SWIPE UP TO READ
 Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Aceng Hidayat, Sekretaris Institut/Kepala Kantor Manajemen Risiko dan Perlindungan Kerja; Dosen Departemen Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan, FEM-IPB University; Pengajar Filsafat Ilmu Program Doktor

Aceng Hidayat, Sekretaris Institut/Kepala Kantor Manajemen Risiko dan Perlindungan Kerja; Dosen Departemen Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan, FEM-IPB University; Pengajar Filsafat Ilmu Program Doktor

Kegamangan Pendidikan Tinggi Akademik?

Minggu, 13 Februari 2022 | 10:15 WIB
Aceng Hidayat *) (redaksi@investor.id)

Pendidikan tinggi adalah jenjang pendidikan selepas pendidikan menengah. Menurut Undang-undang No 12 tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi, jenis pendidikan tinggi terdiri atas pendidikan akademik, vokasi, profesi, dan spesialis. Dalam tulisan ini penulis mencoba fokus membedah arah pendidikan akademik dan vokasi.

Sudah sama-sama mafhum, pendidikan tinggi akademik memiliki tiga jenjang, yaitu sarjana (S1), magisters (S2), dan doctor (S3). Sedangkan jenjang pendidikan vokasi meliputi diploma dua (D2), diploma tiga (D3), diploma empat/sarjana terapan (D4), magister (S2) terapan, dan doktor (S3) terapan. Kedua jenis pendidikan tinggi ini memiliki arah yang berbeda. Merujuk pada Pasal 15 ayat (1), UU No 12/2012, arah pendidikan akademik adalah penguasaan dan pengembangan cabang ilmu pengetahuan dan teknologi. Output-nya insan akademik, ilmu pengetahun, teknologi dan inovasi.

Advertisement

Di sisi lain, pendidikan vokasi diarahkan untuk menyiapkan sum ber daya manusia unggul dengan kompetensi teknis yang siap mengisi lapangan pekerjaan sesuai kompetensi dan jenjangnya. Lulusan pendidikan vokasi biasanya disertai sertifikat kompetensi dari lembaga sertifikasi sebagai pengakuan formal atas kompetensinya. Ia berfungsi sebagai pendamping ijazah pendidikan vokasinya. Namun, publik mempersepsikan pendidikan akademik lebih bergengsi dari pendidikan vokasi.

Ia dianggap lebih prospektif dan memiliki peluang untuk mencapai puncak karier yang lebih baik. Maka dari itu, banyak lulusan sekolah menengah yang lebih memilih program akademik dari pada pendidikan vokasi. Banyak yang masuk pendidikan vokasi sebagai batu loncatan saja. Setelah lulus, mereka melanjutkan ke jalur S1. Bahkan ada yang lanjut S2 dan S3. Hal ini difasilitasi pula oleh perguruan tinggi akademik yang membuka program alih jenis atau ekstensi. Kendatipun program tersebut kini sudah dih ilangkan.

Meski publik lebih memilih pendidikan akademik, namun belakangan ini publik juga mempertanyakan mengapa banyak lulusan pendidikan akademik yang bekerja tidak sesuai keahlian akademiknya. Mereka berkarya dan berkarier jauh dari bidang keilmuannya.

Menghadapi pertanyaan tadi, perguruan tinggi pun mulai gamang. Merasa berada di persimpangan. Lalu, apa sejatinya kompetensi pendidikan akademik yang menyebabkan lu lusannya memiliki spectrum pengabdian yang demikian luas? Pantaskah pendidikan akademik merasa gamang?

Arah Pendidikan

Merujuk pada undang-undang pendidikan tinggi, jelas pendidikan tinggi akademik dan vokasi memiliki arah yang berbeda. Sebagaimana disinggung di atas, pendidikan tinggi akademik bertujuan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Diharapkan pendidikan akademik dapat melahirkan hasil-hasil penelitian yang memperkaya hasanah ilmu pengetahuan dan ino vasi teknologi yang memberdayakan dan sekaligus menjadi solusi persoalan masyarakat. Baik industri dan bisnis maupun masyarakat pada umumnya.

Juga diharapkan ia akan melahirkan calon-calon ilmuwan andal. Arah pendidikan yang demikian dapat dicermati dari beban akademik dan pendekatan pembelajarannya. Pertama, pendidikan akademik memiliki beban minimal 144 satuan kredit semester (SKS). Minimal 144 SKS pun belum termasuk praktikum. Ia mesti dituntaskan dalam delapan semester. Maksimal 14 semester. Jumlah SKS ini relatif berat dibandingkan pendidikan bachelor yang ditawarkan oleh perguruan tinggi di negaranegara lain. Yang ijazahnya diakui dan disetarakan oleh kementerian pendidikan.

Kedua, pendidikan akademik lebih teoritis. Meski ada praktikum dan praktik lapang, proporsinya tidak lebih dari 30%. Itupun tidak dimaksudkan untuk membuat mahasiswa terampil. Melainkan hanya sebagai sarana berlatih meneliti dan mendampingi teori yang disampaikan dalam kelas.

Ketiga, proses pendidikan akademik sangat melelahkan. Selain ujian, kuis, dan tugas-tugas seabrek, mahasiswa diharuskan pula membuat tugas akhir (skripsi). Sebelum sampai pada skripsi, me reka wajib membuat proposal, melakukan kolokium, penelitian, analisis data, penulisan laporan, makalah seminar, naskah jurnal dan ujian. Dalam proses menuju ujian pun banyak masukan dari dosen pembimbing. Setelah ujian, mereka masih harus melakukan perbaikan skripsi sesuai korekasian dosen penguji maupun pembimbing. Bila koreksiannya bersifat mayor tidak menutup kemungkinan mereka harus mengambil data tambahan, analisis ulang dan sebagainya.

Keempat, di luar serangkaian kegiatan penulisan skripsi, beberapa perguruan tinggi juga mewajibkan mahasiswa mengikuti kuliah kerja nyata (KKN). Yaitu, penempatan mahasiswa di desa untuk terlibat dalam kegiatan sosial berbasis ilmiah, baik observasi permasalahan di lapangan maupun mencoba membandingkan antara ilmu teoritis dan realitas. Syukur-syukur kalau dari lapangan tersebut mereka menemukan permasalahan menarik untuk diteliti menjadi skripsi.

Kelima, perguruan tinggi juga mengarahkan dan mendampingi mahasiswa terlibat dalam Program Kreativitas Mahasiswa (PKM). Yaitu, perlombaan karya ilmiah mahasiswa antarperguruan tinggi untuk mendapatkan medali terbanyak yang diselenggarakan oleh Kemenristekdikti. Ini pun sebagai wahana untuk melatih mahasiswa belajar meneliti, menyajikan hasilnya dan mempertahankannya secara ilmiah di depan para juri bergelar dok tor, bahkan profesor. Suasana ilmiahnya sangat terasa.

Kompetensi

Ilustrasi pendidikan tinggi: Investor Daily
Ilustrasi pendidikan tinggi: Investor Daily

Dengan kelima karakteristik pendidikan akademik tadi, apa sejatinya kompetensi lulusan yang diharapkan? Yang jelas, pendidikan akademik tidak dirancang un tuk menyiapkan lulusannya menjadi tenaga terampil yang siap diserap pasar. Sejatinya perguruan tinggi akademik adalah produsen calon ilmuwan dan il mu pengetahuan sebagaimana arahan undang-undang pendidikan tinggi.

Karena itu, jika kita cermati kurikulumnya dan proses pembelajarannya amat kuat dalam aspek ilmiahnya. Sebab itu, hemat penulis, aspek ini yang mesti diperkuat, dipertajam, dan diperbarui. Supaya lulusannya memiliki kualifikasi akademik dengan indikator berikut:

Pertama, kemampuan berpikir ilmiah yang kuat. Yakni, berpikir logis, runut, dan sistematis. Kedua, menguasai metodologi pe nelitian secara mumpuni. Indikatornya, ia mampu merumuskan masalah dan tujuan penelitian, memilih metodologi yang tepat, merancang instrument pe ngumpulan data, mengumpulkan dan menganalisis data, serta membahasnya baik secara filosofis, teoritis maupun empiris.Lalu menuliskan serta mempublikasikannya dalam jurnal ilmiah bereputasi.

Ketiga, kemampuan membaca referensi berupa buku teks, jurnal dan karya-karya ilmiah lainnya.

Keempat, kemampuan berkomunikasi dengan baik dalam forum- forum ilmiah. Baik nasional maupun internasional. Sebab itu, kemampuan berbahasa asing, tulisan maupun lisan, sangat penting.

Kelima, terbuka terhadap saran dan masukan sesama kolega peneliti secara objektif; dan keenam, jujur dalam meneliti dan menyampaikan hasilnya.

Hemat penulis, itulah kompetensi penting sumber daya manusia unggul hasil besutan pendidikan akademik, sebagai kompetensi dasar yang akan terpakai di manapun. Baik yang akan berkarier sebagai ilmuwan, maupun profesi lainnya. Sebab, sejati nya setiap profesi membutuhkan pendekatan ilmiah. Termasuk pa ra birokrat, politisi, ekonom, pengusaha, pegiat sosial, dan s ebagainya.

Lalu, apa kriteria keunggulan lembaga pendidikan tinggi akademik? Hemat penulis minimal ada lima kriteria. Pertama, kemampuan menemukan kebaruan ilmiah yang dipublikasikan pada jurnal bereputasi yang memiliki dampak luas terhadap pengembangan keilmuan. Bahkan menjadi rujukan. Target tertingginya meraih hadiah Nobel.

Kedua, inovasi yang dapat dikomersilkan dan berdampak luas terhadap perekonomian nasional dan kesejahteraan masyarakat.

Ketiga, inovasi tepat guna yang dapat menjadi solusi bagi persoalan masyarakat dan menyejahterakannya.

Keempat, hasil penelitian dan inovasi tersebut diterapkan dalam pengelolaan kampus, baik kebijakan maupun tata kelolanya. Kampus menjadi model pengelolaan lembaga publik berbasis pendekatan ilmiah. Dengan kriteria keunggulan lulusan dan lembaga pendidikannya, maka dapat diterima bila pendidikan akademik dipersepsikan lebih unggul. Pun dapat diterima bila lulusannya dapat menempati ragam peran dalam medan kehidupan.

Meskipun mereka berperan tidak sesuai dengan bidang keilmuannya. Dengan demikian, tidak perlu lagi ada pertanyaan dan kegamangan mengapa lulusan pertanian, teknik, kimia, atau teknik fisika dapat mencapai karier puncak dalam bidang perbankan, jurnalistik, birokrat, politisi, pengusaha, penggiat sosial dan lain-lain. Sebab, mereka memiliki kompetensi tadi.

Oleh sebab itu, perguruan tinggi akademik hendaknya terus memantapkan diri pada kerja ilmiah menggapai mimpinya menjadi research-based world class university.

Bukan sekadar slogan. Serta berperan dalam mem bangun budaya dan peradaban dunia. Saatnya, ia menyudahi kegamangannya. Sementara itu, pemenuhan kebutuhan tenaga terampil dapat diatasi dengan cara memper kuat dan mengembangkan pendidikan vokasi. Pendidikan akademik tidak boleh mengambil peran pendidikan vokasi. Pun sebaliknya. Sejatinya, keduanya memiliki tujuan yang berbeda. Sama-sama unggul dan bermanfaat. Namun, sayang perbedaan tersebut hingga kini masih samar. Mudah-mudahan tidak semakin samar-samar.

*) Sekretaris Institut/Kepala Kantor Manajemen Risiko IPB; Dosen Departemen Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan FEM IPB.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN