Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Tri Winarno

Tri Winarno

Belajar Hidup Berdampingan dengan Covid-19

Rabu, 24 Juni 2020 | 22:15 WIB
Tri Winarno *)

Salah satu paradoks pandemi Covid-19 telah menerpa beberapa negara kaya, Negara yang mempunyai kapasitas mumpuni, seperti Amerika Serikat (AS) dan Inggris, yang telah gagal mengatasi virus corona. Padahal, beberapa negara miskin yang mempunyai kapasitas terbatas justru secara cepat mampu mengatasi keganasan virus corona, seperti Vietnam, Yunani, dan negara bagian Kerala di India.

Sekarang negara-negara kaya tersebut harus melakukan kebijakan lebih dari sekadar lockdown, yang menandai lemahnya manajemen kebijakan mereka dalam menangani Covid-19.

Di AS dan Inggris, yang dipimpin oleh rezim yang ambigu, tanpa memiliki rencana yang jelas, mengakibatkan terjadi kebuntuan kebijakan antara mempertahankan kebijakan lockdown yang tidak berkelanjutan dan pembukaan kehidupan ekonomi yang ceroboh.

Sebaliknya, pembuat kebijakan di negara bagian Rio Grande do Sul di Brasil, telah mengimplementasikan perencanaan yang hati-hati untuk hidup berdampingan dengan virus corona. Rio Grande do Sul telah memulai persiapan menghadapi pandemic pada 2 Maret 2020, ketika Governor Eduardo Leite menugaskan menteri perencanaannya untuk membentuk panitia khusus dengan tugas utama mengembangkan dan menerapkan suatu rencana aksi yang menjamin ekonomi tetap berjalan sambil membasmi penyebaran virus corona.

Di negara bagian lain di Brasil, penyebaran virus tetap tak tertangani, dan Brasil sekarang menjadi epicentrum baru penyebaran virus corona, menempati urutan kedua kasus Covid-19 dan keenam dalam jumlah kematiannya di dunia. Namun demikian, terdapat negara bagiannya yang memiliki jumlah penduduk kelima terbanyak di Brasil yang melakukan respons yang mumpuni dan telah menjadi panutan negara maju dalam mengatasi pandemi Covid-19. Ada lima komponen utama respons yang dilakukan oleh Rio Grande do Sul dalam menangani Covid-19.

Pertama, Leite fokus sejak awal untuk menghindari kemungkinan hasil terburuk, daripada hanya berharap itu tidak akan terwujud. Sebelum pandemi mencapai Brasil, pejabat di Rio Grande do Sul memakai data, baik di Jepang maupun di Singapura (di mana dampak virusnya terbatas) dan data di Italia dan Spanyol (di mana dampaknya sangat mengerikan) untuk membuat proyeksi matematis dan mencoba melakukan langkah-langkah untuk terhindar dari dampak yang terjadi seperti di Italia dan Spanyol.

Gubernur Leite mengumumkan pembatasan mobilitas warga pada pertengahan Maret, sebelum Covid-19 dilaporkan merenggut korban jiwa. Dengan upaya tersebut mereka mencoba mengulur waktu sambil mempersiapkan dan memperkuat kapasitas sistem kesehatannya guna memperlambat laju penyebaran virus corona.

Kedua, pejabat di Rio Grande do Sul melakukan kebijakan berdasarkan data untuk melacak penyebaran virus, juga meningkatkan sistem dan menyewa tenaga berbakat untuk mengkaji informasi yang tersedia.

Mereka membagi wilayahnya menjadi 20 daerah, yang mana setiap daerah memiliki rumah sakit utama, lengkap dengan fasilitas intensivecare unit (ICU), dan melakukan monitoring terhadap 11 indikator di setiap daerah setiap minggu.

Setengah dari 11 indikator tersebut mengukur penyebaran virus. Yakni meliputi jumlah kasus baru dibandingkan dengan minggu sebelumnya, jumlah kasus aktif relative terhadap penyembuhan dalam 50 hari terakhir, dan jumlah kasus baru serta kematian per 100.000 penduduk.

Panitia juga melakukan tracking terhadap jumlah pasien regular dan pasien di ICU, baik yang yang masuk dalam kategori Covid-19 atau acute respiratory distress syndrome, penyakit paru-paru yang terkait (karena Covid-19 pada umumnya kurang catat).

Indikator lainnya mengukur kapasitas sistem kesehatan di masing- masing daerah. Yakni meliputi jumlah tempat tidur ICU yang tersedia relatif terhadap jumlah penduduk dan jumlah penduduk di atas 60 tahun, dan perubahan jumlah pasien ICU dibandingkan terhadap minggu sebelumnya.

Selain melakukan monitoring data secara intensif, mereka melakukan pertemuan dengan pakar kesehatan dan akademisi setiap waktu (pro bono) dan laporannya dipublikasikan.

Lebih dari 150 pakar dilibatkan untuk melakukan analisis dampak Covid-19 terhadap aktivitas ekonomi, sosial, infrastruktur, dan mobilitas di Negara bagian tersebut.

Selain itu, pemerintahnya menciptakan kerja sama dengan universitas sejak awal untuk melakukan pengujian secara acak dan melakukan survei terhadap kebiasaan penduduknya tentang virus corona. Komponen ketiga adalah sistem peringatan dini yang transparan, sederhana dan specifik.

Setiap minggu panitia menyaring ke-11 indikator menjadi satu kategori di setiap daerah, dengan membuat 4 kategori risiko. Kuning menunjukkan risiko rendah, oranye adalah medium, merah adalah tinggi, dan hitam berarti risikonya sangat tinggi.

Sehingga daerah yang masuk kategori hitam akan dilakukan full lockdown. Oleh karena masyarakat dapat menilai data secara langsung, maka sistem tersebut telah membantu membangun pengertian dan saling percaya dalam masyarakat.

Keempat, pejabatnya secara hatihati memutuskan agar aktivitas ekonomi tetap berfungsi di suatu daerah ter tentu. Sebab, suatu negara bagian yang telah terbebani utang tinggi tidak dapat menanggung penduduknya yang tidak bekerja terlalu lama.

Panitianya secara jelas mensegmentasikan pekerjaan dan aktivitas ekonomi berdasarkan keselamatan pekerja dan tingkat pentingnya aktivitas ekonomi, dan memberi bobot masing-masing sebesar 70% dan 30%. Misalnya, sektor ekonomi relative paling aman, karena dilakukan di luar ruangan terbuka dengan jarak aman antarburuh, dan juga sangat vital bagi ekonomi Negara bagian Rio Grande do Sul.

Semua informasi terbuka untuk publik dan mudah diakses. Komponen terakhir (kelima) adalah pemerintah daerah menetapkan protokol ekonomi untuk masingmasing industri yang didasarkan pada keputusan yang telah dibuat oleh pakar kesehatan, asosiasi industri, pengusaha dan pekerja.

Dengan mempublikasikan rancangan protokol lebih dini dan mempertimbangkan setiap komentar, panitianya membantu memastikan proses yang terbuka dan transparan. Bukan hanya sekadar desakan salah satu pihak, misalnya desakan hanya dari pihak cukong saja.

Selain mewajibkan penduduknya untuk memakai masker, pembersih, jaga jarak dan membentengi kelompok berisiko, protokol sektoral tergantung pada tingkat risikonya. Misalnya, industri dapat berfungsi dengan kapasitas 100% untuk daerah kuning, 75% untuk daerah oranya, 50% untuk daerah merah, dan 25% untuk daerah hitam, dengan perkecualian sektor esensial seperti makanan, energi, kimia dan kesehatan.

Adapun sektor eceran yang berisiko penularan yang lebih tinggi hanya boleh beroperasi dengan kapasitas 50% untuk daerah kuning, dan harus tutup untuk daerah kategori hitam.

Adapun bus dan gereja diberi batasan berdasarkan tingkat risiko wilayah, untuk saat ini tidak boleh melakukan aktivitas massa di area publik.

Saat ini negara bagian tersebut sedang mendiskusikan institusi pendidikan mana yang boleh buka lebih dulu, kapan dan bagaimana melakukan pembukaan aktivitas sekolah yang lainnya. Kebijakan keselamatan kerja di Rio Grande do Sul telah berlangsung lima minggu sampai saat ini.

Adapun pada akhir Mei lalu sudah kurang dari 20% kapasitas tempat tidur ICU yang terpakai. Negara bagian tersebut hanya punya 56 kasus per 100.000 penduduk, dibandingkan dengan 720 per 100.000 di seluruh Brasil, 390 di negara bagian Ceará, dan 220 di Rio de Janeiro. Tingkat kematiannya puna hanya 1,6 per 100.000 penduduknya, jauh di bawah tingkat di seluruh Brasil (42,4) dan Rio de Janeiro (23,1).

Pemangku kebijakan dan pemimpin di negara bagian Rio Grande do Sul telah merancang strategi secara cermat, cerdas dah hati-hati untuk hidup berdampingan dengan Covid-19, yang mengacu pada indikator- indikator utama, saran dari para ahli, dan proses yang dapat ditegakkan. Mereka melakukan secara transparan dan kepercayaan tinggi dari masyarakat. Hal ini tentu bisa menjadi acuan berharga bagi negara yang masih kebingungan dan gamang menghadapi pandemic Covid-19.

*) Pengamat Kebijakan Ekonomi

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN