Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Nicky Hogan, CEO BeritaSatu Media Holdings

Nicky Hogan, CEO BeritaSatu Media Holdings

Intuisi Milenial

Selasa, 30 Juni 2020 | 09:01 WIB
Nicky Hogan*)

“Kita bisa buta terhadap hal-hal yang sangat jelas, dan kita bisa buta terhadap kebutaan kita.” – Daniel Keahneman

Menurut Wikipedia, kelompok demografi milenial, yang juga dikenal sebagai Generasi- Y, para ahli dan peneliti biasanya menggunakan awal 1980-an sebagai awal kelahiran dan pertengahan tahun 1990-an hingga awal 2000-an sebagai akhir kelahiran generasi ini.

Berarti umur milenial saat ini pada kisaran 20-40 tahun, kelompok usia investor terbesar yang “menguasai” pasar modal, dunia saham dan reksa dana kita.

Menurut data Kustodian Sentral Efek Indonesia, sekitar duapertiga jumlah investor Indonesia adalah kaum milenial, di antara total lebih dari 2,5 juta jumlah investor yang tercatat. Peraih hadiah Nobel, Daniel Kahneman, dalam bukunya, Thinking, Fast and Slow, membagi pemikiran manusia menjadi dua, yakni sistem 1 “berpikir cepat” dan sistem 2 “berpikir lambat”.

Sistem 1 bersifat intuisi, kita terlahir dalam keadaan siap --mengenali benda,takut laba-laba, dan menghindari kerugian. Sedangkan sistem 2 adalah operasi sengaja yang membutuhkan perhatian --berjalan lebih cepat dari biasa, menjaga kelakuan dalam situasi sosial, mengisi surat laporan pajak.

Generasi-X, generasi sebelum milenial, miskin dengan informasi yang benar dan memadai mengenai pemahaman investasi di pasar modal. Hal itu lantaran akses informasi tidak semudah sekarang, di mana “di masa mereka” samarsamar yang selalu terdengar tentang pasar modal hanyalah saham yang mahal, ruwet, dan –terutama-- merugikan.

Akibatnya, ketika mendengar kata saham, secara intuisi, bahkan tanpa perlu perintah otak sekalipun, generasi ini akan menghindar. Sistem 1 hanya sedikit memahami logika serta tidak bisa dimatikan, dan celakanya sistem 2 sifatnya pemalas.

Pemeran utama yang tidak didukung oleh pemeran pembantu. Ambyar. Generasi-X hidup di masa “ketakutan” seperti itu, dan terus berlanjut hingga kini. Jangan heran kalau akhirnya “Generasi gue” --plus minus sepuluh tahun-- tidak banyak merespons yang namanya saham, ataupun kalau merespons, sifatnya malah negatif. Generasi-Y, dalam sepuluh dan lima tahun terakhir, terpapar ingar- bingar berita dan cerita mengenai investasi saham dan reksa dana.

Berita baik dan positif sangat berpengaruh terhadap pemahaman awal yang kosong dari seseorang, dan membentuk intuisinya. Beruntung, di antara beberapa berita dan pengajar yang kerap bercerita tentang kelamnya dunia saham, lebih banyak berita yang sifatnya positif dan membangun.

Kaum milenial yang mendapatkan pemahaman yang tepat mengenai investasi menjadi sangat terbuka karenanya. Pemeran utama yang terus menerus memberikan saran kepada pemeran pembantu, untuk senantiasa memperhatikan hingga akhirnya mengambil alih.

Milenial yang bahkan tidak hanya mengerti dan menikmatinya sendiri, tetapi turut menebarkan benih positif ke komunitasnya. (Menyenangkan membaca koreksi dan protes dari kaum milenial di beberapa tulisan media sosial kepada rekannya yang masih saja memakai istilah “main saham”.)

Teruslah menyebarkan kabar baik. Tidak hanya soal investasi. Apapun itu.

* CEO BeritaSatu Media Holdings

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN