Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ekonom Ryan Kiryanto. Foto: IST

Ekonom Ryan Kiryanto. Foto: IST

Krisis Geopolitik dan Arah Kebijakan Ekonomi Global

Selasa, 12 April 2022 | 10:05 WIB
Ryan Kiryanto *) (redaksi@investor.id)

Para bankir bank sentral Asia Tenggara menjaga pendekatan secara hati-hati terhadap pengetatan moneter karena dampak perang di Ukraina memicu risiko terhadap pertumbuhan global dan inflasi. Sebagai contoh, Bank Negara Malaysia (BNM) akan terus melakukan asesmen terhadap normalisasi kebijakan pada paruh kedua tahun ini.

BNM akan memastikan ekspektasi inflasi tetap terjangkar dengan terus mengukur tingkat akomodasi kebijakan moneter yang tepat untuk memastikan pemulihan ekonomi ini jauh lebih tahan lama. Banyak pembuat kebijakan moneter Asia menghindari poros hawkish, mendukung ekonomi mereka yang baru-baru ini menunjukkan tanda-tanda pemulihan yang lebih solid.

Namun, serangan Rusia terhadap Ukraina telah mengipasi harga komoditas dan mengaburkan prospek perdagangan dan investasi global, serta memperumit rencana keluar dari kebijakan akomodatif selama era pandemi.

Selain BNM, bank sentral Filipina, Bangko Sentral ng Pilipinas (BSP), juga mengatakan dapat meningkatkan suku bunga pada semester II-2022. Meskipun demikian, gubernur BSP mengatakan pembuat kebijakan akan bersabar di tengah peningkatan ketidakpastian.

Sebelumnya BSP mengisyaratkan bahwa mempertahankan pemulihan tetap menjadi prioritas, bahkan ketika mengatakan siap merespons efek harga yang berlebihan. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa BNM dan BSP masih tidak mungkin bergerak dari suku bunga saat ini meskipun The Federal Reserve Bank (The Fed) melakukan normalisasi kebijakan moneter.

Suku bunga kebijakan di Malaysia dan Filipina masing-masing berada pada rekor terendah sejak Juli dan November 2020. Dalam menjaga suku bunganya tetap stabil bulan ini, BNM menandai perang di Ukraina sebagai risiko utama bagi perdagangan dan pertumbuhan global.

Ilustrasi
Ilustrasi

Menurut BNM, efek perang berdenyut melalui jalur perdagangan, harga komoditas, dan pasar keuangan. Saat Malaysia mendapat keuntungan dari harga komoditas yang lebih tinggi, negara itu mungkin terpengaruh oleh permintaan global yang lebih lemah. Konflik Rusia-Ukraina terus berlanjut, dan pada saat ini masih terlalu dini untuk mengukur secara pasti dampak total dari konflik tersebut.

Malaysia dan Filipina sedang bertransisi menuju fase endemik Covid-19, mengembalikan pembatasan mobilitas untuk membantu ekonomi mereka yang ikut menderita pukulan terburuk di Asia akibat pandemi. Sebelum konflik pecah, pejabat Malaysia memperkirakan pertumbuhan ekonomi berkisar 5,5-6,5% tahun ini, sementara Filipina memperkirakan ekspansi secepat 9%. Bank sentral Malaysia akan mengumumkan revisi perkiraan pertumbuhannya pada 30 Maret nanti.

Perbedaan Suku Bunga

Negara-negara di kawasan Asia Tenggara tidak akan terhindar dari dampak perang, dengan investasi dan ekspor akan dipengaruhi oleh penurunan yang lebih luas di Eropa. Prospek ekonomi untuk Filipina, Singapura, Thailand dan Vietnam menghadapi lebih banyak risiko penurunan dibandingkan dengan eksportir komoditas Malaysia dan Indonesia.

Dengan demikian, langkah yang tepat untuk dilakukan negara-negara di Asia Tenggara saat ini adalah bersikap dingin dan menilai situasi dari waktu ke waktu. Dalam perkiraan terbaru, The Fed diprediksi akan melakukan empat kali kenaikan suku bunga tahun ini dan tiga kali pada 2023, menurut ekonom yang disurvei oleh Bloomberg.

Kerangka waktu itu tidak seagresif perkiraan sebelumnya yang menyebutkan tujuh kali kenaikan pada 2022 dengan satu kali kenaikan setiap pertemuan FOMC. Untuk diketahui, pertemuan FOMC berlangsung selama delapan kali setiap tahunnya. Pernyataan Ketua The Fed, Jerome Powell, selalu menjadi fokus perhatian investor global.

Yang menarik, kenaikan suku bunga acuan The Fed tidak selalu diikuti penguatan dolar AS. Sejarah menunjukkan bahwa dolar AS menurun lebih sering daripada menguat ketika FOMC melakukan pengetatan, terutama pada tahap awal. Sebaliknya, komoditas dan mata uang Asia umumnya menguat terhadap dolar AS ketika bank sentral AS menaikkan suku bunga.

Normalisasi kebijakan di negara maju (advanced economies/AE) bisa terjadi lebih cepat dibandingkan emerging markets (EM) yang sedang menyusun peta jalan menuju normalisasi kebijakan (unwinding policy).

Penyebabnya, investor menilai kenaikan itu sebagai tanda peningkatan pertumbuhan global dan permintaan bahan baku dan bahan penolong untuk industri. Apalagi jika langkah The Fed yang condong semi-hawkish juga diikuti oleh bank-bank sentral di emerging markets (EM), maka besar kemungkinan harga mata uang EM akan stabil bahkan cenderung menguat terhadap dolar AS.

Maklum, pemilik modal akan memperhitungkan selisih bersih suku bunga AS dengan suku bunga di EM. Semakin lebar spread-nya, tentu pemodal akan condong memegang mata uang EM sebagai pilihan instrumen investasinya.

Catatan Akhir

Arah kebijakan moneter di setiap negara atau kawasan boleh jadi akan bergerak berbeda. Jauh hari sebelumnya Dana Moneter Internasional (IMF) sudah mengingatkan adanya divergensi pemulihan ekonomi antara negara maju (advanced economies/AE) dan emerging markets (EM) yang membuat penentuan kebijakan moneter cenderung berbeda.

Normalisasi kebijakan di AE bisa terjadi lebih cepat dibandingkan EM yang sedang menyusun peta jalan menuju normalisasi kebijakan (unwinding policy). Di sini elemen variabel dan faktornya berbeda untuk setiap negara atau kawasan, sehingga timing menjadi penting mengacu kepada asesmen setiap negara atau kawasan. Artinya, arah kebijakan baik di AE maupun EM tidak bisa dipukul rata atau digeneralisasi.

Dalam hal ini, pendekatan linier yang naif tidak bisa digunakan, di mana jika AE menaikkan suku bunga acuan lalu EM pasti mengikuti langkah tersebut. Bisa saja AE menaikkan suku bunga acuan lebih cepat, sebaliknya EM cenderung menahan diri untuk menaikkan suku bunga acuan dengan pertimbangan tertentu. Sekali lagi, situasi dan kondisi yang menyertai setiap negara atau kawasan berbeda.

Dalam kasus Indonesia, ditahannya suku bunga acuan (BI7DRR) di level 3,5% dengan pertimbangan untuk menjaga momentum pertumbuhan, menjaga inflasi dan stabilitas nilai tukar menjadi variabel penting yang melatarbelakangi keputusan Bank Indonesia (BI) tersebut. Keputusan itu diambil sehari setelah The Fed menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin. Artinya, jelas bahwa setiap bank sentral memiliki independensi, asesmen dan argumentasi masing-masing dalam penetapan suku bunga acuannya.

*) Ekonom dan Staf Ahli Otoritas Jasa Keuangan (Tulisan ini merupakan pandangan pribadi penulis).

Editor : Totok Subagyo (totok_hs@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN