Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Aswin Rivai, Dosen FEB UPN Veteran Jakarta dan Mantan Kepala Divisi Financial Institutiton Bank of India-Indonesia.

Aswin Rivai, Dosen FEB UPN Veteran Jakarta dan Mantan Kepala Divisi Financial Institutiton Bank of India-Indonesia.

Kota Beradaptasi dengan Perubahan Iklim

Minggu, 5 Desember 2021 | 07:27 WIB
Aswin Rivai *)

Kota-kota berada di garis depan dari peningkatan risiko fisik terkait perubahan iklim. Kota adalah rumah bagi lebih dari separuh penduduk dunia, dan pada 2050 angka itu diproyeksikanmeningkat menjadi 68%.

Daerah perkotaan seringkali terletak di tempat-tempat dengan risiko iklim tertentu, seperti di garis pantai, dataran banjir, dan pulau-pulau.

Selain itu, infrastruktur perkotaan modern dan sistem operasinyasaling terkait erat. Kegagalan di satu bagian jaringan dapat memengaruhi bagian lain, melipatgandakan kerusakan.

Jalan yang tergenang air, misalnya, dapat merusak jaringan transportasiumum. Gelombang badaidan panas yang ekstrem dapat menyebabkan pe ma daman listrik yang melumpuhkan sistem teknologi yang penting bagi rumah, rumah sakit, dan industri.

Dalam situasi perubahan iklim, membuat risiko seperti itu tidak dapat dihindari. Untuk melindungi kehidupan dan mata pencaharian penduduk perkotaan, yang pen ting adalah beradaptasi mulai dari sekarang.

Perubahan iklim dapat meningkatkan keparahan dan frekuensi panas ekstrem, banjir, kekeringan, dan kebakaran hutan. Lebih dari 90% wilayah perkotaan adalah pesisir; pada 2050 lebih dari 800 juta penduduk perkotaan dapat terkena dampak kenaikan permukaan laut dan banjir pesisir.

Selain itu, 1,6 miliar orang rentan terhadap panas ekstrem kronis (naik dari 200 juta hari ini), dan 650 juta orang dapat menghadapi kelangkaan air.

Setiap kota menghadapi risiko iklim dan tingkat kerentanan yang berbeda, sehingga opsi adaptasi yang efektif di sebagian besar kota mungkin tidak layak dilakukan di kota lain.

Untuk mengelola kompleksitas itu, kota dapat berkonsentrasi pada tindakan yang sesuai dengan kekuatan mereka (dalam sumber daya, fitur fisik dan aset, dan control yurisdiksi) dan menawarkan pengembalian yang tinggi dalam pengurangan risiko.

Laporan ini, yang ditulis bersama dengan C40 Cities Climate Leadership, jaringan kota-kota besar yang berkomitmen mengatasi perubahan iklim, berupaya membantu para pemimpin menetapkan prioritas dan memilih tindakan. Identifikasi awal ada 15 tindakan yang dapat dilakukan di berbagai kota.

Tindakan tersebut dipilih berdasarkan tiga sumber utama: C40 Cities Climate Leadership dan analisis McKinsey, konsultasi dengan pakar adaptasi dan pemimpin kota, serta tinjauanliteratur yang ekstensif.

Ada dua bagian lapor an. Yang pertama menetapkan 15 tindakan. Empat di antaranya membangun ketahanan sistemik, artinya memperkuat semua jenis kota. Kemudian, 11 lainnya adalah bahaya spesifik, yang berartimereka menargetkan risiko iklim fisik tertentu. 

Beberapa dari 15 tindakan seperti membangun penghalang untuk melindungi wilayah pesisir dan penguatan infrastruktur. Tindakan lainnya, menanam pohon di pinggir jalan dan memulai program perubahan perilaku menghemat air.Pemimpin kota disarankan mulai mendefinisikan bahaya yang paling relevan dan memahami risiko yang ditimbulkannya terhadap warga kota.

Atas dasar itu, kota kemudian dapat melakukan analisis rinci tentang dampak pengurangan risiko, biaya, dan kelayakan dari berbagai tindakan. Beberapa tema penting muncul dari penelitian ini. Pertama, solusi berbasis alam seperti menanam pohon di pinggir jalan, pengelolaan daerah aliran sungai, dan solusi drainase perkotaan yang berkelanjutan adalah salahsatu tindakan yang paling menarik karena dampaknya dalam me ngurangi risiko dan kelayakannya.

Solusi berbasis alam juga sering memberikan manfaat di luar adaptasi di bidang-bidang se perti dekarboni sasi, pertumbuhan ekonomi, dan kesehatan. Kedua, kota dapat berinvestasi dalam tindakan yang meningkatkan ketahanan secara sistemik, selain beradaptasi dengan bahaya spesifik dan langsung.

Ketahanan sistemik mencakup peningkatan kesadaran akan risiko iklim fisik, menggabungkan kesadaran dan kesiapsiagaan risiko ke dalam proses kota, mengoptimalkan respons darurat, dan meningkatkan program keuangan dan asuransi.

Ketiga, ada elemen kesetaraan yang penting untuk adaptasi risiko iklim. Populasi yang rentan, seperti anak-anak, orang tua, masyarakat berpenghasilan rendah, beberapa kelompok minoritas, penyandang disabilitas, dan wanita, mungkin berisiko lebih tinggi terhadap ke rusakan terkait iklim.

Risiko iklim secara langsung memengaruhi orang (kesehatan, kelayakan huni, dan kemampuan kerja), aset (bisnis, rumah, dan ru mah sakit), dan layanan (pasokan energi dan makanan).

Para pemimpin perlu melangkah lebih saat menyusun strategi. Pengetahuan lokal sangat penting untuk keberhasilan. Dengan mengidentifikasi tindakan yang paling efektif dan layak, kota dapat fokus dalam melaksanakannya dan memba ngun momentum untuk berbuat lebih banyak. Artikel ini adalah ajakan untuk bertindak atau tindakan yang terfokus.

Diharapkan bisa membantu kota-kota memainkan peran penting dalam membuat kemajuan yang lebih cepat dan pasti menuju masa depan yang sehat dan berkelanjutan.

*) Dosen FEB UPN Veteran Jakarta dan Mantan Kepala Divisi Financial Institutiton Bank of India-Indonesia.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN