Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Tri Winarno

Tri Winarno

Fenomena di Balik Pelemahan Dolar AS

Senin, 31 Agustus 2020 | 09:41 WIB
Tri Winarno *)

Sejak Maret 2020, nilai dolar AS mengalami depresiasi sekitar 10%, yang menimbulkan berbagai pertanyaan tentang narasi dari kejadian tersebut. Dalam perspektif jangka pendek, depresiasi dolar AS akan memberikan kemanfaatan pada ekonomi AS dan pasar keuangan global.

Sedangkan dalam jangka panjang, narasi yang muncul adalah melemahnya dolar AS sebagai pertanda semakin mengecilnya fungsi dolar AS sebagai mata uang dunia yang selama hampir 6 dasawarsa menjadi tumpuan masyarakat internasional untuk alat pembayaran. Betulkah narasi tersebut?

Beberapa faktor telah memberi kan tekanan pada dolar AS yang dijuluki sebagai the greenback, ji ka diukur dengan dolar DXY Index dalam beberapa minggu ini, sehingga dolar mengalami de presiasi yang membalikkan hampir setengah nilai apresiasi dolar selama 10 tahun terakhir, hanya dalam hitungan bulan.

Ketika The Fed mengendorkan ke bijakan moneternya dalam rangka menyikapi prospek ekonomi yang kian memburuk, pendapatan dari penempatan dalam denominasi dolar, seperti obligasi pemerintah AS, mengalami penurunan signifikan.

Dengan demikian, investasi yang berbasis dolar AS semakin kurang menarik. Sehingga investasi ber alih ke emerging markets dan Europe (Uni Eropa bulan lalu setuju me lakukan integrasi fiskal yang lebih dalam).

Juga terdapat indikator yang menunjukkan semakin mengecilnya modal masuk ke AS. Misal nya, pembelian properti oleh orang asing di AS makin menurun, dika re nakan kebijakan pemerintah AS yang semakin berorientasi inward-looking dan terkait dengan penggunaan kebijakan perdagang an sebagai alat untuk menekan ne gara lain dengan berbagai variasi sanksinya.

Kecuali dengan mata uang Lebanon, Turki, dan beberapa mata uang lemah lainnya yang mengalami depresiasi terhadap dolar AS, sebagian besar mata uang lainnya mengalami apresiasi terhadap dolar. Tetapi di antara mata uang yang mengalami penguatan tersebut, reaksi terhadap fenomena tersebut tidaklah seragam.

Beberapa negara, khususnya Negara berkembang, menyambut baik depresiasi dolar, sebab berdampak pada semakin tingginya harga barang impor, khususnya bahan makanan.

Selain itu, melemahnya dolar memungkinkan bagi nega ranegara berkembang untuk mengefektifkan kebijakan moneter dan stimulus fiskal. Dengan demikian, depresiasi dolar adalah berkah bagi sebagian besar negara berkembang melalui peningkatan daya beli masyarakatnya.

Tetapi reaksi pesimistis datang dari negara-negara maju. Jepang dan sebagian negara di Uni Eropa bahkan khawatir pelemahan dolar akan menghambat pemulihan ekonomi negara mereka akibat dari shock Covid-19.

Bank of Japan dan European Central Bank juga khawatir pelemahan dolar akan berakibat kurang efektifnya kebijakan moneternya yang dapat mengganggu jalannya pemulihan ekonomi.

Di AS, pelemahan dolar disambut baik oleh pemangku kebijakan dan pebisnis, pertanda bahwa de pre siasi dolar berdampak positif terhadap perekonomian AS dalam jangka pendek. Melemahnya dolar akan meningkatkan daya saing produsen AS, baik di pasar internasional maupun pasar domestik. Sehingga AS akan semakin menarik bagi investor dan pelancong. Di samping itu, melemahnya dolar akan mening katkan pendapatan dalam dolar yang diperoleh perusahaan AS luar negeri.

Selain itu, akan berdampak positif terhadap pasar saham dan obligasi AS, yang juga semakin menguntungkan karena sekuritas yang denominasi dolar akan semakin menarik jika dihargai dengan mata uang selain dolar. Namun dari perspektif jangka pan jang, perkembangan tersebut tidak menguntungkan AS. Kekhawatiran muncul karena semakin melemahnya dolar akan me nggerus status dolar sebagai mata uang global. Hal itu akibat kebijakan Presiden AS Donald Trump selama tiga tahun ini yang proteksionistik serta menggunakan dolar dan kebijakan perdagangan sebagai senjata menekan negara yang tidak disukai Trump.

Sanksi tersebut telah mengabaikan normal standar global dan aturan hukum multilateral. Semakin besar dolar kehilangan kredibilitasnya, dolar AS akan kian berisiko kehilangan exorbitant privilege akibat fungsi dolar sebagai mata uang global utama semakin susut.

Padahal dengan “keistimewaan” tersebut, AS hanya mencetak dolar atau melakukan digital entries (currency creation) untuk membayar barang dan jasa yang diproduksi negara lain. Dengan demikian, AS menikmati pengaruh yang sangat besar terhadap keputusan dan penunjukan pejabat mul tilateral. AS juga diuntungkan dengan digunakannya dolar sebagai alat penyimpan kekayaan.

Kedua fenomena di atas akan semakin berdampak pada pelemahan dolar ke depan. Memang secara teori dampak jangka pendek positif terhadap ekonomi AS, tetapi praktiknya akan berbeda karena aktivitas ekonomi AS saat ini sangat terbatas dan konsumen maupun pebisnis masih enggan kembali ke tingkat belanja semula.

Sekitar setengah dari states di AS telah menghentikan proses pembukaan ekonominya karena Covid-19. Di samping itu, pasar akan melaju dengan cepat jika kondisi kesehatan setidak-setidaknya sudah kembali seperti semula. Dikarenakan melimpahnya likuiditas global yang dipompa oleh bank sentral dunia, maka sebagian besar valuasi aset sudah tidak ada hubungannya dengan fundamental ekonomi dan fundamental perusahaan.

Dengan kondisi keuangan seperti tersebut, sulit membayangkan bahwa depresiasi dolar akan berpengaruh signifikan terhadap pemulihan kinerja sektor riil.

Adapun penggantian peran dolar sebagai mata uang global terkuat di dunia dapat terjadi jika sudah ada mata uang kuat dunia lain yang secara potensi dapat menandinginya.

Ingat, dolar sekarang 70% dija dikan cadangan devisa global. Selama belum ada mata uang lain yang berpotensi untuk menggantikannya, maka sulit membayangkan peran dolar sebagai cadangan de visa dunia dapat digantikan. Namun, karena dampak dari kebijakan Trump yang nyeleneh, maka setidaknya sedang berlangsung proses fragmentasi sistem moneter internasional.

Sebagaimana pernah terjadi sebelumnya, telah terjadi kesimpulan yang kebablasan tentang peran dolar jangka panjang akibat dari implikasi fluktuasi jangka pendek depresiasi dolar terhadap mata uang lainnya.

Saat ini, pelemahan dolar tidak ada kaitannya dengan pemulihan pasar dan ekonomi AS, serta tidak ada kaitan dengan kejatuhan dolar sebagai mata uang global. Tetapi yang pasti, ini merupakan bagian dari fragmentasi gradual dan signifikan daripada tata ekonomi internasional.

Faktor utama dari proses tersebut adalah kejutan karena tidak adanya koordinasi kebijakan internasional pada saat meningkatnya tantangan global.

*) Pengamat Kebijakan Ekonomi

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN