Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Achmad Deni Daruri

Achmad Deni Daruri

ESG dan Persaingan Sawit

Kamis, 13 Januari 2022 | 13:03 WIB
Achmad Deni Daruri *)

Bahasa menunjukkan bangsa dan sesungguhnya bahasa akan menentukan kemenangan. Persaingan antarprodusen minyak nabati akan ditentukan oleh siapa yang paling cepat dan tepat dalam menggunakan bahasa ESG (environment, social, and governance).

Menurut Porter yang juga ahli teori persaingan, kemakmuran nasional diciptakan, bukan diwariskan. Itu tidak tumbuh dari anugerah alami suatu negara, kumpulan tenaga kerjanya, tingkat suku bunganya, atau nilai mata uangnya, seperti yang ditekankan oleh ekonomi klasik. Daya saing suatu negara tergantung pada kapasitas industrinya untuk berinovasi dan meningkatkan produktivitas.

Perusahaan memperoleh keuntungan melawan pesaing ter baik di dunia karena tekanan dan tantangan. Mereka mendapat manfaat dari memiliki saingan domestic yang kuat, pemasok berbasis domestik yang agresif, dan pelanggan lokal yang menuntut. Dalam dunia persaingan global yang semakin meningkat, Negara menjadi semakin penting.

Seiring dengan semakin bergesernya basis persaingan ke kreasi dan asimilasi pengetahuan, peran negara pun tumbuh. Keunggulan kompetitif diciptakan dan dipertahankan melalui proses yang sangat terlokalisasi. Perbedaan nilai nasional, budaya, struktur ekonomi, institusi, dan sejarah, semuanya berkontribusi pada ke suksesan kompetitif.

Ada perbedaan mencolok dalam pola daya saing di setiap negara; tidak ada negara yang dapat atau akan bersaing di setiap atau bahkan sebagian besar industri. Pada akhirnya, negara-negara yang berhasil dalam industri tertentu karena lingkungan domestik mereka adalah yang paling ber wawasan ke depan, dinamis, dan menantang. Intinya adalah yang paling ramah terhadap ESG.

Dalam konteks industri sawit, pesaing utama sawit adalah kedelai. Negara dengan produktivitas tertinggi dalam produksi kedelai adalah Amerika Serikat dengan produktivitas mencapai 3.500,6 kg/ha (2020) dengan luas lahan tanam yang juga paling besar, yaitu 33.482.430 hektare. Posisi kedua dan ketiga adalah Argentina dan Brasil yang masing-masing dengan produktivitas mencapai 3.014,6 kg/ha dan 2.904,6 kg/ha. Luas lahan kedelai di Brasil dan Argentina masing-masing adalah 33.153.679 ha dan 19.504.648 ha.

Jelas sekali bahwa negara-negara itu merupakan kompetitor tangguh dari negara produsen sawit. Jika kebun sawit di Indonesia hanya memiliki produktivitas sebesar 3 ton/ha, akan sulit ba gi produsen sawit Indonesia untuk menguasai pasar minyak nabati dunia karena masih kalah produktivitasnya dari industri keledai di Amerika Serikat.

Belum lagi, selama ini Uni Eropa telah mempermasalahkan perusahaan perkebunan sawit yang dinilai melakukan deforesasi hutan, sementara produsen minyak nabati nonsawit, termasuk kedelai, tidak mengalami permasalahan tersebut.

Setelah Joe Biden menjadi presiden Amerika Serikat, dapat diperkirakan bahwa negara yang merusak hutan, baik untuk penanaman sawit ataupun nonsawit akan dikenai sanksi internasional. Investor Uni Eropa dan dunia (baca: Amerika Serikat) akan menggunakan pendekatan ESG untuk menurunkan daya saing perusahaan-perusahaan yang melanggar lingkungan hidup, sehingga daya saingnya semakin menurun.

Sampai saat ini Uni Eropa baru menggunakan instrument perdagangan internasional untuk menghambat produsen sawit yang merusak hutan, yang jika dikombinasikan dengan instrument ESG maka investor dari produsen yang merusak hutan akan mendapatkan sanksi ekonomi yang lebih luas.

ESG menjadi instrumen penting dalam persaingan sawit melawan minyak nabati lainnya. ESG harus segera diterapkan oleh produsen sawit di Indonesia karena hanya masalah waktu bahwa produsen minyak nabati nonsawit lainnya juga akan menerapkan ESG.

Deforestasi mengancam keanekaragaman hayati dan menyebabkan emisi gas rumah kaca. Itulah alasan utama dari Uni Eropa. Secara akal sehat Uni Eropa harus tetap menghormati fakta kelebihan minyak sawit ketimbang minyak nabati lainnya sehingga produksi sawit yang tidak menyebabkan deforestasi tidak boleh didiskriminasi.

Peningkatan daya saing industri sawit nasional juga harus sejalan dengan arahan Michael Porter yang mengusulkan teori keunggulan kompetitif pada ta hun 1985. Teori keunggulan kompetitif menyarankan bahwa negara dan bisnis harus mengejar kebijakan yang menciptakan barang berkualitas tinggi untuk dijual dengan harga tinggi di pasar. Porter menekankan pertumbuhan produktivitas sebagai fokus strategi nasional. Namun arahan itu tidak cukup karena masih mengabaikan Bahasa ESG.

Untuk itu, Pemerintah Indonesia harus segera memberikan rekomendasi kepada perusahaan sawit untuk mengungkapkan dua risiko berbeda yang ditimbulkan oleh perubahan iklim. Yang pertama adalah risiko fisik terhadap ekonomi dan organisasi individu yang disebabkan oleh badai, kekeringan, kebakaran hutan, atau pola cuaca yang berubah dari waktu ke waktu.

Risiko fisik juga diwakili oleh perubahan permukaan laut, yang dapat mem bahayakan real estat pesisir dan bisnis apa pun yang terkait dengannya. Risiko kedua adalah risiko sementara,atau risiko yang terkait dengan penyesuaian mendadak terhadap ekonomi rendah karbon.

Risiko tersebut termasuk kerugian cepat dalam nilai aset karena perubahan kebijakan atau preferensi konsumen. Pemerintah Indonesia dan Otorits Jasa Keuangan (OJK) harus merekomendasikan perusahaan kelapa sawit untuk mengungkapkan risiko terkait iklim di empat bidang terpisah: tata kelola, strategi, manajemen risiko, serta metric dan target.

Ilustrasi sawit: Investor Daily
Ilustrasi sawit: Investor Daily

Perusahaan kelapa sawit nasional harus mengungkapkan tata kelola risiko dan peluang ter kait iklim dengan menjelaskan bagaimana dewan dan manajemennya mengawasi dan menilai mereka. Pengungkapan strategi akan melibatkan penggambaran “dampak aktual dan potensial dari risiko dan peluang terkait iklim pada bisnis, strategi, dan perencanaan keuangan organi sasi di mana informasi tersebut material.”

Pengungkapan tersebut akan mencakup efek jangka pendek dan jangka panjang pada produsen kelapa sawit nasional akan dampak dari risiko tersebut; dan mencoba mengukur ketahanan strategi tersebut, dengan mempertimbangkan skenario perubahan iklim yang berbeda.

Pengungkapan manajemen risiko akan menjelaskan bagaimana organisasi mengidentifikasi, menilai, dan mengelola risiko terkait iklim. Akhirnya, perusahaan sawit dan turunannya harus meng ungkapkan metrik dan target yang digunakan untuk menilai dan mengelola risiko dan peluang terkait iklim yang relevan di mana informasi tersebut material

Jika produsen kelapa sawit nasional dapat menerapkan rekomendasi tersebut dengan baik, dan sebaliknya, ternyata produsen minyak nabati nonkelapa sawit lainnya tidak dapat menerapkannya dengan baik, hanyalah masalah waktu bahwa Uni Eropa akan merevisi regulasi terhadap sawit yang diskriminatif itu.

Untuk itu peran pemerintah, OJK dan regulator kelapa sawit diperlukan untuk mendorong industri kelapa sawit nasional dan turunannya menerapkan aturan ESG dengan baik.

Produsen ke lapa sawit dan turunannya di Indonesia harus dalam tempo yang sesingkat-singkatnya menggunakan Bahasa ESG agar dapat memenangi persaingan dalam pasar minyak nabati dunia.

*) President Director Center for Banking Crisis

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN