Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Mohamad Khusaini, Guru Besar FEB Universitas Brawijaya

Mohamad Khusaini, Guru Besar FEB Universitas Brawijaya

Ekspansi Ekonomi Indonesia di Tengah Pandemi Covid-19

Senin, 10 Mei 2021 | 10:07 WIB
Mohamad Khusaini *)

Fondasi ekonomi Indonesia belum cukup kokoh untuk tumbuh positif di paruh pertama tahun ini. Alhasil, pertumbuhan masih negatif sebesar 0,74% (year on year/yoy). Dengan demikian pertumbuhan ekonomi telah terkontraksi sebanyak empat triwulan sejak krisis pandemi Covid-19.

Sebagai informasi, pertumbuhan ekonomi negatif terjadi sejak triwulan II-2020 sebesar 5,32% (yoy). Level tersebut menjadi yang terburuk sejak krisis 1997/98. Triwulan berikutnya, pertumbuhan ekonomi naik menjadi -3,49% (yoy).

Pertumbuhan pada triwulan IV-2020 mencapai -2,19% (yoy). Ada beberapa faktor yang memengaruhi pencapaian ekonomi Indonesia pada triwulan I-2021.

Pertama, kasus Covid-19 di Indonesia masih cukup tinggi. Akhir Maret 2021, total kasus Covid-19 mencapai 1,51 juta kasus; naik dua kali lipat dari awal Januari 2021. Kasus harian baru mencapai titik tertinggi pada akhir Januari lalu yang mencapai 14.518 per hari. Akhir Maret, kasus baru harian melandai ke level 5.937 kasus.

Sejalan dengan tingginya kasus baru ha ri an pada akhir Januari, kasus aktif Covid-19 di Indonesia juga mencapai puncak pada periode tersebut mencapai 175.095 kasus. Dengan memperhatikan data- data tersebut, pemerintah terpaksa membatasi pergerakan manusia lewat program Pembatasan Sosial Berskala Mikro (PSBM).

Pilihan kebijakan tersebut menyebabkan aktivitas ekonomi dan bisnis kembali terganggu.

Kedua, minimnya stimulus sektor keuangan. Agar bisa tumbuh positif, dukungan sektor keuangan, khususnya sektor perbankan, tidak dapat dikesampingkan. Sebagai lembaga intermediasi keuangan, perbankan menjadi salah satu kunci pokok pemulihan ekonomi.

Sayangnya, aktivitas perbankan masih terbatas sehingga penyaluran kredit tidak dapat tumbuh lebih cepat. Data Bank Indonesia (2021) menunjukkan realisasi pertumbuhan kredit turun 4,11% (yoy) pada Maret lalu. Penyaluran kredit investasi turun 4,98% (yoy); kredit modal kerja turun 5,44% (yoy), sedangkan kredit investasi turun lebih rendah sebesar 1,06% (yoy).

Menurut lapangan usaha, kredit sektor transportasi, pergu da ngan, dan komunikasi menunjukkan tren perbaikan, dengan pertumbuhan sekitar 9% (yoy).

Perbaikan tersebut sejalan dengan stimulus pemerintah lewat diskon Pajak Penjualan Atas Barang Mewah (PPnBM) yang dilansir awal Maret lalu. Dari sisi ketersediaan likuiditas, Dana Pihak Ketiga (DPK) bank umum tumbuh sekitar 9,21% (yoy).

Ketiga, ekspansi industri pengolahan masih tersendat. Dalam beberapa bulan terakhir, Purchasing Manager’s Index (PMI) industri manufaktur Indonesia di level ekspansi (di atas 50). PMI pada Maret 2021 mencapai 53,2 dan melonjak hingga 54,6 pada April 2021. Akan tetapi, perbaikan tersebut belum mampu mendorong kinerja industri pengolahan.

BPS mencatat, industri pengolahan mencatat pertumbuhan negatif sekitar 1,38% (yoy). Akan tetapi, level tersebut bergerak dari kontraksi sekitar 3,14% (yoy) pada triwulan IV-2020. Pertumbuhan industri ma nufaktur sempat mencapai titik terendah hingga -6,18% (yoy) pada triwulan II-2020; sebelum membaik pada dua triwulan berikutnya masing-masing -4,34 % (yoy) dan -3,14% (yoy).

Triwulan I-2021, beberapa industri yang tumbuh positif seperti industri makanan dan minuman (2,45%, yoy); industri kimia, farmasi, dan obat tradisional (11,46%, yoy), industri karet, barang dari karet dan plastik (3,84%, yoy) dan industri logam dasar (7,71%, yoy).

Keempat, konsumsi rumah tang ga belum pulih. Sebagai negara yang didorong oleh konsumsi rumah tangga (consumption driven) pemulihan ekonomi sangat bergantung pada faktor tersebut.

Triwulan I-2021, konsumsi rumah tangga masih turun 2,33% (yoy) karena berbagai hal seperti: (i) pembatasan aktivitas ekonomi dan sosial untuk menurunkan penyebaran kasus positif Covid-19; (ii) kelas menengah masih menahan berkonsumsi khususnya pada aktivitas hiburan (leisure); (iii) relatif lambatnya realisasi anggaran Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN), yang hanya 19,2% (akhir Maret) dari Rp 699 triliun. Berita baiknya, anggaran perlindungan sosial terealisasi 32% dari total Rp 157 triliun.

On the Right Track dan Tanda-Tanda Pemulihan

Pemulihan ekonomi nasional sedikit terlambat dibandingkan negara-negara lain. Tiongkok, misalnya, telah tumbuh positif sejak beberapa triwulan lalu. Triwulan I-2021, ekonomi Tiongkok tumbuh hingga 18,3% (yoy). Negara-negara mitra dagang lainnya juga mencatat pertumbuhan positif, seperti Amerika Serikat (0,4%), Singapura (0,2%), Korea Selatan (1,8%); Vietnam (4,5%) dan Hong Kong (7,8%).

Kontras dengan beberapa Negara tersebut, ekonomi Uni Eropa (UE) masih kontraksi sebesar 1,7% (yoy). Penyebab kontraksi UE adalah lambannya vaksinasi sehingga kasus positif Covid tetap tinggi.

Di tengah-tengah pemulihan ekonomi yang sedang berlangsung, ekonomi nasional berada di jalur baik dan telah menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Beberapa indikator yang menunjukkan pemulihan tersebut adalah sebagai berikut.

Bagian pertama adalah penurunan kasus baru Covid. Awal Mei 2021, kasus baru positif mencapai 4.369 kasus; yang menurun dari rata-rata triwulan I-2021. Total kasus aktif harian juga turun menjadi 99.087 kasus. Namun demikian, ancaman lonjakan kasus bisa terjadi karena momentum mudik Idulfitri.

Untuk itu, kesadaran warga tentang protokol kesehatan sangat penting dan menjadi penentu pemulihan ekonomi. Sebelumnya, pemerintah telah melarang mudik sepanjang 6-17 Mei 2021. Akan tetapi, antusias pemudik tetap tinggi, bahkan sudah mudik sebelum masih periode pelarangan. Faktor kedua yang menjadi pendorong pertumbuhan pada triwulan II-2021 bersumber dari sisi konsumsi. Dorongan konsumsi rumah tangga bersumber dari tunjangan hari raya (THR) hingga pembayaran gaji ke-13 bagi Aparatur Sipil Negara (ASN).

Walaupun kurang maksimal karena pelarangan mudik, tambahan penghasil rumah tangga dapat men stimulus konsumsi rumah tang ga. Rumah tangga diharapkan memaksimalkan momentum penerimaan THR dan dengan sti mulus yang dikeluarkan pemerintah seperti diskon PPnBM. Triwulan I-2021, subsektor perdaga ngan mobil, sepeda motor dan re parasinya terkontraksi 5,46% (yoy). Namun dari sisi realisasi kre dit bank umum telah tumbuh positif.

Perbaikan kinerja penanaman modal langsung merupakan satu dari berbagai faktor lain yang menjadi pendorong pertumbuhan ke depan. Data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mengungkap bahwa pada triwulan I-2021, penanaman modal mencapai Rp 219,7 triliun atau naik 4,3% (yoy).

Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) terkoreksi 4,2% (yoy), sedangkan Penanaman Modal Asing (PMA) naik 14% (yoy). Data yang cukup menggembirakan adalah penyerapan tenaga kerja dari realisasi penanaman modal sepanjang triwulan I-2021. Total penyerapan tenaga kerja triwulan I-2021 melampaui pencapaian tahun-tahun sebelumnya bahkan sebelum krisis pandemi Covid-19.

Triwulan I-2021, penyerapan tenaga kerja mencapai 311 ribu (PMDN sebanyak 165 ribu dan PMA sebesar 146 ribu), sedangkan pada 2020 hanya 303 ribu. Sepanjang 2016-2019, penyerapan tenaga kerja pada triwulan pertama masing-masing 327 ribu, 194 ribu, 201 ribu, dan 235 ribu.

Pemulihan ekonomi Indonesia sudah di depan mata sehingga perlu disambut dan dirawat agar tidak lagi kembali ke resesi eko nomi. Langkah-langkah menyambut pemulihan tersebut men syaratkan kedisiplikan masyarakat dalam mematuhi protokol kesehatan sehingga kasus Co vid-19 dapat ditekan. Kita harus bahu membahu agar pandemic Co vid-19 ini cepat berlalu.

Tentu, kita tidak ingin seperti In dia yang mengalami gelombang kasus positif yang sangat mengkhawatirkan. Ekonomi pu lih jika kesehatan pulih.

*) Guru Besar FEB Universitas Brawijaya dan Anggota Badan Supervisi Bank Indonesia (BSBI)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN