Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Nicky Hogan, CEO BeritaSatu Media Holdings

Nicky Hogan, CEO BeritaSatu Media Holdings

(Bukan) Sekadar Pilihan

Kamis, 23 Juli 2020 | 05:51 WIB
Nicky Hogan*)

“We must all make the choice between what is right and what is easy.” ~ Professor Dumbledore

Ketika kita disodori pilihan antara mendapatkan keuntungan pasti Rp 1 juta, atau pilihan peluang 50% untuk mendapatkan keuntungan Rp 2 juta, pilihan manakah yang akan kita ambil?

Barangkali kita akan menghindari risiko dan pilih an kita akan jatuh ke sesuatu yang pasti. Bahkan, kalaupun ada potensi peluang yang lebih tinggi, katakanlah 60-70%, untuk mendapatkan keuntungan Rp 2 juta itu, sebagian dari kita mungkin masih tetap akan menaruh pilihan kepada yang pasti- pasti saja.

Tidak ada yang salah, begitulah umum nya dan “wajarnya” sikap kita terhadap pilihan. Penelitian di bi dang psikologi menunjukkan bahwa untuk pilihan atas sebuah keuntungan, manusia pa da dasarnya akan lebih nyaman d e ngan kepastian dibandingkan de ngan ketidakpastian.

Lalu, bagaimana kalau sebaliknya? Ketika kita diberikan pilihan antara menderita kerugian pasti Rp 1 juta, atau pilihan kemungkinan 50% mengalami kerugian Rp 2 juta, yang manakah pilihan kita? Seolah sebuah kontradiksi. Pada umumnya kita tidak akan memilih kerugian pasti, kita akan memilih risiko, ketidakpastian. Kerugian pasti sangat tidak kita sukai, sehingga mendorong kita untuk mengambil risiko. Seperti tulis Daniel Kahneman, “Kita suka untung dan tak suka rugi, dan hampir pasti kita lebih tidak suka rugi daripada suka untung.”

Mungkin itulah jawabannya, ke napa rata-rata para investor memiliki daftar panjang saham yang merugi di portofolionya, tanpa atau dengan sedikit saja saham yang tetap berwarna hijau. Keuntungan di genggaman tangan dan di depan mata yang sudah pasti, selalu dan terlalu menggoda untuk harus segera direalisasikan.

Investor tidak mau mengambil risiko ketidakpastian, dan karenanya saham-saham untung akan dijual habis, mengabaikan kemungkinan potensi untung yang lebih besar.

Sedangkan kerugian mengambang (floating loss) atas saham-saham yang dimiliki (yang segera berubah menjadi kerugian pasti begitu dijual), akan dikesam pingkan dan disimpan untuk lan tas “bertaruh” dengan risiko ke ti dakpastian.

Bahkan dengan mengabaikan kemungkinan rugi yang le bih besar, juga mengabaikan ki nerja saham yang sebenarnya sa ma sekali tidak lagi menjanjikan. Sekali lagi, terdengar normal dan manusiawi. Hanya saja, sebenarnya ketika kita sebagai investor mengetahui fakta psikologi pilihan untung rugi ini menjadi pengetahuan --dan pelajaran-- untuk kita maknai, pada akhirnya mampu memperoleh hasil lebih maksimal dari investasi-investasi kita.

Pintar dalam mengelola potensi keuntungan dan bijak dalam menyikapi kerugian pasti. Perihal pilihan, sebagai sebuah tambahan, hasil penelitian “klasik” menarik lainnya menunjukkan bahwa bagi kebanyakan orang, rasa takut kehilangan Rp 1 juta le bih kuat daripada harapan untuk mendapatkan Rp 1,5 juta. Artinya, “rugi lebih terasa berat daripada un tung” dan orang tak mau rugi.

Mungkin itu juga jawabannya, kenapa tidaklah mudah bagi kita ketika harus mengambil keputusan untuk menjadi seorang investor saham.

Pada akhirnya, banyak hal dalam kehidupan kita, seperti yang dikatakan oleh Profesor Albus Dumbledore, kepala Sekolah Sihir Hogwarts itu, beberapa pilihan kadang tampak mudah, namun tidak selamanya pilihan itu benar.

*) CEO BeritaSatu Media Holdings

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN