Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Berharap pada Sektor Konsumsi

Rabu, 14 Agustus 2013 | 10:46 WIB
Oleh Ryan Kiryanto (redaksi@investor.id)

Data yang dirilis Nielsen menyebutkan, Indonesia masih menempati posisi teratas indeks kepercayaan di dunia pada kuartal II/2013, yakni sebesar 124 poin atau 30% di atas rata-rata global dengan indeks 94 poin. Ini berarti sudah dua kuartal berturut-turut Indonesia menjadi peraih indeks konsumen tertinggi.

Survei yang dirilis lembaga survey Nielsen tersebut dilakukan secara online terhadap 29.000 responden yang memiliki akses internet di 58 negara, termasuk 500 responden Indonesia pada 13 Mei hingga 31 Mei lalu. Menurut Nielsen Indonesia, meningkatnya upah minimum secara signifikan pada awal tahun ini, ikut mendorong keyakinan masyarakat dengan masa depan serta kondisi keuangannya.

Dengan bertambahnya jumlah penghasilan tersebut, keinginan masyarakat untuk berbelanja pun semakin tinggi. Sebesar 60% yakin, 12 bulan ke depan merupakan waktu yang sangat baik untuk berbelanja barang yang diinginkan dan dibutuhkan. Indonesia menempati posisi terdepan dalam keinginan berbelanja, mengalahkan Hong Kong (55%), India (53%), dan Filiphina (51%).

Bagi konsumen di Asia Tenggara termasuk Indonesia, liburan, wisata dan teknologi baru merupakan dua komponen yang paling banyak menghabiskan dana yang mereka keluarkan. Indonesia (42%) menempati posisi ketiga yang paling banyak mengeluarkan dana untuk liburan dan wisata setelah Singapura (47%), dan Malaysia (43%).

Begitu pula dengan pengeluaran untuk teknologi baru, Indonesia (31%) menempati posisi ketiga setelah Thailand (34%) dan Vietnam (32%). Meski memiliki keinginan yang kuat untuk berbelanja, konsumen Indonesia juga mampu mengelola keuangan mereka secara baik, bahkan menempati posisi tertinggi. Temuan menarik dari survei Nielsen kebiasaan menabung pada masyarakat Indonesia yang terbilang tinggi. Nielsen menyebutkan, Indonesia adalah negara penabung tertinggi dengan indeks 71, diikuti Hong Kong dan Filipina sebesar 70. Dengan menabung,  konsumen punya cadangan uang yang bisa digunakan untuk kebutuhan yang lebih mendesak.

Rekor Investasi Langsung
Hasil survei AC Nielsen di atas menegaskan bahwa sektor konsumsi masih akan menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia. Namun demikian, pertumbuhan ekonomi masih bisa ditingkatkan apabila disokong oleh kegiatan investasi sebagai pendukungnya. Sejauh ini Indonesia mampu mencatatkan rekor investasi asing langsung (FDI) dalam kuartal II tahun ini. Namun, laju pertumbuhan FDI melemah akibat memburuknya harga komoditas yang mengusik sektor pertambangan.

Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menyatakan FDI mencapai Rp 66,7 triliun pada periode April sampai Juni. Angka ini melanjutkan catatan pemecahan rekor FDI kuartalan yang sudah berlangsung selama enam kali berturut-turut. Rekor tersebut mengisyaratkan minat investor akan sektor pertambangan dan daya beli puluhan juta kelas menengah Indonesia. Tapi laju pertumbuhan FDI dalam kuartal II paling lambat dalam dua tahun, yakni 18,9% secara tahunan.

Tren perlambatan harga komoditas memberatkan sektor pertambangan. Padahal, sektor pertambangan merupakan penerima FDI terbesar. Meski begitu, proyeksi untuk sektor pertambangan tetap meredup. Sejauh ini pada 2013, harga tembaga turun 12%. Penurunan itu didorong perlambatan pertumbuhan di Tiongkok serta kemungkinan peredaman stimulus oleh bank-bank sentral negara maju. Harga timah dan nikel turun 17%. Impor barang modal ke sektor pertambangan juga melambat sejak tahun lalu.

Sementara tingkat pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat di atas 6% dalam empat dari lima tahun terakhir. Namun, sinyal baru-baru ini menunjukkan pertumbuhan mulai melambat. Maklum, Indonesia mengimpor sejumlah besar barang modal untuk menyokong pertumbuhan.

Di lain sisi, ekspor melemah akibat perlambatan harga komoditas global sepanjang tahun lalu. Dampaknya, Indonesia membukukan defisit transaksi berjalan selama enam kuartal berturut-turut. Sebelumnya Bank Indonesia (BI) telah merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi 2013 dari 6,2% menjadi 5,8%. Ini koreksi kedua setelah prediksi BI sebelumnya yang 6,2- 6,6%.

Walaupun laju pertumbuhan investasi melambat, jumlah FDI masih cukup kuat. Seperti yang lalu, Singapura masih menjadi sumber terbesar FDI. Sektor pertambangan tetap sanggup menarik FDI hingga sebesar 1,2 miliar dolar AS dalam kuartal II, disusul transportasi. Investasi memang akan sedikit terhambat, mengingat persiapan bank sentral Amerika Serikat yang bakal mengurangi stimulus quantitative easing. Langkah ini diperkirakan bakal memicu penguatan suku bunga di AS sekaligus menjauhkan investor dari pasar negara berkembang.

Empat Sektor Industri
Di dalam negeri, pengetatan moneter oleh BI melalui kenaikan BI rate dan fasilitas BI (Fasbi rate) dapat memperlambat aktivitas investasi. Apalagi kini, BI tengah berupaya keras menangani penguatan inflasi sejak pengurangan subsidi bahan bakar minyak (BBM) pada Juni lalu. BI telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 75 basis poin dalam dua bulan terakhir. Diharapkan kenaikan BI rate dan Fasbi ini tidak mengganggu kegiatan industri.

Maklum, pemerintah telah fokus untuk mempertahankan kinerja empat (4) sektor industri agar ekonomi Indonesia tetap tumbuh di atas 6% pada 2013. Sektor industri tersebut yakni besi baja, industri makanan-minuman, industri petrokimia, dan industri elektronik. Keempat industri ini harus tetap tumbuh di tengah tren perlambatan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Industri makanan minuman dan industri elektronik dianggap penting sebagai sektor yang mampu menyerap banyak tenaga kerja.

Ada pun industri besi baja dan industri petrokimia adalah sektor industri yang memiliki dampak berganda (multiplier effect) pada sektor industri lain. Untuk menunjang pertumbuhan empat sektor industri tersebut, pemerintah menyiapkan beberapa kebijakan. Selain relaksasi persyaratan pemberian tax holiday, pemerintah juga menyiapkan insentif khusus untuk sektor industri tertentu. Namun, tidak disebutkan secara spesifik insentif apa saja yang sedang dipertimbangkan pemerintah.

Yang pasti pemerintah akan mempertahankan industri padat karya untuk menjaga agar tingkat pengangguran tidak meningkat dan pertumbuhan ekonomi maupun industri secara nasional tetap bisa dipacu. Pemerintah optimistis hingga akhir tahun ini pertumbuhan industri bisa mencapai 6,5%. Sementara itu, pemerintah juga tetap mengupayakan pertumbuhan ekonomi nasional tidak kurang dari 6%. Untuk ini, pemerintah bersama dengan BI harus terus mengendalikan inflasi agar tidak menembus angka di atas 7,3%, mengendalikan nilai tukar tidak di atas Rp 10.200/dolar AS, memangkas birokrasi, dan merevisi aturan yang tidak kondusif bagi pertumbuhan ekonomi.

Ryan Kiryanto, kepala Ekonom BNI

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

BAGIKAN