Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Aceng Hidayat, Sekretaris Institut/Kepala Kantor Manajemen Risiko dan Perlindungan Kerja; Dosen Departemen Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan, FEM-IPB University; Pengajar Filsafat Ilmu Program Doktor

Aceng Hidayat, Sekretaris Institut/Kepala Kantor Manajemen Risiko dan Perlindungan Kerja; Dosen Departemen Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan, FEM-IPB University; Pengajar Filsafat Ilmu Program Doktor

Risiko Reputasi Perguruan Tinggi

Minggu, 23 Januari 2022 | 07:09 WIB
Aceng Hidayat *)

Tak terasa tahun 2021 baru saja berlalu. Mau tidak mau, suka tidak suka, kini kita sudah memasuki tahun 2022. Waktu terus berjalan dengan cepat. Tak menunggu siapa pun, ia terus melibas dan menyalib, tak ada yang mampu menghalanginya. Bagi perguruan tinggi, tahun ini dan juga tahun-tahun mendatang, dihadapkan pada tantangan yang maha berat.

Tantangan yang mengadang perguruan tinggi terutama dalam hal membangun reputasi sebagai akumulasi atas prestasi yang semakin menjadi tuntutan dan harapan.

Reputasi adalah nama baik atau perbuatan sebagai sebab mendapatkan nama baik (KBBI online). Reputasi bisa disamakan dengan citra. Citra adalah gambaran pikiran sesorang tentang sesuatu. Sesuatu itu bisa orang, lembaga, komunitas atau apapun yang merupakan sebuah entitas. Citra bisa baik.

Bisa juga buruk. Reputasi pasti mencitrakan sesuatu yang baik. Citra baik bisa jadi berubah buruk. Jika citra tadi hasil pencitraan yang tidak disertaibukti-bukti pendukungnya.

Citra baik bisa juga rusak oleh perilaku atau fakta lain yang tidak sesuai dengan harapan pemberi citra. Karena sejatinya citra adalah pengakuan atas kebaikan-kebaikan atau prestasi akumulatif melalui proses panjang dari entitas yang dicitrakannya.

Sebagai lembaga penyedia jasa, perguruan tinggi (PT) saat ini memerlukan reputasi. Ia memerlukan citra. Bukan pencitraan. Yaitu berupa pengakuan kebaikan-kebaikan, prestasi dan atribut lainnya yang dianggap penting oleh masyarakat.

Dalam hal ini, masyarakat bisa termasuk orang tua calon mahasiswa, calon mahasiswa, mahasiswa itu sendiri, civitas akademika, pengguna lulusan, dan masyarakat pada umum nya. Mereka memiliki kuasa mutlak memberikanpenga kuan atas reputasi perguruan tinggi. PT sendiri tidak mampu mengintervensinya.

Karena itu, yang dapat PT lakukan adalah menciptakan kebaikan-kebaikan dan prestasi yang terus menerus sehingga berdampak pada reputasi. Reputasi adalah pengakuan pihak lain atas akumulasi kebaikan, kemanfaatan dan prestasi dalam jangka panjang.

Indikator Reputasi

Ilustrasi lulusan perguruan tinggi: Investor Daily
Ilustrasi lulusan perguruan tinggi: Investor Daily

Reputasi memiliki indikator. Pun demikian untuk reputasi PT. Lalu, apa indikator reputasi PT? Dari pengalaman dan penga matan saya sebagai bagian dari manajemen PT beberapa tahun terakhir ini, ada sejumlah indikator penting reputasi PT. Di antaranya adalah, pertama, pemeringkatan. Banyak PT mengikuti pemeringkatan.

Baik yang diselenggarakan QSWorld University Ranking, Time Higher Education (THE) World University Ranking, Webometrics, UI Greenmatric World University Ranking (UIGMWUR), dan sebagainya. Termasuk juga ranking pencapaian indicator utama (IKU) PT yang dirilis oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Ristek dan Pendidikan Tinggi (Kemendikbudristek). Pemeringkatan ini memang dilematis.

Di satu sisi merepotkan. Bahkan bisa menyita waktu, pikiran dan sumber daya. Dengan banyak pemeringkatan yang diikuti maka banyak pula sumber daya yang tersita. Karenanya, banyak pihak yang tidak menyukai pemeringkatan. Bahkan, tak sedikit yang meminta agar PT tidak mesti ikut-ikut pemeringkatan.

Di sisi yang lain, setiap ada pemeringkatan kita sama-sama mengecek hasilnya. Benar kata orang “no body like ranking but everybody check it. Dan pemeringkatan ini sangat berpengaruh pada reputasi atau citra baik tadi. Apalagi di era serba terbuka. Media bisa mengakses dan menyebarkan informasi pemeringkatan tersebut di dunia maya. Dengan bahasa dan narasi sesuai dengan selera mereka.

Kedua, inovasi. Inovasi merupakan karya nyata insan akademik. Tentu, selain publikasi dan desimenasi hasil-hasil penelitian. Namun, tidak semua inovasi berdampak pada reputasi. Hanya inovasi yang memberikan solusi pada persoalan kemanusiaan. Bukan jumlahnya. Tapi dampaknya. Outcome-nya. Dan hal tersebut sejalan dengan perkembangan sains dari masa ke masa.

Sains berkembang karena dorongan saintisnya menjawab persoalan kemanusiaan. PT yang meraih banyak inovasi bisa jadi digelari PT paling inovatif. Tapi hal tersebut belum tentu berdampak pa da reputasi. Karena, lagi-lagi reputasi adalah soal pengakuan atas kebaikan dan kemanfaatan kehadiran PT yang dirasakan dan diakui oleh masyarakat. Reputasi bukan klaim sepihak.

Ketiga, kiprah dan keterserapan lulusan di dunia kerja. Tak da pat dimungkiri PT saat ini memainkan peran multifungsi. Selain fungsi tridarma, --penelitian, pendidikan, dan pengabdian,-- PT juga dituntut menyiapkan tenaga kerja. Dunia kerja saat ini memerlukan tenaga-tenaga terdidik, profesional dan kompeten. PT dituntut untuk dapat menyiapkan tenaga kerja tersebut.

Ketidakmampuan PT menyediakan tenaga kerja sesuai kebutuhan dunia kerja akan menyebabkan PT tersebut mendapatkan reputasi yang kurang baik. Bahkan, sering kali media merilis secara sepihak, misal, 10 PT yang lulusannya paling cepat mendapatkan pekerjaan. Dan, hal ini sangat menohok PT yang tidak termauk dalam rilis tersebut. Tentu, ia langsung tidak langsung memengaruhi penilaian masyarakat atas PT tersebut. Lagi-lagi hal ini pun akan berdampak pada reputasi PT.

Selain keterserapan lulusan dalam dunia kerja, kiptah lulusan PT dalam ragam kehidupan pun menentukan reputasi PT. Lulusan PT yang banyak menjadi pengusaha sukses, pendiri unicorn, atau pelaku wirausaha sosial dapat mengangkat reputasi dan citra baik almamaternya. Maka dari itu, selain menyiapkan tenaga kerja profesional, PT pun dituntut menyiapkan lulusan yang dapat berkiprah dalam ragam medan pengabdian.

Keempat, tata kelola sarana prasarana. Sarana dan pasarana (struktur dan infrastruktur) yang tertata dengan baik juga berdampak pada reputasi. Kampus yang indah, bersih, nyaman, dan ramah lingkungan akan memberikan kesan baik dan daya pikat yang kuat. Pun ia akan mem beri kesan kampus tersebut sebagai tempat yang baik untuk menimba ilmu.

Banyak calon mahasiswa menjatuhkan pilihan pada suatu PT setelah menyaksikan keindahan kampusnya. Mereka bisa melihat langsung pada saat kunjungan atau bisa juga melihat foto-fotonya yang diunggah di media sosial, khususnya instragram (IG). Karena itu, penataan kampus yang baik (instragamable) sangat penting dalam membangun reputasi. Ia tidak boleh diabaikan.

Sebetulnya, masih banyak in dikator reputasi lainnya yang bisa dituliskan. Namun, keempat indikator tadi merupakan indicator kunci yang paling mudah dan berdampak pada pembentukan reputasi. Lalu, apa risikonya jika keempat indikator tadi tidak terpenuhi?

Risiko Reputasi

Merujuk pada sejumlah referensi, risiko adalah ketidakpastian dalam mencapai tujuan. Bila PT ingin mencapai reputasi yang baik, maka PT mesti menjadikan keempat indiator reputasi sebagai tujuan PT. Karena itu, PT mesti merumuskan tujuan tersebut dengan jelas, terukur, akurat, relevan dan jelas waktu pencapaiannya. PT pun mesti merumuskan strategi bagaimana mencapai keempat tujuan tadi.

Pertama, setiap pemeringkatan memiliki indikatior dan parameter yang basisnya adalah prestasi. Baik akademik, penelitian, pengabdian, kegiatan kemahasiswaan, publikasi, tata kelola dan sebagainya. Pimpinan PT yang memahami dengan baik indikator dan parameter pemeringkatan, maka ia akan menyusun program kerja yang akan mengarah pada pencapaian indikator pemeringkatan tadi.

Jadi, pemeringkatan ha nya merupakan buah dari pe laksanaan program kerja yang tertata dan terdata dengan baik. PT yang tidak mampu menata dan mendata program kerjanya dipastikan akan mendapatkan ranking yang buruk dan akan berdampak pada reputasi yang buruk pula.

Kedua, inovasi. Sebagaimana penulis singgung pada bagian awal tulisan ini, inovasi yang berdampak pada reputasi adalah inovasi yang memberikan kemanfataan yang tinggi bagi masyarakat. Karena itu, untuk meraih reputasi dari inovasi maka PT mesti memiliki agenda inovasi yang jelas kemanfaatannya. Inovasi yang menjawab persoalan masyarakat. Bukan asal inovasi atau inovasi asal-asalan.

Ketiga, PT mesti peka dengan kebutuhan dunia kerja. Pimpinan PT mesti paham betul-betul hard skill apa yang dunia kerja perlukan. Apakah hard skill berbasis monodisplin, multi atau bahkan transdisiplin yang diperlukan saat ini. Pimpinan PT perlu mengkaji dan merumuskan kurikulum yang tepat.

Selain hard skill, PT juga perlu merumuskan soft skill yang perlu dimiliki mahasiswa dan bagaimana mencapainya. Setiap PT mesti mampu merumuskan soft skill yang menjadi ciri khas PT tersebut jika ia menginginkan skill tersebut berdampak pada reputasi. Bahkan menjadi brand-nya. PT mesti mampu merumuskan dan memprofilkan lulusan yang diinginkan.

Kegagalan merumuskan profil tadi akan berdampak pada kegagalan menciptakan lulusan yang baik yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. Hal tersebut pada akhirnya akan berdampak pula pada buruknya reputasi.

Keempat, kampus yang tertata dengan baik, indah, nyaman dan ramah lingkungan akan mendapatkan kesan baik dan memikat. Selain itu, kampus yang tertata dengan baik pun akan terasa nya man, kondusif bagi dunia aka demik dan terkesan sebagai kampus beradab dan berkelas. Karena itu, PT yang sadar dengan reputasi akan berusaha menata kampusnya dengan baik. Apalagi kalau penataan kampus tersebut dikaitkan pula dengan indikator green campus yang saat ini menjadi tren dunia pendidikan tinggi.

Kampus rendah karbon, hemat energi, hemat air dan sebagainya akan berdampak pula pada pembentukan reputasi. Itulah empat reputasi dan risikonya yang penulis anggap paling mewakili harapan masyarakat terhadap PT. Reputasi PT yang baik akan meningkatkan daya saing PT di tengah-tengah semakin meningkatnya persaingan antar- PT. PT yang tidak mampu membangun reputasi tadi akan ditinggalkan para calon mahasiswa.

Pun akan dijauhi dunia kerja sebagai pengguna lulusannya. Namun, perlu diakui membentuk dan mempertahankan reputasi baik sangat sulit. Ia memerlukan upaya dan daya yang besar, komitmen tinggi, konsistensi dan persistensi. PT yang sulit move on dan menanggung beban nama besar masa lalu mesti siap-siap tergilas zaman, ditinggalkan calon mahasiswa dan dunia kerja. Dan, itu merupakan tantangan ter berat PT tahun ini dan tahun-tahun mendatang.

*) Sekretaris Institut/Kepala Kantor Manajemen Risiko IPB; Dosen Departemen Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan FEM IPB.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN