Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Said Kelana Asnawi, Pengajar pada Institut Bisnis dan Informatika Kwik Kian Gie Jakarta

Said Kelana Asnawi, Pengajar pada Institut Bisnis dan Informatika Kwik Kian Gie Jakarta

Eksternalitas Positif dari Pandemi Covid-19

Sabtu, 29 Agustus 2020 | 09:42 WIB
Said Kelana Asnawi *)

Pandemi Covid-19 telah memberikan dampak negatif sangat besar terhadap seluruh sektor. Khusus di sektor pendidikan, telah terjadi perubahan signifikan dalam hal pengajaran, dari metode klasik tatap muka menjadi kelas online. Banyak kritikan menyertai sistem pengajaran jarak jauh ini.

Namun, saya akan menuliskan potensi baiknya saja dan perkiraan apa saja yang sehar usnya dilakukan pemangku kepentingan dunia pendidikan.

Ringkas dan Berkelanjutan

Kelas online atau di-pleset-kan dengan istilah “kelas online”, dilaksanakan dengan ringkas, santai dan bermakna. Hemat saya, tingkat penyerapan dari kelas online berkisar 70-90% dibanding metode klasik. Hal yang membutuhkan energi besar adalah persiapan kelas online, di mana pada saat ini ‘gagap’ menyertai seluruh pemangku kepentingan (stakeholder).

Ke depan, fokus pemangku kepentingan adalah mempersiapkan kelas online dengan baik. Dunia pendidikan yang mempersiapkan kelas online dengan baik dapat terus memanfaatkan kelas online ini, sekalipun pandemi Covid-19 sudah usai.

Topik-topik dalam mata kuliah dapat diubah dalam format video, berkisar 5-60 menit. Sisa waktu berkisar 1,5-2,5jam dapat diisi dengan diskusi pada tatap muka klasik.

Dalam hal ini, mahasiswa yang rajin, akan mendapatkan manfaat tahu konsep sejak awal, sehingga seharusnya diskusi kelas dapat lebih keras.

Dosen juga mendapatkan eksternalitas positif, lebih hemat waktu mengajar dan energy mengajar, namun mendapatkan adrenalin lebih berupa potensi diskusi lebih hangat.

Bagi mahasiswa, dia mendapatkan dua pola pengajaran, di mana hal ini menambah kekayaan pengalamannya. Belajar secara online memberi potensi pengetahuan lebih luas kepada mahasiswa, di mana hal itu menjadi dorongan baginya untuk mencari/mencipta peluang; belajar secara klasik, dia mendapatkan kepastian standar ilmu, di mana standar ilmu dapat menjadi bekal dalam mengambil keputusan.

Video dapat dipakai lintas waktu (tahun ajaran), lintas ruang, lintas universitas, dapat disesuaikan dengan audien yang dituju. Hal ini memberi eksternalitas positif yang besar.

Bagian terberat dalam hal ini adalah justru pada menyiapkan videonya itu sendiri. Jika tidak ingin mencipta video secara khusus, maka Perguruan Tinggi dapat mulai mempertimbangkan untuk menyimpan secara elektronik proses belajar mengajarnya.

Berkaca pada platform penyedia video conferences (zoom, meet), yang memiliki fitur rekam, dan telah dipraktikkan selama perkuliahan online ini, mengapa tidak ditiru saja?

Jika memungkinkan, video perkuliahan ini dapat disatukan oleh Kemendikbud, sehingga banyak mahasiswa dapat menikmati berbagai perkuliahan dari lintas dosen/Perguruan Tinggi. Tentunya ini akan menambah pengalaman. Kuliah online juga berpotensi ‘sharing sumberdaya’ sehingga dapat lebih efisien. Universitas A dan B dapat menggunakan bahan kuliah bersama. Berkenaan dengan proses penilaian, dll, mungkin dapat disepakati dan mungkin juga tidak.

Kuliah online ini akan lintas ruang, menyebabkan efisiensi proses belajar, dan mutu pendidikan ditentukan oleh hal aslinya, yakni: pengajar, pengetahuan, dan proses transfer knowledge. Diharapkan dengan demikian penghargaan kepada pengajar dan ilmu lebih terasa.

Seharusnya dan sewajarnya, untuk mengejar ketertinggalan dunia pendidikan, maka secara besar-besaran pemerintah, dunia usaha, dan pemangku kepentingan dunia pendidikan lainnya mengambil momentum ini sebagai kebijakan.

Saya terharu ada seorang mahasiswa yang rela mengikuti kuliah online (dari Amerika Serikat) pada jam 01.00 dini hari (waktu Indonesia). Sebuah kesempatan langka yang ia manfaatkan. Mahasiswa tersebut berkata; saya kira saya telah belajar sungguh-sungguh, namun sungguh pengetahuan saya belumlah seberapa dibanding pembicaranya. Saya menjawab: karena yang di hadapanmu adalah seorang ahli, maka kamu belumlah sebanding. Tetapi, kamu akan seperti itu, dan juga dia tidak lebih baik darimu di saat sepertimu ini.

Kapitalisasi Pengetahuan

Kita tahu, saat ini ada influencer, youtuber yang memberikan pengaruh luas. Mungkin sudah saatnya untuk berbagi berkenaan dengan pengetahuan, agar bisa dikapitalisasi oleh masyarakat.

Masyarakat dengan kapitalisasi ilmu yang lebih tinggi diharapkan akan memberikan dampak perilaku dan etos kerja yang lebih baik. Jika saat ini ibu memiliki uang Rp 1.000, tahun depan menjadi Rp 1.050; itu artinya kekayaan naik Rp 50; namun jika harga segelas minuman tahun ini Rp 1.000 dan tahun depan menjadi Rp 1.050, maka daya beli tidaklah naik.

Dalam istilah keren, itu berkenaan dengan laba akuntansi dan laba ekonomis. Berbagai pengetahuan praktis seperti ini, mungkin dapat disebarluaskan oleh pemangku kepentingan dunia pendidikan. Jika dirancang lebih seksama, maka pengetahuan masyarakat akan meningkat. Saya quote pernyataan pemenang Nobel Ekonomi Banerjee dan Duflo (2019); pembangunan SD Inpres di Indonesia terbukti meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Ayo, manfaatkan momentum RI.5.0 ini untuk lompatan lainnya!

Jika ke depan, merujuk pada OECD, untuk menjadi entrepreneurial university, maka kalau dilebarkan dapat menjadi entrepreneurial society. Teknologi sederhana, tepat guna, dapat terus digembar-gemborkan, didorong dan difasilitasi agar dilakukan oleh masyarakat, sehingga tingkat produktivitas meningkat. Saya berharap, dunia usaha, membantu kapitalisasi pengetahuan dengan CSR-nya, dengan ‘membuat’ beberapa video pembelajaran, menerbitkan e-books, dll, yang dapat diunduh pada website resminya.

Kelas online juga dapat dikemas sebagai sarana promosi Indonesia. Kelas online bisa didesain untuk berbagai suasana, tidak monoton pengajarnya harus di kelas, sehingga memberikan variasi pengalaman/imajinatif. Jika diperlukan, oleh pemerintah, kelas online bisa didesain di wilayah Indonesia yang perlu diperkenalkan.

Untuk pengajar, jika mengajar di rumah, tampaknya setidaknya harus memiliki ‘r uang kerja’ layaknya kelas, sehingga proses pengajarannya lebih nyata dan dekat dengan realitanya.

Hal ini berarti ke depan pengajar harus memperoleh pendapatan untuk memiliki ruang kerja tersebut.Tentu tidak mudah untuk menerapkan hal di atas. Tidak menutup kemungkinan justru tidak ideal dilaksanakan, karena yang disampaikan di atas barulah crude idea. Hal ini dapat dikritisi oleh pembaca dan seluruh stakeholder.

Hal sederhana lain adalah pertanyaan pertama: apakah kelas online lebih baik dari kelas offline (kelof)? Layaknya pertanyaan mana yang lebih seru menonton di TV atau di stadion langsung, dengan ingar bingar penonton yang seru? Kedua, bagaimana mengontrol mahasiswa yang belajar? Ketiga, bagaimana mengatasi rasa jenuh dan bosan?

Keempat, bagaimana jika dalam proses belajar mengajar perlu ada diskusi yang ‘keras’? Kelima, bagaimana proses evaluasinya? Keenam, siapa yang membiayai proses belajar mengajar ini, dan kepada pihak mana?

Ketujuh, bagaimana evaluasi kelulusan, serta menghindari proses ‘jual-beli’ ijazah/kelulusan? Kedelapan, bagaimana agar proses belajar mengajar lebih hidup (dua arah)? Kesembilan: apakah falsafah Pendidikan dapat diterapkan pada kelas online? Kesepuluh, pembaca dapat mengajukan sendiri berbagai argumentasi kelemahan kelas online.

Untuk itu perlu didiskusikan dengan ‘kepala dingin’. Hal yang ingin disampaikan di sini bahwa situasi online bisa menjadi tren pembelajaran ke depan, dan harus diantisipasi sebagai peluang. Ada pameo: yang cepat memanfaatkan peluang, dia yang dapat lebih awal. Bersiap diri mengantisipasi situasi ini akan lebih baik. Jika tidak terjadi? Tidak masalah! Setidaknya sudah memiliki sikap antisipatif. Memaknai Indonesia Merdeka ke-75: ayo rebut pengetahuan secara bersama. Merdeka!

*) Pengajar pada Institut Bisnis dan Informatika Kwik Kian Gie, Jakarta

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN