Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Aceng Hidayat, Sekretaris Institut/Kepala Kantor Manajemen Risiko dan Perlindungan Kerja; Dosen Departemen Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan, FEM-IPB University; Pengajar Filsafat Ilmu Program Doktor

Aceng Hidayat, Sekretaris Institut/Kepala Kantor Manajemen Risiko dan Perlindungan Kerja; Dosen Departemen Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan, FEM-IPB University; Pengajar Filsafat Ilmu Program Doktor

Inovasi Teknologi Pertanian untuk Siapa?

Jumat, 17 Desember 2021 | 14:14 WIB
Aceng Hidayat *) (redaksi@investor.id)

Perihal urgensi ilmu dan teknologi untuk mengangkat harkat martabat bangsa telah lama digemakan. Sejak zaman Orde Baru (Orba) kita sudah mengenal istilah Ipteks. Akronim dari ilmu pengetahuan, teknologi dan seni. Urgensi tentang Ipteks gencar dikampanyekan.

Pemerintah kala itu, dimotori Menteri Ristek dan Teknologi/Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi legendaris Prof Dr Ing, BJ Habibie, membuat peta jalan pengembangan Ipteks yang jelas dan terukur. Lahirnya PT Nurtanio di Bandung untuk mengembangkan tek nologi pesawat terbang; PT PAL di Surabaya untuk kapal laut; PT Kereta Api Indonesia (KAI) untuk perkeretaan; dan PT Pindad di bidang persenjata an, tidak lepas dari peta jalan pengembangan Ipteks.

Advertisement

Mengapa keempat teknologi tadi yang dipilih? Karena keempatnya bersifat strategis, mengingat kondisi geografis, de mografis, sosialogis, dan ekonomi Indonesia. Keempat nya juga dikenal sebagai “industri strategis”.

Di luar itu sebetulnya masih ada pengembangan teknologi obat-obatan dan kimia. Selain menyiapkan kelembagaan perusahaan berbadan hu kum sebagai pusat pengembangan Ipteks, Prof Habibie kala itu juga menyiapkan sumber daya manusianya.

Maka, sepanjang era 1980-an hingga 1990-an ribuan lulusan SMA yang cerdas dikirim ke berbagai ne gara maju seperti Jerman, Amerika, Jepang, dan Inggris untuk belajar. Dengan beasiswa full pemerintah Indonesia melalui program STAID. Mereka mengambil program sarjana (S1) hingga doktor (S3).

Setelah lulus, mereka pulang ke Indonesia menempati posisi yang sudah disediakan. Baik sebagai peneliti maupun perekayasa. Teknologi dan inovasi yang dikembangkan termasuk high technology (hi-tech). Teknologi advances yang dikembangkan untuk mencapai mimpi masa depan sebagai bangsa maju setara dengan bangsa-bangsa lain.

Di luar Ipteks dan hitech, kita pun mengenal istilah teknologi tepat guna (TTG). Teknologi se derhana untuk mengatasi persoalan realitas kehidupan keseharian. Teknologinya sesuai kebutuhan masyarakat. TTG pada masanya mendapatkan tem pat terhormat.

Terutama di bidang per tanian. Lahir nya ragam pupuk dan obat-obatan serta alat-alat pertanian sederhana, --yang dikembangkan oleh pusat peneletian teknologi tepat guna,-- tidak terlepas dari upaya terencana tadi. Makanya, kita bisa melihat saat itu untuk siapa sebenarnya teknologi dan inovasi dikembangkan. Pertanyaan berikutnya adalah ke mana arah pengembangan Ipteks saat ini? Masihkah kita punya visi dan mimpi?

Inovasi untuk Siapa?

Pascareformasi 1998 hingga sekarang, arah pengembangan teknologi dan inovasi mengalami masa muram. Energi bangsa habis terkuras ke hingar-bingarnya agenda demokrasi. Para il muan pun kehilangan elan vitalnya. Bahkan tak sedikit dari mereka yang tergoda masuk ke dalam ranah politik praktis dan pegiat demokrasi.

Pun, Negara se bagai wadah anak bangsa un tuk membangun cita-cita bersama, seperti kehilangan spi rit dan arah. Landasan kebijak an dan kelembagaan yang sudah dibangun sebagai dasar pengembangan teknologi pun lambat laun melemah tak berdaya.

Sumber daya manusia unggul yang disiapkan sebelumnya dengan anggaran negara yang besar, menyebar dan menyelamatkan dirinya masing-masing. Sebagian masuk ke partai politik. Tak sedikit pula berdiaspora di negara lain sebagai pro fesional berbayar mahal. Sejatinya, kita sebagai bangsa mengalami kerugian yang tiada tara (drained brain).

Saat ini mestinya kita memanen karya mereka. Tapi kenyataannya, gagal. Pasalnya, kita tidak menyediakanruang dan kesempatan buat mereka berkarya. Belakangan ini urgensi Ipteks untuk kebangkitan bangsa kembali mewacana. Peran dan keberadaan Perguruan Tinggi (PT) dan lembaga penelitian pun mulai disorot. Riset PT yang selama ini berorientasi aka demik diminta berkontribusi dalam pengembangan inovasi terapan.

Ragam insentif pun disediakan bagi mereka yang mampu berinovasi. Mulai dari insentif tambahan biaya penelitian hingga sinergi bagi inovator yang berhasil membisniskan inovasinya. Lahirnya Kedaulatan Indonesia dalam Reka Cipta (Kedai Reka) dan hilirisasi merupakan ikhtiar membangun sinergi antara PT dan industri.

Itulah sebabnya, belakangan ini PT giat mencari mitra industri yang mau memasarkan inovasi yang dihasilkan para inovatornya. Terpaksa para dosen yang selama ini jago meneliti dan lihai publikasi mesti berdagang pula. Untungnya, setiap PT didorong mengembangkan Sciences and Technopark (STP). Tujuannya mendampingi sang dosen membisniskan karya emasnya.

Dengan adanya Kedai Reka dan hilirisasi dengan mitra industri, timbul pertanyaan, buat siapa sejatinya inovasi tersebut? Buat industri? Bisnis? Lalu, bagaimana pula dengan elemen masyarakat yang menghadapi persoalan realitas kehidupan ke seharian, khususnya petani kecil? Mereka memerlukan inovasi TTG. Siapa yang menyiapkannya? Para petani kecil sejatinya tidak memerlukan inovasi digital, robot, atau drone.

Urusan mereka adalah lahan yang tidak subur, hama penyakit tanaman yang tak terkendali, kesulitan mendapatkan benih, pupuk dan obat-obatan. Masih seputar itu. Makanya dibutuhkan pemikiran dan agenda PT beserta para ilmuannya.

Untuk itu, PT harus mengembangkan agenda riset yang membidik dua kelompok kepentingan sekaligus.

Agenda Riset Perguruan Tinggi Pertanian

Ilustrasi Inovasi teknomogi pertanian
Ilustrasi Inovasi teknomogi pertanian

Untuk menjawab serangkaian pertanyaan di atas, reformasi agenda riset PT adalah ia mesti berani keluar dari pakem kelaziman.

Pertama, PT segera membangun komunikasi dan sinergi dengan industri. Dalam konteks PT pertanian, pimpinan PT segera membangun sinergi dengan industri pertanian papan atas. Baik BUMN maupun BUMD. Kedua pihak mesti mau berdiri sama tinggi duduk sama rendah membicarakan persoalan penting mendesak bidang pertanian. Lalu dicarikan solusinya demi memperkuat pertanian dalam jangka panjang. Output-nya adalah agenda riset bersama. Agar mengikat kedua pihak mesti dibuat kontrak yang mengatur hak dan kewajiban.

Perlu juga dimediasi oleh pemangku kepentingan terkait dari pemerintah. Ini yang dipraktikkan PT di luar negeri. Mereka memiliki mitra industri strategis dalam pengembangan teknologi dan inovasi. PT Pertanian kelas dunia, semisal University of California, Davis (UCD), bermitra de ngan seluruh perusahaan per tanian asal Amerika. Info itu saya dapatkan ketika tahun 2016 berkesempatan diskusi dengan dekan college of agriculture-nya.

Pun demikian, the Earth University, Costa Rika merupakan mi tra strategisnya Kellog’s, perusahaan pertanian multinasional asal Amerika. Fakultas Pertanian Humboldt University, Berlin-Jerman, tempat saya menuntaskan program doktor pun bermintra dengan perusahaan pertanian Jerman dalam mengembangkan riset besama.

Saya yakin, Wagenigen University Belanda pun ber mi tra dengan perusahaanperusahaan pertanian. Jika pola ini yang kita lakukan, tak perlu program Kedai Reka dan hilirisasi inovasi. Kita tidak perlu menjajakan ha sil inovasi kita kepada pihak industri. Karena inovasi sudah dihasilkan bersama. Kasarnya, tinggal menghitung untung dan share-nya.

Kedua, untuk mengatasi persoalan remeh temeh para petani, para ilmuan mesti sering piknik. Pikniknya bukan dari hotel ke hotel atau seminar ke seminar saja. Melainkan piknik menemui, menyapa, dan mengajak bicara para petani dengan hati dan cinta. Seraya menanggalkan segenap atribut kebesaran ilmiah dengan kerendahan hati menggali persoalan realitas mereka.

Mungkin ada keluhan atau makian dan ragam ungkapan lainnya. Kita simak  dan dengarkan saja. Tak perlu direspons. Semakin banyak keluhan yang kita tampung semakin ba nyak informasi yang kita da pat kan. Itu jutru merupakan kekuatan yang sangat dahsyat guna menyusun agenda riset te rapan. Jika segenap dosen, mulai dari asisten ahli hingga guru besar acapkali menyapa petani, kita memiliki “big data” mengenai persoalan pertanian pada tataran akar rumput.

Untuk itu, PT perlu membuat ke bijakan dan agenda riset ber ori entasi kerakyatan. Supaya tak ditinggalkan rakyat. Karena sejatinya calon mahasiswa kita berasal dari rakyat. Makanya, kita memerlukan rakyat.

Ketiga, selain kedua agenda tadi, PT pun tetap memiliki agen da riset ilmiah. Utamanya, pengembangan ilmu-ilmu dasar dan penelitian level tinggi. Arahnya adalah membidik kepentingan pengembangan keilmuan dan peradaban ilmu pengetahuan di masa depan. Hasil risetnya tak dinanti-nantikan untuk mengatasi persoalan mendesak jangka pendek.  Output ketiga agenda riset tersebut semuanya mesti didisemi nasikan dalam ragam forum dan media ilmiah. Pun mesti di publikasikan dalam jurnaljurnal bereputasi.

Tujuannya, untuk menebar kemanfaatan dan mendapatkan umpan balik dari sesama kolega. Jika terealisasi, kita membayangkan sesuatu yang terasa sangat indah. Betapa tingginya nilai kemanfaatan ilmu pengatahuan. Sekaligus mengangkat derajat ilmuannya. Yang kerja secara telaten dan konsisten. Tanpa tergoda politik dan kekuasaan. Pun jauh dari he gemoni kekuasaan dan politisasi.

*) Sekretaris Institut, IPB; Dosen Departemen Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan FEM IPB.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN