Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Nirwono Joga, Direktur Eksekutif Pusat Studi Perkotaan

Nirwono Joga, Direktur Eksekutif Pusat Studi Perkotaan

RS dan Kota Sehat Pascapandemi

Sabtu, 12 Maret 2022 | 23:03 WIB
Nirwono Joga *) (redaksi@investor.id)

Rumah sakit (RS) memiliki peran signifkan dalam infrastruktur kota sehat kala dan pascapandemi Covid-19. Demikian sari diskusi webinar “What Happen Now 2022 Pandemic: RS Siap atau Galau?”, oleh IKAMARS FKM UI (27/2/2022).

Pandemi Covid-19 telah mengubah tata kelola RS dan kehidupan kota. Pandemi menuntut penyesuaian pada aspek kesehatan sosial, ekonomi dan lingkungan. Ia telah memberi tantangan bagaimana merencanakan dan mengembangkan RS, serta membangun kota sehat yang mengedepankan aspek lingkungan dan kesehatan. Peran RS di kota sehat sangat dibutuhkan. Lalu, langkah apa yang harus dilakukan?

Advertisement

Pertama, kota harus tanggap pandemi dan melakukan upaya pencegahan perluasan penyebaran varian Covid-19. Pemerintah harus terus melakukan tes Covid-19 (testing), penelusuran kontak erat (tracing), isolasi mandiri/isolasi terpadu/perawatan ke RS (treatment) yang terkonfirmasi positif, serta mempercepat program vaksinasi lengkap dan booster.

Vaksinasi pada kelompok lansia, orang yang memiliki komorbid, dan anak-anak harus dipercepat dan diperluas, guna mengurangi risiko kematian. Vaksinasi terbukti ilmiah mengurangi risiko kesakitan dan kematian akibat Covid-19, karena vaksin memiliki efektivitas yang baik untuk memproduksi antibodi bagi varian Covid-19 apapun, Delta dan Omicron (Dewi Puspitorini, 2022).

Kedua, pemerintah harus memperkuat sistem kesehatan masyarakat; memperbanyak tenaga medis maupun pembekalan masyarakat untuk memiliki keterampilan medis (kondisi darurat); mampu bergerak cepat mengirim logistik (makanan, obat-obatan) dan mengamankan area (karantina zona merah).

Selain itu, melakukan riset dan pengembangan diagnosis, vaksin, dan obat anti virus. Pemerintah harus mempersiapkan RS dan tenaga kesehatan, membangun generator oksigen dan mendistribusikan oksigen kon sentrator ke seluruh Tanah Air, serta menyiapkan ketersediaan/ cadangan tenaga kesehatan untuk menghadapi kondisi terburuk. RS menerapkan fasilitas layanan kesehatan melalui pengaturan SDM sehingga tidak berdampak pada pelayanan kesehatan, dan mengatur ketersediaan tempat tidur di RS untuk layanan Covid-19 (Hanna Permana, 2022).

Ketiga, ada tiga tahap cepat menuju kota sehat tanggap pandemi (O’Donnell, 2017), yakni me ngumpulkan data terkait lingkungan kota (demografi, infrastruktur, fasilitas umum, iklim), memproses/mengolah data (korelasi, kausalitas, tren, modeling, progonisis, simulasi), serta melakukan korespondensi tindakan waktu terkini.

Pengembangan infrastruktur digital di bidang kesehatan harus menjadi kebutuhan dan kewajiban utama berbagai pihak dalam persiapan menghadapi epidemi di masa depan. Bentuk infrastruktur itu berupa layanan kesehatan 24 jam, konsultasi kesehatan ber basis aplikasi (halodoc), pela yanan publik (BPJS), logistik (jasa pengiriman obat/telemedisin), serta mobilitas (layanan ambulans gratis).

Keempat, memperkuat pelibatan masyarakat/komunitas sehat tanggap pandemi (Stephen Goldsmith-Susan Crawford, 2014). Pemerintah harus membangun kepercayaan di sektor publik dan mendengarkan suara kolektif komunitas, menggunakan data untuk memprediksi dan mengantisipasi permasalahan sambil meningkatkan kualitas hidup masyarakat, serta melakukan pendekatan baru dengan kepemimpinan inovatif.

Selain itu, melakukan transformasi menjadi kota sehat (G. Schmitt, ETH Zurich, 2019), membawa pendekatan teknologi informasi dan komunikasi lebih dekat ke kepentingan dan sudut pandang warga.

RS harus berbenah diri pascapandemi dengan meningkatkan kapasitas dan kompetensi yang didukung peralatan lengkap; tenaga medis andal, penuh perhatian, dan santun; proses administrasi tidak berbelit; serta biaya terjangkau.

Hal ini akan menimbulkan rasa suka, rasa hormat, dan mendapatkan kepercayaan dari pasien/masyarakat terhadap RS (Hanna Permana, 2022).

Kelima, meski kasus Covid-19 menurun, masyarakat diimbau tetap waspada dan patuh terhadap protokol kesehatan. Kita juga menerapkan pola hidup sehat dengan olah raga teratur, gizi seimbang, istirahat cukup, berhenti merokok, kontrol penyakit lain, mengenali gejala Covid-19, serta menjaga kebersihan tubuh dan lingkungan (Dewi Puspitorini, 2022).

Bagi mereka yang terpaksa isolasi mandiri di rumah perlu memahami tata cara isolasi yang benar. Strategi isolasi mandiri/terpadu serta dukungan pelayanan telemedisin terbukti meringankan beban RS dan tenaga kesehatan secara efektif hingga 71%. RS tidak perlu galau tetapi harus siap menghadapi tantangan baru pascapandemi.

*) Koordinator Pusat Studi Perkotaan.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN