Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Said Kelana Asnawi

Said Kelana Asnawi

Belajar Manajemen dari Sepak Bola

Jumat, 19 Juli 2019 | 10:51 WIB
Said Kelana Asnawi

Olahraga sepak bola, selain menyenangkan untuk ditonton, sebenarnya mengandung banyak pelajaran manajemen dari pelaku utamanya. Olahraga ini merupakan bisnis besar, bernilai triliunan rupiah, setara dengan sebuah perusahaan besar di pasar modal. Oleh karenanya, pengelolaan sebagai entitas bisnis dapat kita pelajari dari sepak bola.

Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut. Pertama, pendekatan humanis. Bisnis sepak bola ini bukanlah ‘mesin’ tetapi menyangkut sisi relasi manusia. Karena itu, secara mengesankan Sir Alex Ferguson, mengetuk pintu rumah Ryan Giggs untuk mengucapkan selamat ulang tahun ke-14. Dan, Giggs mencatat sejarah hidupnya sebagai pesepak bola bertalenta, meraih banyak gelar juara bersama klub Manchester United (MU). Hal yang sama dilakukan oleh Kevin Keagen terhadap Alan Shearer (goal getter kondang Newcastle), yang membujuk bergabung dengan alasan Alan adalah kelahiran Newcastle.

Cerita ini menunjukkan pentingnya seorang pemimpin untuk melakukan relasi personal kepada karyawan, terutama jika bisnis yang dilakoni adalah industri kreatif; dan juga pendekatan ‘primordial’ terbukti dapat menjadikan suasana ‘cair’ sehingga terjadilah sinergi. Unsur humanis juga ditunjukkan oleh pelatih Jose Mourinho dengan memberi kesempatan pada Wayne Rooney untuk menjadi legenda pencetak gol terbanyak Manchester United. Di usia ‘menyenja’ seharusnya Rooney tak akan dapat menorehkan sejarah. Namun, Mourinho, adalah orang ‘baik’ yang memberi jalan atau kesempatan agar sesuatu yang menjadi ‘kenangan indah’ dapat terealisasi. Dengan sabar, kesempatan yang bisa saja ditutup, justru dibukanya.

Untuk hal ini, kita perlu belajar dari Mourinho; bahwa jika ada seorang/bawahan yang mungkin bisa dibantu untuk ‘menemukan prestasi’, bantulah dengan cara yang fair.

Kedua, disiplin. Dikabarkan bahwa Sir Alex Ferguson tidak pernah datang terlambat ke tempat latihan. Demikian pula Cristiano Ronaldo selalu menjadi orang pertama hadir. David Beckham berlatih khusus tentang tendangan bebas (pisang) berjam-jam sehari. Disiplin dan niat baik untuk berprestasi, merupakan kunci keberhasilan. Baik Ronaldo, Beckham dan klub (perusahaan) menikmati bagi hasil yang memuaskan. Perlu diingat; setelah berprestasi, mesti ada bagi hasil yang membanggakan.

Ketiga, kesetiaan. Jika selalu ada jargon, “karyawan adalah aset utama perusahaan”, maka dalam sepak bola tampaknya bisa diambil contoh. Beberapa pemain hanya mengenal satu klub, di tengah badai iming-iming pindah klub. Ikatan hati, dan peran yang dapat diberikan serta kompensasi memadai merupakan simbiosis mutualisma. Setelah pensiun sebagai pemain, mereka pun berkarier di klubnya. Ada banyak simbiosis yang masih dapat dilanjutkan.

Keempat, kepentingan bersama. Kepentingan bersama adalah terjemahan ‘ngasal’ untuk the right man on the right place. Biasanya pelatih memiliki kesukaan pada pemain untuk posisi tertentu. Sebagai contoh, Beckham dilatih secara khusus untuk tendangan bebas; walaupun sebenarnya pada masa kanakkanaknya ia adalah pemenang lomba ‘skill’ bola.

Di dalam perusahaan, agak sulit memindahkan orang pada pekerjaan lainnya, dengan alasan bermacam-macam. Hal ini tidak sepenuhnya dapat dibenarkan. Kelima, tegas dan berteman. Tak ada yang lebih besar dari klub [organisasi]; lalu semua yang membangkangnya akan ditendang! Begitulah salah satu filosofi Sir Alex Ferguson (SAF) sewaktu menjadi manajer MU. Lalu Jaap Stam; Bechkam, Roy Keane dan hampir saja sang ‘legenda’ Rooney ditendang. Namun, SAF juga menyelamatkan nyawa ‘anak’-nya di mana dia melindungi Beckham [insiden 1998, Beckham menendang Simeone] dan Ronaldo [2004, insiden meminta Rooney dikartu merah oleh wasit].

Di bawah tekanan seluruh fans MUInggris agar keduanya dijual, namun SAF tak pernah memenuhinya. Yang kita dapat pelajari dari SAF, sebagai manajer adalah penguasa, dan memiliki kehendak untuk berkuasa. Sebagai bawahan, tugas kita adalah mendukung bos untuk mencapai visi-misinya. Subordinate [pembangkangan tidak diperkenankan]; ‘nakal’ sedikit mungkin boleh.

Jika tidak setuju, sebaiknya tidak menjadi bawahan. Mereka yang ditendang SAF, tetap dapat berkarier dengan baik, dan begitu pun MU yang ditinggalkan tetap gemilang. Sebagai manajer, jadilah pengayom bagi bawahan. Ada kalanya bawahan mengalami masa sulit/ nakal; baik sengaja ataupun kecerobohan; namun masih menimbang adanya potensi yang sangat besar dari bawahan tersebut untuk berkolaborasi.

Jangan biarkan dia menghadapi sendiri sehingga frustasi. Atasan-bawahan itu sebenarnya cuma patron organisasi, tetapi yang lebih tepat adalah bekerja sama dan pertemanan. Untuk hal ini, saya teringat perkataan teman sebagai berikut: saya memilihmu karena kamu adalah teman saya. Kita bekerja sama dalam pertemanan.

Keenam, memotivasi diri. Mourinho menjuluki dirinya The Special One. Terdengar arogan, tetapi kata Sir Alex, tidak ada yang salah dengan Mourinho. Dia hanya perlu membuktikan dirinya. Di awal kepelatihan, Sir Alex juga ‘membesarkan dirinya’ dengan ‘menantang’ klub Liverpool [saat itu klub sebagai terbesar di Inggris], bahwa ia akan mengalahkan Liverpool. Sir Alex; sangat membenci Liverpool dengan kasih; yakni mengasihi dirinya untuk dapat berprestasi. Carilah/bergaullah dengan orang hebat di sekitar kita, lalu jadikan lawan dan bencilah dengan kasih!, yakni dengan mengatakan kita akan mengalahkannya. Jika tidak mampu mengalahkannya; setidaknya kita akan memperbaiki diri/level/kualitas. Namun dalam beberapa hal tampaknya sulit dijalankan.

Dorongan pimpinan untuk memacu adrenalin karyawan berprestasi, biasanya terhambat, karena karyawan merasa tidak mendapat benefit dari dorongan itu. Ada juga pemimpin yang ‘menjelekkan’ kualitas karyawannya dengan membandingkan terhadap perusahaan tertentu. Maksudnya memotivasi, justru yang terjadi pada karyawan hal yang sebaliknya.

Ketujuh, dapat keliru. Baik Mourinho maupun Sir Alex pernah membuat kekeliruan fatal, yakni membiarkan pemain hebatnya hengkang, seperti Mohamed Salah, Kevin De Bruyne dan Paul Pogba. ‘Malangnya’ lagi, pemain tersebut pindah ke klub rival dan menjadi pemain kunci. Jadi, bisa juga, pemimpin keliru menilai potensi karyawan, dan membiarkannya dibajak pesaing. Untuk hal ini, tugas pemimpinlah mencermati kemampuan karyawan dan mengoptimalkannya. Tentunya tidak mudah, karena pada saat tertentu, persepsi yang dilihat pemimpin dapat berbeda.

Kedelapan, industri yang berubah. Tiba-tiba industri sepak bola berubah cepat. Harga pemain melonjak tajam, mengejutkan termasuk bagi pelakunya. Aliran dana/modal lebih mengglobal, dan tiba-tiba dengan dukungan finansial maka terjadi perubahan peta kekuatan. MU pada akhirnya beberapa tahun terakhir kalah oleh Manchester City; padahal di mana zaman old-nya City hanyalah sekadar ‘tetangga berisik’. Sebuah bisnis, jika tidak hati-hati dapat di-mimicking oleh pesaing dan menjadi awal kehancuran. Harus dipastikan, ada continuous-competitive advantage sehingga perusahaan tidak bisa dihapus dari ‘peta’.

Jadi jangan bangga sebagai yang tua atau yang ‘pertama’ tetapi tetap harus responsif terhadap perubahan yang ada. Masih banyak pelajaran manajemen yang dapat dipetik dari olahraga sepak bola. Sebagai bisnis dengan produk hiburan bernilai triliunan rupiah, sepak bola perlu memberi ‘imajinasi’ kepuasan bagi penggemar secara kontinu. Hal ini memaksa manajer untuk terus berkreasi, dan menjaga konsistensi layanan produk. Mungkin, tidak ada salahnya ‘birokrat’ berasal dari manajer sepak bola, sebagai bagian reformasi; yang dapat mengimajinasikan sebuah keberhasilan global.

Selamat menikmati.

Said Kelana Asnawi, Ketua Program Studi Manajemen; Kwik Kian Gie School of Business

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN