Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Agus Sugiarto. Kepala Departemen di OJK

Agus Sugiarto. Kepala Departemen di OJK

Bank Digital, dari Baby Boomers Menuju Gen Z

Kamis, 16 Desember 2021 | 23:29 WIB
Agus Sugiarto *)

Transformasi digital yang sedang berlangsung di industri jasa keuangan memiliki tujuan yang sangat bagus, antara lain meningkatkan efisiensi dan mempermudah pelayanan kepada konsumen. Keuntungan tersebut yang mendorong bank-bank berlomba-lomba melakukan digitalisasi dalam melakukan proses bisnis mereka, mulai dari operasional di back office, middle office sampai dengan lini layanan di front office.

Tren digitalisasi tersebut sekaligus juga menjadikan kompetisi di layanan perbankan menjadi semakin ketat dan sangat kompetitif. Satu persatu bankbank mulai menyusun strategi baru dalam menyongsong di gitalisasi tersebut dalam bentuk transformasi digital, dari bank tradisional menjadi bank digital.

Layanan perbankan berbasis digital tersebut dilakukan guna menyesuaikan dengan kebutuhan masyarakat yang saat ini banyak memanfaatkan kehadiran teknologi digital dalam kegiat an sehari-hari.

Salah satu dampak dari transformasi digital tersebut adalah layanan kantor fisik bank menjadi semakin berkurang, karena sebagian besar fungsinya digantikan oleh aplikasi digital.

Sebuah studi dari eMarketer (Maret 2021), memperlihatkan bahwa pengguna layanan digital perbankan di Amerika Serikat diperkirakan mencapai 75,4% di tahun 2021 dan akan terus meningkat menjadi 80,4% pada tahun 2025.

Sementara itu data dari Finder (November 2021), menunjukkan bahwa 27% atau 14 juta warga Inggris telah membuka rekening di bank digital (digitalonly bank), dan 4 dari 5 orang (80%) di Inggris telah menggunakan layanan perbankan digital.

Di Indonesia sendiri diperkirakan 47 juta orang telah memiliki rekening digital atau sekitar 25% dari seluruh jumlah penduduk di tahun 2021, dan diproyeksikan akan terus meningkat menjadi 75 juta orang atau sekitar 39% pada tahun 2026.

Fakta-fakta tersebut memberikan indikasi dan gambaran bahwa tren digitalisasi sudah tidak bisa dibendung lagi. Sehingga industri perbankan harus mengikuti perilaku digital dari masyarakat.

Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah apakah semua bank ingin ber transformasi menjadi bank digital atau yang memberikan layanan digital murni (digital-only bank), yang tidak memiliki kantor fisik. Ataukah bank-bank tersebut masih tetap melakukan kombinasi dalam bentuk layanan digital dan layanan fisik melalui kantor cabang?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut tentunya perlu dilihat dari aspek yang lain, khususnya target konsumen yang menjadi pasar dari layanan perbankan yang berbasis digital.

Preferensi Setiap Generasi

Ilustrasi Bank Digital
Ilustrasi Bank Digital

Apabila kita melihat sejarah bank tradisional yang muncul di era revolusi industri 3.0, ke banyakan mereka memiliki segmen konsumen yang lahir di era baby boomers. Mereka yang lahir di era baby boomers saat ini rentang usianya sudah di atas 57 tahun sampai dengan 75 tahun, dan mereka besar di lingkungan yang jauh dari kemajuan teknologi digital. Mereka tidak memiliki pilihan lain untuk mendapatkan layanan jasa perbankan pada saat itu selain bank tradisional.

Namun demikian, tidak semua konsumen dari bank tradisional adalah mereka yang lahir di era baby boomers. Generasi X yang lahir antara tahun 1965-1980, rata-rata usia mereka sekarang berada pada kisaran 40-55 tahun, dan sebagian dari mereka merupakan nasabah dari bank tradisional dan sebagian lagi mungkin memilih layanan perbankan dari bank digital.

Untuk generasi Y atau milenial yang lahir di tahun 1980-1995, rata-rata usia mereka saat ini di rentang 25-40 tahun, bisa jadi mereka juga menjadi konsumen bank tradisional. Namun mereka adalah generasi yang sangat melek digital, mengingat teknologi digital mulai muncul di saat mereka mulai menginjak dewasa. Generasi Z yang lahir di era tahun 1997-2000-an, juga dianggap sebagai generasi digital.

Tentunya kedua kelompok generasi ini cenderung akan memilih layanan perbankan yang diberikan oleh bank-bank digital. Bagi kedua kelompok generasi tersebut, layanan perbankan yang disediakan oleh bank tradisional mungkin dianggap ketinggalan zaman dan belum memberikan kepuasan bagi kedua generasi tersebut.

Antara Bank Digital atau Bnk Hibrid

Dari data dan fakta-fakta di atas terlihat bahwa perbedaan antargenerasi akan memberikan pengaruh terhadap layanan perbankan. Semakin muda generasi tersebut, semakin melek digital sehingga sangat cocok sekali bagi mereka memanfaatkan la yanan perbankan yang berbasis teknologi digital.

Generasi X-Y-Z tentunya lebih mudah menerima kehadiran bank digital ataupun digitalonly bank dibandingkan dengan generasi baby boomer sebagai pendahulu mereka. Layanan perbankan tidak harus dilakukan dengan mengunjungi kantor bank ataupun mendatangi fasilitas anjungan tunai mandiri (ATM) dari bank, namun cukup dilakukan secara daring dengan memanfaatkan aplikasi digital yang sudah di-download di perangkat elektronik mereka.

Sedangkan bagi mereka yang dilahirkan di era baby boomers merupakan generasi yang telah menikmati layanan perbankan tradisional dalam kurun waktu yang cukup lama. Tentunya layanan perbankan trandisional masih menjadi yang terbaik un tuk memenuhi kebutuhan keuangan mereka, mengingat tidak semua dari generasi ini melek digital.

Selain itu, orangorang yang tergabung dalam kelompok baby boomers ini sebagian besar merupakan orangorang yang sudah mapan dan kaya dari segi materi.

Kondisi seperti inilah akan memaksa bank untuk tetap mempertahankan layanan perbankan tradisional agar mereka tidak lari dan menjadi nasabah di bank lainnya. Mereka bisa saja diberikan edukasi agar menjadi melek digital, namun demikian sebagai pemilik uang tentunya bank tidak bisa memaksakan mereka harus menggunakan layanan perbankan yang berbasis digital.

Melihat masih adanya kebutuhan layanan perbankan tradisional tersebut, tentunya transformasi digital yang dila kuan oleh bank dapat dilakukan dengan dua cara.

Pertama, menjadi bank digital murni (digitalonly bank) yang seluruh pelayanannya dilakukan melalui aplikasi digital, sehingga layanan perbankan yang dilakukan melalui kantor bank tidak lagi diperlukan.

Kedua, menjadi bank digital dengan layanan dual services dalam bentuk kombinasi layanan digital dan juga tetap mempertahankan kehadiran kantor fisik bank. Pilihan kedua tersebut merupakan bentuk dari bank hibrid, yang memang diperlukan untuk melayani kebutuhan perbankan bagi semua segmen, dari generasi baby boomer sampai dengan generasi Z.

Hadirnya bank hibrid tersebut merupakan solusi yang sifatnya winwin bagi bank-bank yang ingin melakukan transformasi digital, namun tidak ingin kehilangan konsumen loyal mereka yang tetap menginginkan layanan perbankan trandisional. 

Dengan model bank hybrid tersebut, bank-bank dapat memberikan layanan perbankan secara luas dengan berbagai bentuk kanal layanan, baik secara daring maupun dalam bentuk layanan luring. Model layanan yang diberikan oleh bank hybrid tersebut akan memberikan keleluasaan pilihan layanan yang lebih luas bagi konsumen perbankan guna mengakses produk dan layanan jasa perbankan. Kehadiran dari model bank hibrid sangat sesuai dengan lingkungan masyarakat Indonesia yang belum sepenuhnya melek digital.

Untuk jangka panjang, secara pelan-pelan konsumen perlu diberikan edukasi mengenai pentingnya melek digital, sehingga mereka pun nantinya bisa memanfaatkan layanan perbankan berbasis digital dengan benar dan aman.

*) Kepala Departemen di OJK. Tulisan ini merupakan pandangan dan opini pribadi dari penulis.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN