Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Dwi Mukti Wibowo, Perintis Lembaga Riset dan Kajian Ekonomi Kemanusiaan, DM Center)

Dwi Mukti Wibowo, Perintis Lembaga Riset dan Kajian Ekonomi Kemanusiaan, DM Center)

Kedaulatan Ekonomi Nelayan di Tengah Pandemi

Jumat, 19 Juni 2020 | 12:35 WIB
Dwi Mukti Wibowo *)

Hari Laut Sedunia baru saja berlalu. Warga dunia selalu memperingatinya karena pentingnya laut bagi kehidupan makhluk hidup. Peringatan Hari Laut Sedunia digagas Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 1992 dalam Earth Summit di Rio de Janeiro, Brasil. Peringatan tahun ini dirayakan melalui acara virtual yang diinisiasi PBB bersama Oceanic Global.

Hari Laut Sedunia tahun 2020 bertemakan Inovasi untuk Laut yang Berkelanjutan. Tema ini relevan menjelang program satu dekade pembangunan berkelanjutan PBB dari 2021-2030.

Tema ini untuk membahas cara-cara inovatif menyelamatkan laut saat ini dan masa mendatang. Inovasi berupa teknologi, sistem infrastruktur, manajemen sumber daya, produk konsumen, keuangan, dan eksplorasi secara sains.

Inovasi diperlukan karena saat ini tingkat pencemaran laut sangat mengkhawatirkan. Dipenuhi sampah plastik, kadar air menurun serta kotor. Selain itu, laut menjadi salah satu kebutuhan utama manusia, sehingga melestarikan dan menjaganya menjadi penting. Bagi Indonesia, Hari Laut Sedunia relevan dengan fakta Indonesia sebagai negara maritim.

Menurut data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), luas lautan Indonesia 3,25 juta km2 dan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) 2,55 juta km2. Luas laut ini melebihi luas daratan Nusantara yaitu 2,01 juta km2. Lautan Indonesia memiliki biota laut yang melimpah, seperti gugusan terumbu karang yang mencapai 50.875 m2, atau 18% luas total terumbu karang dunia.

Juga ikan, udang, dan beragam satwa lainnya. Tema peringatan Hari Laut Sedunuia ini sekaligus mengingatkan kita pada Program Satu Juta Nelayan Berdaulat yang telah di-launching 8 April tahun lalu oleh Menkomarinves. Program ini bertujuan meningkatkan kedaulatan ekonomi nelayan Indonesia melalui dukungan teknologi 4.0, pemanfaatan sumber daya laut dari 7% menjadi minimal 17%, dan untuk meningkatkan kesejahteraan nelayan di Indonesia.

Program ini menjadi program unggulan, karena kondisi Indonesia yang mayoritas merupakan wilayah kelautan. Juga dilatarbelakangi oleh kekayaan laut Indonesia yang menurut data UNDP pada tahun 2017 sebesar US$ 2,5 triliun per tahun, tetapi baru dapat dimanfaatkan 7% karena minimnya teknologi.

Jumlah nelayan Indonesia saat ini sekitar 2,7 juta orang. Apa latar belakang Program Satu Juta Nelayan Berdaulat? Nelayan saat ini belum mendapatkan dukungan teknologi untuk menemukan lokasi keberadaan ikan secara akurat, real time dan murah. Ikan hasil tangkapan nelayan cepat membusuk dan harga jual ikan menjadi murah di kalangan tengkulak.

Masalah lainnya, tidak adanya sinyal komunikasi di laut, tidak ada sarana komunikasi dengan keluarga di darat, dan transaksi penjualan masih konvensional. Kemudian, tidak ada pertolongan saat terjadi kecelakaan melaut, terbatasnya unit patroli laut untuk menjaga kedaulatan laut Indonesia, hingga permodalan ke nelayan yang belum bankable.

Akhirnya, kini nelayan coba dikenalkan dengan teknologi yang diharapkan dapat menjadi solusi sektor maritim di Era Industri 4.0. Nelayan mendapat dukungan teknologi berupa aplikasi FishOn.

Aplikasi ini berbasis android dengan fitur pencarian ikan, pengawetan ikan, penjualan ikan, komunikasi/ chatting, pencatatan hasil tangkapan ikan, panic button untuk permintaan bantuan dalam kondisi darurat, fitur pembayaran elektronik dan fitur belanja kebutuhan sehari-hari yang terhubung dengan koperasi nelayan.

Apa manfaat aplikasi FishOn? Pertama, nelayan dapat meningkatkan pemanfaatan sumber daya laut dengan dukungan teknologi untuk pemasaran hasil laut, penjualan dan manajemen gudang untuk koperasi nelayan.

Kedua, aplikasi lelang ikan online menghubungkan Tempat Pelelangan Ikan (TPI), nelayan dan pedagang ikan, serta aplikasi website penjualan/e-commerce ikan.

Ketiga, menghubungkan nelayan dengan sumber pembiayaan untuk memperoleh kredit produktif melalui program kemitraan BUMN, kredit usaha rakyat (KUR) perbankan dan lembaga pembiayaan PNM maupun Komunal.

Keempat, ikut mengawasi dan membina serta menjamin nelayan agar tetap bisa memenuhi kewajibannya terhadap pemberi modal. Kelima, meningkatkan pendapatan nelayan minimal Rp 10 juta per bulan, karena terciptanya metode pemasaran hasil laut yang terintegrasi, efisien dengan rantai suplai chain yang pendek.

Selain itu, terdatanya informasi persebaran ikan dan juga data eksplorasi penangkapan ikan lengkap dengan harga jualnya, serta tersedianya laporan pendapatan daerah dari sistem lelang online dan laporan data kecelakaan nelayan dan data pencurian ikan.

Selanjutnya, untuk mendukung kedaulatan ekonomi nelayan melalui pemanfaatan sumber daya laut terdapat beberapa hal yang perlu dicermati.

Pertama, peta peran pemerintah harus disatukan. Kemenkomarinves dan Bappenas berperan sebagai pemilik program Satu Juta Nelayan Berdaulat dan harus menyelesaikan permasalahan di hulu.

Selanjutnya, melakukan koordinasi, sinkronisasi dan pengendalian antar-Kementerian/ Lembaga (K/L) untuk menyukseskan program Satu Juta Nelayan Berdaulat dan Gemarikan. Sementara itu, KKP harus berperan menyelesaikan persoalan hilirnya.

Sebagai pelaksana program, KKP harus menyediakan fasilitas supplay chain berpendingin, gudang produksi (Sukabumi, Lampung, Natuna) dan gudang distribusi (Jakarta), serta armada angkutan berpendingin dari gudang produksi ke gudang distribusi.

Adapun peran BUMN adalah membeli ikan hasil tangkapan nelayan peserta program dengan harga yang moderat, melakukan pengolahan ikan agar ikan siap jual, menjual ikan dengan harga yang moderat di wilayah Jabodetabek melalui Gemarikan. id dan gerai Gemarikan off line di setiap perumahan.

Kedua, membantu pemasaran ikan di hilirnya dengan mengkampanyekan secara aktif program Gemarikan melalui pembuatan platform e-commerce www.gemarikan. id.

Selain itu, perlu bekerja sama dengan e-commerce terkemuka untuk membuat official store pada platform Tokopedia, Bukalapak, Shophee. Bekerja sama pula dengan modern market serta menggandengnya sebagai sales channel, pembuatan total seafood secepatnya dengan menggunakan konsep total buah segar atau all fresh, serta pendirian outlet Gemarikan di setiap kompleks perumahan minimal satu outlet Gemarikan.

Kampanye Gemarikan ini memberikan kesempatan kepada masyarakat menikmati hasil laut yang relatif terjangkau harganya.

Sekaligus memberi kesempatan kepada masyarakat membantu distribusi dan penjualan ikan, sehingga dapat menekan harga ikan di pasaran. Juga memberikan kesempatan kepada pelaku UMKM terdampak pandemi Covid-19 untuk melakukan diversifikasi usaha atau memulai usaha yang baru.

Ketiga, diperlukan program pemulihan ekonomi untuk perikanan yang terdampak Covid-19. Program diarahkan pada jasa nelayan dengan mengimplementasikan protokol kesehatan, jasa pelayanan untuk akses penjualan ikan di pelabuhan, funding facility berupa kemudahan pengajuan fasilitas pembiayaan bagi nelayan untuk pengembangan bisnis nelayan.

Selain itu, sertifikasi tanah nelayan agar dapat dipergunakan sebagai agunan, rehabilitasi desa nelayan bekerja sama dengan program kepedulian sosial (CSR) sektor swasta, divesrsifikasi usaha nelayan, serta pemberdayaan nelayan dan keluarganya agar memperoleh tambahan income.

Keempat, menjadikan sektor kelautan dan perikanan menjadi core economy di masa mendatang. Ciri menjadi core economy menurut World Bank: sumbangan pada produk domestik bruto (PDB) 10%, penciptaan tenaga kerja 15%, sumbangan ke total ekspor 9%.

Mengapa 2030 menjadi penting? Menurut Prof Rochmin Dahuri, tahun 2030 merupakan puncak bonus demografi Indonesia, diperkirakan inovasi dan transformasi berdampak terhadap banyaknya aktivitas manusia yang digantikan robot atau mesin, dan Indonesia diprediksi menjadi kekuatan ekonomi nomor ke-4 dunia.

Dengan demikian, pemanfaatan sumber daya laut untuk mendukung kedaulatan ekonomi nelayan harus berpedoman pada Strategi Pembangunan Kelautan dan Perikanan sebagai Core Economy di tengah dan pascapandemi Covid-19. Strategi tersebut diikuti pula dengan penyusunan blue print yang sekaligus menetapkan roadmap dan target yang ingin dicapainya.

Kelima, pembangunan kelautan ke depan diharapkan berdaya saing tinggi, sehingga mampu menguntungkan seluruh pelaku usaha, menyumbangkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi, dan nelayan dapat memenuhi kebutuhan dasarnya (pangan, sandang, perumahan, kesehatan, pendidikan) serta hidup sejahtera.

Selain itu, pembangunan harus dilaksanakan secara terpadu, berbasis masyarakat dan lingkungan wilayah (konservasi).

Untuk itu, program nasional harus berbasis komoditas unggulan. Memiliki potensi tinggi, harga jual mahal, teknologi relatif mudah, dibutuhkan oleh konsumen (pasar) domestik ataupun ekspor, dan menghasilkan keuntungan cukup besar.

Sehingga diperlukan transformasi pengelolaan sumber daya laut yang modern berlandaskan teknologi sehingga pengelolaannya efektif, efisien dan selektif berdampak positif terhadap kelestarian biota laut, taraf hidup nelayan, dan peningkatan sumber devisa.

Jaga Kesinambungan

Ketahanan pangan khususnya hasil laut harus dijaga kesinambungannya. Dalam kondisi pandemic Covid-19, stimulus yang diberikan pemerintah harus tepat sasaran. Subsidi lebih pas diberikan kepada nelayan saat akan melaut, termasuk pemberian sarana perikanan.

Bantuan lainnya dapat berbentuk sarana transportasi untuk mempermudah distribusi, memberikan peluang bisnis bagi enterpreneur muda untuk pengembangannya dengan memanfaatkan elemen revolusi industri 4.0.

Program bantuan lainnya perlu diarahkan untuk membantu pengembangan nilai tambah perikanan atau hasil laut seperti pengolahan, packaging dan pemasaran, serta melakukan inovasi-inovasi berbasis protokol kesehatan. Dan yang terpenting, mengatasi kendala terbesar dalam pengelolaan laut, yaitu masalah biaya.

Dalam konteks ini, diperlukan program yang bersifat kolaboratif dan integratif untuk meningkatkan akses keuangan dan layanan pembayarannya di sektor kelautan dan perikanan. Akhirnya, save our sea, karena hidup yang berharga adalah hidup yang dapat memberikan kehidupannya kepada orang lain. *) Pemerhati Masalah Ekonomi dan Kemanusiaan

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN