Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Nirwono Joga, Direktur Eksekutif Pusat Studi Perkotaan

Nirwono Joga, Direktur Eksekutif Pusat Studi Perkotaan

Kelola Sampah Sejak dari Rumah

Minggu, 20 Februari 2022 | 09:05 WIB
Nirwono Joga *) (redaksi@investor.id)

Tuntas kelola sampah sejak dari rumah adalah kunci keberhasilan pengelolaan sampah. Itulah pesan penting Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) yang diperingati setiap 21 Februari. Tema HPSN 2022 yakni Kelola Sampah Kurangi Emisi Bangun Proklim.

Tujuan HPSN ialah meningkatkan kesadaran dan ke pedulian para pemangku kepentingan terhadap penanganan dan pengurangan sampah sejak dari sumbernya.

Advertisement

Sampah adalah masalah kita bersama. Maka pengelolaan sampah harus melibatkan seluruhpemangku kepentingan sesuai peran dan tanggung jawab masing-masing.

Pengelolaan sampah sejak dari rumah tangga menjadi faktor penentu dan kunci keberhasilan penanganan dan pengurangan sampah setiap kota/kabupaten. Lalu, langkah apa yang harus dilakukan?

Pertama, sejalan dengan Undang- Undang No 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah, setiap pemerintah kota/kabupaten sudah harus memiliki rencana aksi pengelolaan sampah berupa penetapan target pengurangan dan penanganan sampah.

Merujuk Peraturan Pemerintah Nomor 97 Tahun 2017 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga, Pemerintah Indonesia menargetkan 100% sampah nasional bisa terkelola baik pada 2025 dengan target penanganan sampah (70%) dan pengurangan sampah (30%).

Kedua, pemerintah kota/kabupaten harus berani meninggalkan (bahkan melarang) metode “kumpul-angkut-buang” karena terbukti tidak menyelesaikan masalah mendasar sampah. Fokus pada pengurangan dan penanganan sampah yang tuntas dikelola setiap individu/komunitas ma syarakat/ pengelola gedung-kawasan sejak dari sumber sampah.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (2021) memproyeksikan peningkatan timbulan sampah nasional dari 69,2 juta ton (2022), 69,9 juta ton (2023), 70,6 juta ton (2024), dan 71,3 ju ta ton (2025).

Dari timbulan sam pah nasional rerata sampah dikirim ke TPAS (63%), didaur ulang (10%), dan terbuang ke alam, termasuk mengalir ke laut (27%). Telah tampak kerusakan di darat dan laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia (Surat Ar-Rum: 41).

Ketiga, pengelolaan sampah tuntas secara berjenjang mulai tingkat rumah tangga, hingga kota/kabupaten, berbasis komunitas lokal atau lokasi. Jika pengurangan sampah berhasil dilakukan sejak dari sumbernya (hulu), penanganan sampah di hilir pun akan menjadi lebih mudah dan ringan. Janganlah kamu berkeliaran di muka bumi denganberbuat kerusakan (Surat AlBaqarah: 60).

Mengurangi produksi sampah adalah hal termudah yang bisa dilakukan masyarakat, yakni mulai dari rumah tangga. Tumbuhkan sikap untuk mengurangi, memakai ulang, mendaur-ulang, memperbaiki, mengolah, atau memanfaatkan kembali.

Keempat, jika semua sampah organik diolah menjadi kompos secara berjenjang, mulai tingkat RT/RW hingga kota/kabupaten, sampah organik sudah habis terolah menjadi kompos untuk memenuhi kebutuhan pupuk berkebun warga dan pertanian kota.

Pemerintah kota/kabupaten dapat berkomitmen membeli kompos warga untuk pemeliharaan taman di lingkungan permukiman dan perkotaan. Maka tidak ada sampah organik yang perlu dibuang ke TPAS.

Sampah anorganik dapat dipilih dan dipilah. Sampah yang masih memiliki nilai jual tinggi dikirim ke bank sampah. Bank sampah yang kreatif dan inovatif dapat memberikan layanan cek kesehatan gratis, tabungan pendidikan atau umroh, hingga barter dengan logistik pangan. Sampah yang menyejahterakan (sirkular ekonomi).

Sang Khalik akan memberikan rezeki kepada manusia yang berbuat baik dan bersyukur di muka bumi ini (Surat Al-A’raf: 58).

Kelima, pengelola pasar, perkantoran, kawasan industri, hotel dan restoran wajib menangani dan mengolah sampah yang dihasilkannya di tempat penampungan sementara masing-masing/komunal, dengan pengawasan ketat dan tegas.

Pusat perbelanjaan, pasar tradisional, hotel, hingga pedagang kaki lima mulai membatasi dan bertahap meninggalkan pemakaian kantong plastik, dan membiasakan penggunaan tas kain.

Jika semua hal itu dilakukan, jumlah sampah yang diangkut ke TPAS akan terus berkurang signifikan. Niscaya metode penimbunan sampah terbuka yang menimbulkan gangguan kesehatan masyarakat, mencemari lingkungan, mendapatkan resistansi warga lokal, rawan longsor, serta mengancam keselamatan warga tak akan ada lagi.

Kelak secara bertahap lokasi TPAS tinggal kenangan, beralih fungsi menjadi ruang terbuka hijau berupa taman kota, hutan kota, kebun raya, yang menyehatkan kota dan kita.

*) Koordinator Pusat Studi Perkotaan

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN