri jasa layanan telekomunikasi merupakan bisnis yang padat modal. Perusahaan harus memiliki daya tahan dan modal kuat untuk menghadapi persaingan yang tinggi.

Begitupun dari sisi teknologi. Industri telekomunikasi merupakan industri yang siklus hidup teknologinya sangat cepat. Agar dapat memberikan layanan prima dan konsisten kepada pelanggan, pelaku bisnis industri telekomunikasi harus secara kontinu meningkatkan dan memperbarui layanan maupun teknologinya, dan hal ini tentu membutuhkan modal sangat besar.

Merger antarperusahaan telekomunikasi merupakan jawaban bagi para pelaku industri untuk merespons kebutuhan modal yang tinggi, terciptanya struktur biaya yang efisien, sekaligus untuk dapat lebih bersaing dengan para kompetitornya.

Sebagai contoh, siklus hidup teknologi jaringan seluler sudah semakin singkat. Teknologi 3G pertama kali diluncurkan ta hun 2001 oleh operator asal Je pang, NTT DoCoMo. Dengan hadirnya 3G, masyarakat sudah dapat menikmati berbagai macam layanan internet, seperti browsing, pengiriman email, streaming video dan musik, hingga teleconference. Teknologi 3G pertama kali hadir di Indonesia tahun 2005.

Adapun teknologi 4G pertama kali diluncurkan secara komersial di Stockholm, Swedia dan Oslo pada 2009. Teknologi ini menggunakan standar LTE (Long Term Evolution) berbasis teknologi Orthogonal Frequency Division Multiplexing (OFDM).

Sementara itu, teknologi 5G pertama kali diluncurkan di Korea Selatan tahun 2019. Perkembangan teknologi 5G akan memfasilitasi perkembangan layanan seperti enhanced Mobile Broadband, streaming Virtual Reality (VR), akses internet super cepat, telemedis, video streaming dengan kualitas 8K, cloud gaming, autonomous car, maupun smart home monitoring.

Di Indonesia, teknologi 5G resmi diluncurkan pada akhir Mei 2021, dengan Telkomsel sebagai operator pertama yang meluncurkannya. Teknologi 5G menggunakan dua pita frekuensi, yaitu 2.300 MHz untuk data plane dan frekuensi 1.800 MHz untuk control plane. Kecepatan internet 5G diklaim jauh lebih cepat daripada 4G. Kecepatan unduhnya mencapai 20 Gbps atau 20 kali lipat dari 4G. Teknologi 5G juga dapat menampung 1 juta perangkat dalam radius 1 km2 atau 10 kali lipat dari teknologi 4G.

Siklus hidup teknologi jaringan seluler yang semakin singkat makin terasa mengingat beberapa negara saat ini mulai melakukan riset pengembangan teknologi 6G. Merger antara PT Indosat Tbk dan PT Hutchison 3 Indonesia akan mempermudah Indosat memperluas dan meningkatkan layanan teknologi 5G di seluruh area Indonesia.

Pada akhir Juni 2021, PT Indosat Tbk resmi meluncurkan layanan komersial teknologi 5G untuk pertama kalinya di Kota Solo. Indosat bekerja sama dengan Pemerintah Kota Solo untuk mendukung pemulihan ekonomi di kota tersebut dan sekaligus mendukung visi Kota Solo untuk menjadi “smart city”.

Teknologi 5G membutuhkan tingkat frekuensi yang semakin tinggi, dan oleh karena itu kebutuhan investasi juga akan semakin besar. Merger antara PT Indosat Tbk dan PT Hutchison 3 Indonesia akan memperkuat frekuensi, terutama di frekuensi 1.800 MHz dan 2.100 frekuensi Mhz.

Berbeda dengan PT Telkomsel maupun PT Smartfren Telecom Tbk yang menyelenggarakan layanan 5G pada frekuensi 2.300 MHz, Indosat sendiri menjalankan layanan 5G pada frekuensi 1.800 MHz. Merger antara PT Indosat Tbk dan PT Hutchison 3 Indonesia akan membuat teknologi 5G Indosat semakin solid berkat tambahan frekuensi dari Hutchison 3.

Kesuksesan peluncuran layanan 5G di Kota Solo akan diikuti peluncuran layanan 5G di kota-kota lainnya. Merger antara PT Indosat Tbk dan PT Hutchison 3 Indonesia akan membuat posisi keuangan Indosat lebih kuat sehingga dapat mempercepat penyebaran layanan 5G di Indonesia.

Saat ini, layanan 5G Indosat juga sudah hadir di Kota Jakarta, Surabaya, Balikpapan dan Makassar. Langkah Indosat yang lebih dahulu meluncurkan layanan teknologi 5G akan diikuti Hutchison 3 Indonesia. Hal ini dilakukan Indosat untuk mempertahankan loyalitas pelanggan Hutchison 3 agar tidak pindah ke operator lain yang sudah menyelenggarakan layanan 5G.

Berdasarkan penelitian Research on Asia Holding (2012), Indonesia memiliki tingkat churn tertinggi di Asia pada 2011, yaitu sebesar 12%. Churn adalah tingkat perpindahan pelanggan dari satu operator ke operator lain nya. Semakin besar tingkat churn berarti semakin besar pula potensi hilangnya keuntungan yang dialami oleh suatu operator seluler.

Merger antara PT Indosat Tbk dan PT Hutchison 3 Indonesi  sangat positif bagi perkembangan industri telekomunikasi di Indonesia. Merger akan membuat posisi modal semakin kuat sehingga perang tarif dengan mengorbankan kualitas layanan dapat dihindari. Harapannya, iklim kompetisi sehat pada industri telekomunikasi dapat terwujud.

Kita mengetahui bersamasama bahwa dalam dua decade terakhir, perang tarif antaroperator telekomunikasi di Indonesia sering kali dilakukan. Perang tarif berawal sejak era voice dan SMS, kemudian berlanjut ke era data. Perang tarif dilakukan antaroperator untuk mendapatkan pelanggan baru dari operator lain.

Perang tarif yang dilakukan perusahaan telekomunikasi akan membuat profitabilitas perusahaan menyusut. Hal ini membuat industri telekomunikasi di Indonesia tumbuh tidak sehat.

Dalam jangka pendek, perang tarif seolah-olah menguntungkan konsumen karena mendapat kan tarif yang lebih murah. Dalam jangka pendek, perang tarif juga akan meningkatkan jumlah market share. Namun, dalam jangka panjang, akan merusak industri itu sendiri. Margin keuntungan akan tergerus sehingga perusahaan telekomunikasi harus mengorbankan kualitas layanan sebagai kompensasi turunnya keuntungan.

Data historis menunjukkan, kualitas jaringan yang dimiliki operator yang melakukan perang tarif akan mengalami penurunan. Sebut saja, operator X. Pada bulan Mei hingga Juni 2016, kecepatan unduh 4G mencapai 8,35 Mbps, namun di periode November 2016 hingga Januari 2017 kecepatannya tinggal 2,78 Mbps.

Dari data tersebut, dapat disimpulkan bahwa operator telekomunikasi yang melakukan perang tarif dalam jangka panjang tidak akan mampu menjaga kualitas layanan yang diberikan kepada pelanggannya. Merger antara PT Indosat Tbk dan PT Hutchison 3 Indonesia akan membuat posisi modal Indosat semakin kuat dan tercipta struktur biaya yang lebih efisien.

Dengan struktur biaya yang lebih efisien, Indosat dapat menerapkan tarif yang lebih kompetitif tanpa mengorbankan kualitas layanan. Melalui merger, Indosat akan dapat lebih fleksibel dan leluasa melakukan ekspansi, tidak hanya secara horizontal, juga secara vertikal.

Seperti kita ketahui, beberapa pesaing Indosat sudah melakukan ekspansi secara vertikal, masuk ke bisnis digital yang dalam beberapa tahun terakhir berkembang pesat, seperti e-commerce. Bukan tidak mungkin pula, aksi merger serupa diikuti oleh operator-operator lainnya, seperti PT XL Axiata Tbk dan PT Smartfren Telecom Tbk. Kabar terakhir, baik XL Axiata maupun Smartfren sedang berkonsultasi dengan penasihat keuangan masing-masing untuk membahas rencana merger.

Di sisi lain, semangat UU Cipta Kerja atau Omnibus Law diharapkan berjalan dengan baik dan mendukung aksi merger seperti ini. Kita semua berharap, proses merger antara PT Indosat Tbk dan PT Hutchison 3 Indonesia dapat berjalan lancar. Menarik untuk kita tunggu, ekspansi Indosat pascamerger dengan Hutchison. Maju terus industri telekomunikasi Indonesia!

*) Head of Investment Pacific Capital Investment.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN