Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Nirwono Joga, Direktur Eksekutif Pusat Studi Perkotaan

Nirwono Joga, Direktur Eksekutif Pusat Studi Perkotaan

Melestarikan Lahan Basah, Menghidupkan Bumi

Jumat, 4 Februari 2022 | 23:49 WIB
Nirwono Joga *) (redaksi@investor.id)

Indonesia memiliki setidaknya 30,3 juta hektare lahan basah yang tersebar di berbagai penjuru. Namun luas lahan basah cenderung terus mengalami pengurangan/penyusutan, beralih fungsi menjadi daerah permukiman, per tanian, dan eks ploitasi lainnya (Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, 2015).

Dalam konteks demikian, perlu upaya meningkatkan kesadaran masyarakat dunia akan peran penting lahan basah bagi kehidupan ma nusia. Selaras dengan Hari Lahan Basah Dunia (HLBD) yang diperingati setiap 2 Februari sejak 1997.

Advertisement

Lahan basah (wetland) adalah tempat bertemunya air dengan tanah, seperti kawasan bakau, delta pantai dan terumbu karang, lahan gambut, rawa-rawa, su ngai, situ/ danau/embung/waduk (SDEW), daerah dataran banjir, serta persawahan.

Lahan basah merupakan daerah rawa, payau, lahan gambut dan perairan, alami atau buatan, tetap atau sementara, dengan air tergenang atau mengalir, tawar, payau atau asin, termasuk wilayah perairan laut yang kedalamannya tidak lebih dari enam meter waktu surut.

Dunia tanpa lahan basah seperti dunia tanpa air. Artinya tidak akan ada kehidupan di dunia, karena dari air dijadikan segala sesuatu yang hidup (Surat Al Anbiya’: 30). Lalu, langkah apa yang harus dilakukan?

Pertama, Sang Khalik menurunkan air dari langit yang menjadi sumber-sumber air di bumi (berupa lahan basah) (Surat Az Zumar: 21). Lahan basah harus dilestarikan karena berfungsi sebagai sistem penyangga kehidupan, menjadi sumber air baku, sumber pangan, menjaga kekayaan keanekaragaman hayati, serta berperan sebagai pengendali iklim global dan pengurang risiko bencana.

Lahan basah juga berfungsi sebagai sumber dan pemurni air, pelindung pantai dan penyimpan karbon terbesar di bumi. Oleh sebab itu, peran ekosistem lahan basah sangat penting bagi mitigasi perubahan iklim.

Kedua, ekosistem lahan basah terbentuk akibat adanya genangan air yang terjadi secara terus menerus, baik permanen maupun musiman. Kemudian, biota di areal tersebut beradaptasi terhadap kondisi yang basah membentuk sebuah ekosistem khas lahan basah.

Tipologi ekosistem lahan basah terdiri atas ekosistem air tawar dan ekosistem estuarin. Ekosistem air tawar terdiri atas air yang tenang, seperti empang, SDEW, rawa, kolam, dan air meng alir seperti sungai dan sumber air.

Karakteristik lahan basah adalah keadaan tanahnya yang jenuh terhadap air. Lahan tersebut mencerminkan kondisi tanah yang selalu tergenang air, baik ber sifat musiman dan permanen (menetap). Lahan basah adalah lingkungan yang produktif di dunia, sumber keanekaragaman biologis, penyedia air baku, dan produktivitas primer bagi banyak jenis tumbuhan dan satwa liar yang bergantung hidup padanya.

Ketiga, pemerintah harus melindungi seluruh lahan basah, seperti konservasi hutan lindung di sumber-sumber mata air pegunungan dan daerah tangkapan hujan. Bumi memancarkan mata air-mata air, maka bertemulah air-air itu untuk satu urusan yang sungguh telah ditetapkan (Surat Al Qamar: 12). Rencana tata ruang mesti taat tujuan mengatur, mengendalikan, memanfaatkan peruntukan lahan sesuai kapasitas daya dukung dan daya tamping lingkungan hidup, termasuk menjaga dan melestarikan lahan basah.

Penghijauan dilakukan daerah aliran sungai dan sempadan atau bantaran sungai dari hulu ke hilir. Pemerintah harus membenahi badan sungai untuk dikeruk, di perdalam, diperlebar, dan dihijaukan untuk meningkatkan kapasitas air sungai. Sang Khalik menurunkan air (hujan) dari langit dan mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya (Surat Ar-Ra’du: 17).

Pengembangan hutan-hutan kota diperlukan untuk menjaga keberadaan SDEW yang tersebar di kota/kabupaten. Revitalisasi SDEW bertujuan untuk memperbesar daya tampung air: SDEW dikeruk, diperdalam, diperluas, diperlebar 50 meter ke arah daratan bebas bangunan, dan dihijaukan menjadi taman/hutan SDEW.

Keempat, pemerintah perlu merestorasi kawasan pesisir, berupa pengembangan hutan mangrove, rawa-rawa, atau hutan pantai ke arah daratan sejauh 500 meter dan bebas bangunan dan permukiman. Perluasan hutan mangrove untuk benteng alami kawasan pesisir pantai.

Lahan basah memiliki peran penting bagi alam karena ia mampu melindungi tepi laut dari gelombang laut, abrasi pantai, limpasan air laut (banjir rob), mengurangi dampak banjir, menyerap polutan/pencemar, meningkatkan kualitas air, serta menjadi habitat tumbuhan dan satwa liar.

Sang Pencipta menurunkan air dari langit menurut suatu ukuran dan menetap di bumi untuk meresap dan ditampung (di lahan basah) (Surat Al Mu’minum: 18) sebagai air minum bagi makhluk hidup (Surat Al Furqan: 49), menumbuhkan kebun dan pohonpohon (Surat An Naml: 60; Surat Qaf: 9), dan segala macam tumbuh- tumbuhan yang baik (Surat Luqman: 10). Ke depan, upaya pelestarian lahan basah memerlukan pendekatan pengelolaan risiko terpadu yang mencakup pengurangan risiko bencana, adaptasi perubahan iklim, serta manajemen dan restorasi ekosistem secara bersamaan.

Melestarikan lahan basah merupakan sebuah keharusan, bukan pilihan. Karena dengan menjaga kelestarian lahan basah akan menghidupkan bumi dengan air itu (Surat Ar Rum: 24).

*) Koordintor Pusat Studi Perkotaan.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN