Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Tri Winarno

Tri Winarno

Kebangkitan dan Era Asia

Tri Winarno, Kamis, 17 Oktober 2019 | 14:40 WIB

Abad ke-19 adalah eranya Eropa. Abad ke-20 merupakan zamannya Amerika. Sekarang adalah kebangkitan dan sekaligus abadnya Asia, dan arah menuju destinasi tersebut dapat lebih cepat dari perkiraan Anda.

Kebangkitan Asia telah berjalan sangat cepat. Asia adalah rumah dari lebih dari setengah penduduk dunia. Kawasan ini hanya dalam satu generasi telah mampu bermigrasi dari status berpendapatan rendah menjadi status berpendapatan menengah. Pada akhir 2040, kami proyeksikan Asia akan menghasilkan lebih dari 50% dari produk domestik bruto (PDB) dunia, dan lebih dari 40% konsumsi global berasal dari Benua Coklat ini.

Menurut McKinsey Global Institute Research, pusat gravitasi global sedang bergeser ke Asia. Saat ini Asia sedang mengalami peningkatan pangsa perdagangan, akumulasi kapital, sumber daya manusia (SDM), pengetahuan, transportasi, budaya, dan sumber daya. Dari kedelapan jenis aliran lintas batas global, hanya sampah yang mengalir ke arah berlawanan, yang mencerminkan sikap Tiongkok dan negara Asia lainnya untuk mengurangi impor sampah dari negara maju. Karena, Asia bukan benua sampah.

Sepuluh tahun yang lampau pangsa perdagangan barang global dari Asia sekitar seperempatnya, tetapi sekarang telah mencapai sepertiga perdagangan global. Fantastik. Dalam selang waktu yang bersamaan, pangsa pelancong Asia yang menggunakan pesawat terbang meningkat dari 33% menjadi 40%, dan pangsa aliran modal meningkat dari 13% menjadi 23%. Aliran manusia dan modal tersebut telah memacu akselerasi pertumbuhan kota-kota di Asia. Benua ini rumah dari 21 tempat yang menjadi 30 destinasi wisata dunia, dan 4 dari 10 tempat yang paling sering dikunjungi. Bahkan beberapa kota yang dulu tidak dikenal sekarang menjadi radar para investor global. Misalnya di Yangon, ibu kota Myanmar, greenfield foreign direct investment (FDI) dalam sektor yang padat pengetahuan pada tahun 2017 mencapai US$ 2,6 miliar, meningkat tinggi dari nol pada tahun 2007.

Begitupula Bekasi, kota kecil di timur Jakarta, telah muncul sebagai the Detroit of Indonesia –pusat produksi otomotif dan sepeda motor Indonesia. Selama satu dasawarsa, FDI yang mengalir ke industri manufaktur di kawasan tersebut rata-rata per tahun tumbuh 29%. Kota Hyderabad, ibukota Negara Bagian Andhra Pradesh di India, –yang telah menghasilkan paten lebih dari 1.400 di 2017– juga dengan cepat mengejar Silicon Valley-nya India di Bangalore.

Tetapi tidak hanya aliran modal dari luar yang tumpah menuju Asia. Jaringan intraregional yang dinamis juga menjadi pendorong utama kemajuan Asia. Sekitar 60% total perdangaan Asia terjadi antarnegara Asia, yang difasilitasi oleh meningkatnya rantai produksi Asia yang terintegrasi. Pendanaan dan aliran investasi intraregional juga mengalami peningkatan signifikan, lebih dari 70% pendanaan startup di Asia berasal dari kawasan Asia sendiri. Sedangkan aliran manusia di Asia juga mengalami kemajuan yang signifikan --74% pelancong Asia berasal dari Asia juga– sehingga membantu mempercepat integrasi kawasan ini.

Yang menjadi faktor penggerak dinamika Asia tersebut adalah keragamannya. Faktanya, setidak-tidaknya terdapat empat “Asia”, masing-masing berada pada tahapan perkembangan ekonomi yang berbeda, yang memainkan peranan unik dalam kebangkitan Asia dalam kancah global.

Asia pertama terdiri atas Tiongkok, yang menjadi jangkar ekonomi Asia, yang menyediakan konektivitas dan platform inovasi ke negara-negara tetangganya. Dalam rentang waktu 2013-2017, total FDI yang keluar dari Tiongkok sekitar 35% dari total FDI keluar Asia. Dan seperempat investasi tersebut mengalir ke negara-negara Asia lainnya. Sedangkan kapasitas inovasi Tiongkok tumbuh sangat pesat. Terbukti, dari 44% aplikasi paten dunia tahun 2017 berasal dari Tiongkok.

Grup kedua adalah “Advanced Asia”, yang menyediakan technology dan capital. Dengan total FDI yang keluar sebesar US$ 1 triliun, negara-negara ini telah menginvestasi sekitar 54% menuju kawasan Asia dalam rentang waktu 2013-2017. Korea Selatan saja menginvestasikan sebesar 33% dari total FDI-nya ke Vietnam. FDI yang masuk ke Myanmar dari Jepang saja sekitar 35%; dan 17% ke Filipina.

Grup ketiga adalah “Emerging Asia,” yaitu kelompok negara-negara Asia yang sedang berkembang, yang menyediakan tenaga kerja, dan pertumbuhan ekonomi potensial dikarenakan peningkatan produktivitas dan konsumsi. Negara-negara ini terintegrasi dengan kawasan Asia. Pangsa aliran barang, modal dan manusia sekitar 79% dari total aliran di negara-negara Asia. Kelompok ini yang tertinggi di antara 4 kelompok Asia. Indonesia masuk dalam kelompok ini.

Grup keempat adalah “Frontier Asia dan India”, yang merupakan wilayah Asia yang rata-rata pangsa aliran barangnya paling kecil, yaitu sekitar 31%. Tetapi angka ini sedang mengalami peningkatan terkait dengan semakin terintegrasinya kelompok ini dengan kelompok Asia lainnya. Kelompok ini menawarkan banyak hal, di antaranya tenaga kerja yang relatif muda yang dapat menjadi katalisator pertumbuhan ekonomi Asia, baik sebagai sumber tenaga kerja maupun pasar yang akan menyerap produksi dari negara Asia lainnya.

Perbedaan di antara keempat kelompok di Asia tersebut justru saling melengkapi (complementary), sehingga integrasinya menjadi kekuatan yang dahsyat bagi kemajuan Asia. Misalnya, ketika suatu negara yang tenaga kerjanya sudah menua, diganti oleh negara lain yang tenaga kerjanya lebih muda. Umur median penduduk India adalah 27 tahun pada 2015, lebih muda dibandingkan dengan Tiongkok yang 37 tahun dan 48 tahun di Jepang. Diperkirakan umur median penduduk India akan mencapai 38 tahun pada akhir 2050.

Begitupula, ketika upah dan biaya produksi mulai meningkat di suatu negara, suatu negara yang ekonominya masih berada pada tahap awal pembangunan akan menggantikan aktivitas produksi untuk barang-barang dengan biaya murah.

Dari 2014 ke 2017, ketika pangsa produksi Tiongkok untuk barang-barang yang menggunakan buruh murah menurun dari 55% ke 52%, pangsa Vietnam meningkat 2,2% dan Kamboja juga meningkat 0,4%.

Selama bertahun-tahun para pakar berdiskusi tentang potensi masa depan Asia. Potensi itu kini telah menjadi kenyataan. Kita telah memasuki “abad Asia”, seperti ditulis oleh Parag Khanna. Dan tidak ada langkah untuk mundur lagi bagi Asia, karena Asia sedang menapaki masa-masa kebangkitannya, untuk menyongsong kejayaan dan kemakmuran bagi penduduknya.

 

Tri winarno

Pengamat Kebijakan Ekonomi

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA