Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Hamdi Hassyarbaini, Direktur Pengawasan Transaksi dan Kepatuhan BEI periode 2015-2018

Hamdi Hassyarbaini, Direktur Pengawasan Transaksi dan Kepatuhan BEI periode 2015-2018

Investasi Saham: Investasi Jangka Panjang, Abaikan Gejolak Sesaat

Kamis, 19 Maret 2020 | 21:26 WIB
Hamdi Hassyarbaini *)

Merebaknya Virus Korona baru atau novel coronavirus 2019 (2019-nCoV) yang merupakan penyebab penyakit Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) menimbulkan ketakutan pada masyarakat di seluruh dunia. Semua orang terpaksa mengurangi aktivitasnya guna mencegah tertular virus tersebut. Beberapa negara bahkan memutuskan untuk menutup diri dari dunia luar dengan melakukan lockdown untuk mencegah penularan.

Dunia usaha juga tak luput dari dampak negatif Virus Korona, baik langsung maupun tidak langsung. Beberapa sektor yang terkena dampak langsung adalah penerbangan, biro perjalanan, perhotelan dan restoran.

Sektor usaha lainnya lambat laun juga akan terkena dampak. Ada kekhawatiran akan terjadi perlambatan ekonomi. Kondisi ini makin diperparah oleh kejatuhan harga minyak dunia yang sempat menyentuh angka di bawah US$ 30 per barel, akibat perang harga antara Arab Saudi dan Rusia.

Investor di berbagai belahan dunia ketakutan, sehingga terjadi panic selling atas saham-saham yang mereka miliki, yang pada akhirnya menyebabkan indeks harga saham di seluruh bursa utama dunia berjatuhan.

Terhitung sejak awal tahun 2020 sampai dengan hari Rabu (18/3/2020) kemarin, indeks Dow Jones telah turun sebanyak 25,58%, sementara itu indeks S&P500 telah turun sebanyak 21,72%. Indeks Bursa Efek Indonesia (BEI) yaitu IHSG malah mengalami penurunan lebih dalam, yaitu sebanyak 31,25%.

Kondisi demikian makin menambah kekhawatiran para investor sehingga minat untuk membeli saham menurun tajam, bahkan sebaliknya malah terjadi penjualan saham secara besar-besaran.

Untuk menahan penurunan lebih lanjut, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan BEI telah mengeluarkan beberapa kebijakan, yaitu kebijakan pembelian kembali (buyback) saham oleh emiten, perubahan batas bawah auto rejection, dan kebijakan auto halting dalam hal terjadi penurunan tajam IHSG. Tidak ada yang tahu kapan wabah Virus Korona ini bisa diatasi. Namun beberapa Negara mengklaim bahwa mereka sudah menemukan anti virusnya.

Mudah-mudahan klaim tersebut memang benar. Belajar dari pengalaman dunia menghadapi serangan Virus Korona sebelumnya, yang merupakan penyebab penyakit SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome) dan MERS (Middle East Respiratory Syndrome) yang pada akhirnya bisa ditangani dengan baik, kita tentunya punya harapan Covid-19 juga segera bisa diatasi dengan baik.

Demikian pula halnya dengan perang harga minyak dunia, seharusnya juga tidak berlangsung lama karena pada akhirnya akan merugikan mereka sendiri. Kembali ke prinsip dasar, investasi saham adalah investasi jangka panjang, dengan horizon waktu paling tidak 5 atau 10 tahun. Naik turunnya indeks dalam jangka pendek adalah hal yang biasa, dalam jangka panjang tren indeks selalu naik. IHSG sebelumnya pernah mengalami beberapa kali penurunan tajam, antara lain pada tahun 1997 sebesar 36,98%, tahun 2000 sebesar 38,50%, dan tahun 2008 sebesar 50,64%.

Namun, sebaliknya IHSG juga pernah mengalami beberapa kali kenaikan tajam, antara lain pada tahun 1993 sebesar 114,61%, tahun 2009 sebesar 86,98%, dan tahun 1999 sebesar 70,06%. IHSG bahkan pernah mencapai angka tertinggi yaitu 6.689,29 pada tanggal 19 Februari 2018.

Berikut adalah perkembangan IHSG dari tahun 1992 sampai dengan perdagangan tanggal 18 Maret 2020. Pada akhir tahun 1992, yaitu tahun BEI (dahulu BEJ) diswastanisasi, IHSG berada pada angka 274,34. Empat tahun kemudian yaitu akhir tahun 1996, IHSG berada di angka 637,43 atau naik sebesar 132,35%. Artinya, kalau Anda menginvestasikan uang sebesar Rp 1 juta pada akhir tahun 1992, uang Anda akan menjadi Rp 2.323.503 pada akhir tahun 1996 atau setelah 4 tahun investasi.

Kalaupun ternyata Anda tidak sempat menikmati keuntungan sebesar 132,35% pada tahun 1996 dan memilih menahan investasi Anda sampai akhir tahun 2002, Anda masih memperoleh keuntungan sebesar 54,90%, saat IHSG turun ke 424,95.

Apalagi kalau Anda bisa menahan diri untuk tidak mencairkan dana investasi dan menunggu sampai tahun 2007 atau 5 tahun kemudian, maka uang Anda sudah menjadi 10 kali lipat karena IHSG pada akhir tahun 2007 adalah 10 kali angka IHSG pada akhir tahun 1992.

Anda mungkin saja tidak punya kesempatan untuk melakukan investasi pada tahun 1992 atau tahun 2002 sehingga tidak memperoleh kesempatan menikmati keuntungan dari kenaikan tajam indeks pada tahun 1996 atau 2007. Tapi Anda bisa punya kesempatan memulai investasi pada tahun 2007 sehingga bisa menikmati keuntungan sebesar 57,21% pada tahun 2012 atau sebesar 131,46% pada tahun 2017.

Dan kalaupun Anda kehilangan kesempatan memperoleh keuntungan pada akhir tahun 2017 dan memutuskan tetap mempertahankan investasi Anda sampai hari ini (18 Maret 2020), saat IHSG berada di angka 4.330,67, Anda masih tetap memperoleh keuntungan sebesar 57,72%.

Kalau ternyata Anda baru mulai melakukan investasi pada akhir tahun 2017, saat IHSG berada di puncaknya yaitu di angka 6.355,65 dan Anda masih mempertahankan investasi tersebut sampai hari ini, maka ada potensi kerugian sebesar 31,86%, yang akan menjadi kerugian nyata kalau Anda memutuskan menjual semua saham Anda pada hari ini, saat investasi Anda baru berumur 2 tahun lebih.  

Kalau Anda bertahan, masa sih dalam 3 atau 5 tahun yang akan datang IHSG tidak berbalik arah Ada yang bertanya, apakah tidak ada kemungkinan suatu saat bursa tutup kalau indeks terus menerus mengalami kejatuhan? Jawaban gamblang saya, bursa bisa tutup kalau negara ini bangkrut, sekadar menggambarkan bahwa kondisi tersebut sangat kecil kemungkinannya terjadi.

Bagi Anda yang baru memutuskan untuk mulai berinvestasi di saham, sekarang adalah saat yang tepat karena IHSG sudah turun begitu dalam. Sekali lagi, investasi saham adalah investasi jangka panjang dengan horizon waktu paling tidak 5 atau 10 tahun. Seperti terlihat pada grafik di atas, dalam jangka panjang tren indeks selalu naik.

Anda bisa mulai mencicil berinvestasi pada saham-saham yang punya fundamental bagus dan harganya sudah sangat murah, yang antara lain ditandai dengan rasio harga terhadap nilai buku (price to book value-PBV) yang rendah. Harian Investor Daily pada edisi Rabu (18/3/2020) memuat daftar valuasi saham emiten BUMN termasuk anak dan afiliasinya. Anda bisa menjadikan daftar itu sebagai acuan dalam memilih saham.

*) Penulis adalah Direktur Pengawasan Transaksi dan Kepatuhan BEI periode 2015-2018

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN