Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Dwi Mukti Wibowo, Perintis Lembaga Riset dan Kajian Ekonomi Kemanusiaan, DM Center)

Dwi Mukti Wibowo, Perintis Lembaga Riset dan Kajian Ekonomi Kemanusiaan, DM Center)

Ketahanan Pangan dan Peluang Ekonomi Rumahan di Masa Pandemi

Rabu, 1 Juli 2020 | 23:03 WIB
Dwi Mukti Wibowo *)

Isu pandemi Covid-19 masih bertengger di posisi teratas. Selalu menjadi trending topic dan mengisi laman seluruh media cetak maupun virtual. Krisis kesehatan karena wabah Covid-19 ini dalam sekejap menggerus kehidupan. Menjadi krisis ekonomi berspektrum luas yang melanda 213 negara.  

Menurut Dana Moneter Internasional (IMF), akibat pandemi berkepanjangan ekonomi global menyusut 3% per tahun. Terburuk sejak resesi global melanda dunia tahun 1930. Dibutuhkan waktu secepatnya 3 tahun. Atau di tahun 2022 perekonomian dunia kembali seperti semula. Akibatnya, saat ini jutaan masyarakat dunia menganggur, atau ter-PHK kehilangan pekerjaan.

Denyut nadi sektor keuangan semakin melemah. Napas pasar modal semakin terengah-engah. Roda usaha sektor jasa dan gerak aktivitas ekonomi yang berinteraksi langsung antarmanusia, terganjal serentak. Kondisi menjadi abnormal dan tak pasti sebelum vaksin diketemukan.

Dilema antara mengutamakan kesehatan dan menyelamatkan ekonomi menjadi pilihan sulit. Namun tetap harus diputuskan segera, karena kehidupan terus berjalan meski tertatih. Kondisi ini memuncukan keseimbangan baru yang akan mengubah tatanan ekonomi dunia. Menuju tatanan normal baru. Bagaimana dengan kondisi krisis di Indonesia?

Menurut Stanley Morgan, Indonesia bersama Tiongkok, India, dan Filipina akan menjadi Negara dengan recovery ekonomi tercepat. Kenapa? Orientasi ekonomi Indonesia lebih fokus ke permintaan domestik. Pemenuhan kebutuhan sehari-hari dalam negeri serta kesiapan menyediakan bahan pangan menjadi hal yang utama. Karena inilah persyaratan untuk secepatnya keluar dari krisis ekonomi akibat pandemi. Sehingga Indonesia harus memperkuat permintaan domestik dengan penguatan ekonomi berbasis UMKM.

Memang dibandingkan dengan krisis sebelumnya, kali ini sektor UMKM paling terdampak. Bahkan telah memaksa pemerintah menggelontorkan stimulus jarring pengaman sosial sekitar Rp 600 triliun. Harga yang relatif mahal untuk sebuah komitmen dan keberpihakan pemerintah kepada UMKM, agar mampu bangkit dari keterpurukan, dan berperan kembali sebagai penyangga ekonomi nasional seperti dulu.

Inilah harga yang harus diambil agar ekonomi terus bertahan dan tidak colaps terimbas krisis. Jadi tidaklah berlebihan, jika upaya jibaku pemerintah harus diimbangi dengan kemampuan produksi dalam negeri. Sudah saatnya UMKM dan koperasi mengambil alih roda perekonomian nasional dan wajib create supply. Produk domestik apa yang mendesak dilakukan create supply? Pastinya produk yang berkaitan dengan ketahanan pangan. Mengapa?

Pertama, FAO telah memberikan peringatan akan ancaman krisis pangan dunia. Banyak negara mulai membatasi ekspor pangan, serta lebih mengutamakan kebutuhan dalam negerinya.

Kedua, ketahanan pangan merupakan isu strategis di setiap negara, tidak terkecuali Indonesia. Berdasarkan peringkat Global Food Safety Initiative (GSFI), Indonesia masih kalah dari Singapura. Padahal Indonesia memiliki luasan lahan ekonomi produktif yang lebih besar dibandingkan Singapura.

Ketiga, negara yang sejahtera jika ketahanan pangannya terpenuhi. UU No 32 Tahun 2004 menjelaskan tugas utama Pemerintah Pusat mengatur kebijakan nasional dalam masalah pertanian dan ketahanan pangan, alokasi biaya dan fasilitasi, sedangkan Pemerintah Daerah menerapkan kebijakan nasional dan leluasa dalam menetapkan prioritas pembangunan masing-masing. UU No 32 Tahun 2004 diperkuat dengan PP No 3 Tahun 2007 yang menyatakan bahwa ketahanan pangan merupakan urusan wajib pemerintah. Ini semakin mempertegas pernyataan yang menyatakan bahwa ketahanan pangan merupakan parameter keadaan ekonomi suatu negara.

Dalam kaitan ini, pemerintah melalui Kementerian Pertanian (Kementan) telah mengantisipasinya melalui berbagai langkah strategis, antara lain: percepatan pertanaman, perluasan areal tanam baru, dan penguatan cadangan pangan, Kemudian, menguatkan diversifikasi pangan melalui pengembangan potensi pangan lokal, dengan mengidentifikasi dan mendorong tiap provinsi memiliki komoditas andalan selain beras.

Selain itu, pengembangan beberapa komoditas pangan lokal seperti ubi kayu, jagung, sagu, pisang, dan kentang, serta pengembangan ternak sapi, kambing dan ayam.

Kala Kementan melakukan create supply di sektor usaha pertanian dan peternakan, Kemenkomarinves dan KKP melakukan pengelolaan sumber daya secara berkesinambungan dari hulu sampai hilir. Di hulu, Kemenkomarinves melalui program Sejuta Nelayan Berdaulat dengan penggunaan FishOn atau aplikasi tangkap ikan berbasis teknologi tinggi. Di hilir, KKP membuat platform e-commerce www. gemarikan.id, bekerja sama dengan e-commerce terkemuka dan modern market sebagai sales channel. Pendirian outlet Gemarikan memberikan kesempatan kepada masyarakat menikmati hasil laut sekaligus membantu distribusi dan penjualan ikan dalam rangka diversifikasi usaha atau memulai usaha yang baru.

Sementara itu, KemenkopUKM mendorong pemberdayaan koperasi menjadi leading sector dalam upaya create supply dari produk ketahanan pangan yang telah dikembangkan masing-masing Kementerian di atas. Oleh sebab itu, gerakan untuk terus meningkatkan koperasi pangan sebagai bentuk antisipasi datangnya krisis pangan akan dikembangkan sebagai role model. Yang akan diback-up melalui pembiayaan LPDB-KUMKM sebagai upaya pengembangan sektor pangan mandiri dengan menerapkan sistem digital.

Usaha di bidang ketahanan pangan ini akan menjadi peluang usaha rumahan sekaligus solusi di masa pandemi.Kenapa menjadi peluang ekonomi?

Pertama, secara umum potensi sumber pangan yang dimiliki Indonesia sebagai pilihan konsumsi masyarakat terbilang cukup banyak, yaitu ada 77 jenis sumber karbohidrat, 26 jenis kacang-kacangan, 389 jenis buah-buahan, 228 jenis sayur-sayuran, 110 jenis rempah- rempahan dan bumbu-bumbuan, 40 jenis bahan minuman serta 1.260 jenis tanaman obat. Belum lagi sumber daya lautnya yang melimpah berupa ikan, udang, cumi-cumi dan biota laut lainnya.

Kedua, meskipun dalam kondisi WFH, social distancing maupun PSBB, berdiam diri di rumah bukan berarti tidak bisa produktif atau mendapatkan penghasilan. Ketiga, banyak peluang usaha bisa diciptakan dan dilakukan dari rumah, sehingga kebutuhan tetap terpenuhi. Peluang tersebut antara lain bisnis bahan pangan organik, bisnis tanaman rempah dan obat-obatan, bisnis toko tani penyedia kebutuhan per tanian, bisnis kuliner, bisnis daging sapi, kambing maupun ayam kemasan, bisnis Gemarikan, dst.

Keempat, bisa dilakukan meskipun masih awam di dunia bisnis atau belum memiliki pengalaman berusaha. Yang penting tidak memerlukan budget atau modal yang besar. Biasanya menggunakan modal sendiri.

Kelima, menghasilkan barangbarang konsumsi sehari-hari dengan pemasaran online dan memanfaatkan SDM di lingkungan keluarga sendiri.

Keenam, bisa membuka toko online sendiri dengan sistem reseller, dropshipper atau distributor. Apa yang diharapkan dari peluang ekonomi rumahan?

Pertama, menguntungkan seluruh pelaku usaha, baik yang berbentu koperasi maupun perorangan. Karena produk sangat dibutuhkan konsumen di saat pandemi Covid-19, terutama kebutuhan dasar pangan dan diversifikasinya dan menghasilkan tambahan income yang dapat meningkatkan daya belinya.

Kedua, membantu implementasi program pemerintah secara terpadu dan berbasis masyarakat dalam mengatasi ketahanan pangan dan menjaga kesinambungannya di saat kondisi pandemi.

Ketiga, pengelolaan usaha lebih efektif dan efisien karena dilakukan di rumah, dan pemasaran cukup dilakukan melalui online. Dengan biaya operasional yang rendah, diharapkan mereka dapat menabung untuk mengantisipasi krisis yang berkepanjangan.

Keempat, berdampak positif terhadap ekonomi keluarga terutama yang baru saja terdampak PHK, sehingga stimulus yang diberikan pemerintah harus tepat sasaran.

Kelima, terdapat peluang bagi koperasi untuk memberikan peluang bisnis kepada entrepreneur muda dalam memanfaatkan elemen revolusi industri 4.0.

Selain itu, pengembangan nilai tambah produk usaha, melakukan inovasi-inovasi berbasis protokol kesehatan, dan kesempatan mengembangkan program kolaboratif dan integrative termasuk akses keuangan dan layanan pembayarannya. Dari ulasan di atas ada beberapa hal yang perlu dicermati,

Pertama, ketahanan pangan harus dikelola secara terintegrasi agar produksi kebutuhan pangan pokok dapat ditingkatkan dan memberikan nilai tambah.

Kedua, ketahanan pangan dilakukan dengan mengembangkan pola kemitraan antara akademisi, pebisnis, government plus lembaga masyarakat. Ini akan memperkuat integrasi pencapaian ketahanan pangan nasional, adanya jaminan ketersediaan pasokan komoditas pangan di pasar, harga terjangkau serta mempunyai kualitas baik untuk di konsumsi masyarakat.

Ketiga, harus melibatkan BUMN untuk berkontribusi penuh terhadap ketahanan pangan Indonesia, sekaligus mencari solusi agar dapat tercipta kemandirian pangan.

Keempat, pembangunan ketahanan pangan harus diarahkan secara berkelanjutan serta di fokuskan pada bidang pengembangan teknologi dan inovasi. Agar menghasilkan produk beragam pangan berkualitas dan berdaya saing dari hulu sampai ke hilir.

Kelima, inovasi dan teknologi media sosial diperlukan untuk menangkap peluang bisnis di tengah terjadinya pandemi dan terus mencukupi kebutuhan pangan masyarakat. Keenam, ketahanan pangan memerlukan kebijakan pemerintah yang berpihak kepada petani maupun nelayan. Di antaranya adalah memberikan kemudahan akses dan jaminan kepada para petani dan nelayan memperoleh modal dari perbankan maupun peer to peer lending, penetapan standar harga yang moderat ditingkat petani dan nelayan yang stabil.

Kesimpulan

Pandemi Covid-19 selain sebagai pendorong kebangkitan ketahanan pangan nasional, juga menjadi pencipta peluang ekonomi rumahan. Saat ini, yang diperlukan adalah pemetaan permasalahan dan faktor penghambat ketahanan pangan di segala sektor, agar dapat segera dicarikan solusinya sebelum krisis pangan benar-benar terjadi. Masalah ketahanan pangan tidak boleh diremehkan karena terkait kebutuhan dasar manusia. Masalahnya akan menentukan kestabilan ekonomi, sosial, dan politik dalam suatu negara.

Peluang komoditas ketahanan pangan harus mampu memulihkan ekonomi nasional. Terlebih lagi menyelamatkan pangan dan atau ekonomi rumahan. Dan jangan sampai jika dulunya negara-negara berkembang termasuk Indonesia sebagai pemasok kebutuhan pangan bagi negara maju sebagai eksportir bahan pangan, kini terbalik.

Saat ini justru mengimpor bahan pangan dari negara maju. Fakta ini mengingatkan pada pepatah tikus mati di lumbung padinya sendiri.

*) Pemerhati Masalah Ekonomi dan Kemanusiaan 

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN