Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Tri Winarno

Tri Winarno

Kredibiilitas Bank Sentral

Senin, 16 Desember 2019 | 11:39 WIB
Tri Winarno

Lonjakan harga saham dan imbal hasil obligasi barubaru ini menandai menyusutnya ketakutan akan terjadinya resesi. Akan tetapi, ekspansi ekonomi global tidak dapat berlangsung selamanya dan ketika kelak resesi benarbenar terjadi, maka bank sentral akan kewalahan untuk mengatasinya. Karena itu, meningkatkan kredibilitas bank sentral guna menyokong efektivitas kebijakan moneter merupakan prioritas yang mendesak saat ini.  

Sebelum krisis keuangan 2008, bank sentral dapat mengandalkan pemangkasan tingkat bunga untuk mempertahankan konsumsi, investasi dan penyerapan tenaga kerja. Tetapi langkah itu tak akan memadai lagi seandainya resesi berulang lagi. Alasan utamanya adalah semakin tingginya ketidakpastian global akibat dari tersendatnya globalisasi, penduduk yang semakin menua, perubahan preferensi konsumen, ketimpangan pendapatan dan kekayaan yang semakin meningkat, perubahan teknologi yang semakin cepat, dll. Bahkan tanpa terjadi resesi pun bagi konsumen dan pengusaha, masa depan semakin menakutkan dan semakin sulit diprediksi.

Ketidakpastian tersebut akan semakin memperburuk resesi jika benar-benar terjadi. Ketika ketidakpastian meningkat, maka tingkat bunga yang rendah bahkan negatif pun tidak akan mampu memacu belanja masyarakat. Sehingga dampak sebaliknyalah yang terjadi, yaitu tabungan meningkat dan investasi akan menurun. Kalau pemerintah tidak mampu meningkatkan permintaan agregat melalui kebijakan lainnya seperti kebijakan fiskal, maka akan berakibat pada penurunan pertumbuhan ekonomi yang lama dan dalam.

Sehingga dalam menghadapi situasi seperti tersebut, kebijakan moneter dipastikan harus semakin ekstra longgar. Mengacu pada teori, bank sentral dapat menyikapi dengan cara mengimplementasikan tingkat bunga negatif, pembelian aset, forward guidance, dan sejenisnya. Namun dalam praktiknya bank sentral akan menghadapi kendala dalam implementasinya, yang berarti respons mereka pada resesi yang akan datang bisa jadi tidak mencukupi.

Kendala yang dihadapi bank sentral dalam mengimplementasikan kebijakan tersebut berasal dari dua aspek. Pertama adalah aspek hukum dan ketentuan yang berlaku mengenai apa-apa yang dapat dilakukan oleh kebijakan moneter. Kedua adalah batasan politik dan institusi yang menghambat pembuatan keputusan oleh bank sentral. Batasan legal bervariasi antarnegara tergantung dari lingkungan institusi dan politik serta sejarah yurisdiksi bank sentral. Misalnya dalam melakukan operasi pasar terbuka (open market operations), the Fed hanya membeli aset berupa surat utang yang diterbitkan atau digaransi oleh Pemerintah Federal.

Berbeda dengan di Jepang, bank sentralnya dapat melakukan pembelian surat berharga swasta seperti saham dan obligasi yang diterbitkan oleh perusahaan. Sehingga kebijakan moneter di Jepang memberikan potensi lebih besar dalam memperbesar neracanya serta lebih mampu mempercepat stimulus keuangan perusahaan.

Perbedaan tersebut menjadi sangat berarti tatkala resesi benar-benar terjadi yang membutuhkan kebijakan yang sesuai. Perhatikan contoh ekstrimnya, the Fed tidak dapat secara sepihak melakukan kebijakan helicopter money. Yaitu kebijakan yang pernah dilontarkan oleh Milton Friedman untuk menggambarkan bagaimana bank sentral dapat mendistribusikan uang tunai secara langsung pada masyarakat untuk menstimulus konsumsi.

Untuk menciptakan uang tersebut, the Fed harus membeli aset berupa surat berharga, padahal masyarakt sebagian besar tidak memilikinya, apalagi masyarakat kelas bawah. Sehingga the Fed tidak dapat langsung mendistribusuikan uang ke rekening masyarakat secara langsung.

Selain itu, pada hakikatnya helicopter money dalam kasus di AS ini sebenarnya adalah fiscal transfer dari pemerintah pusat ke masyarakat AS yang dikelola oleh the Fed melalui pembelian surat berharga. Dengan demikian kebijakan tersebut hanya dapat dilakukan atas persetujuan Kongres dan Presiden. Masalahnya adalah proses legislasi kebijakan tersebut membutuhkan waktu yang lama dan berteletele, padahal resesi dan krisis keuangan mendatang dipastikan akan membutuhkan penanganan yang cepat dan tepat.

Sudah dapat dipastikan bahwa kebijakan helicopter money adalah pilihan kebijakan terakhir (last resort). Tetapi kebijakan yang kurang kontroversial pun masih akan terkendala oleh norma-norma kebijakan. Misalnya, the Fed masih enggan melakukan kebijakan menembus zero lower bound (ZLB) dan kebijakan bunga negatif.

Sehingga jika keseimbangan bunga riil berada pada angka di bawah nol, yang sangat mungkin terjadi pada resesi mendatang, maka pembatasan ZLB tersebut akan menjadi kendala. Dan begitu resesi terjadi, maka pemulihannya akan sangat sulit serta akan mengancam independensi the Fed. Bank sentral juga menghadapi kendala politik dan institusi. Di Eropa, lembaga keuangan (khususnya Bundesbank), dana pensiun dan penabung sangat menentang bunga negatif.

Sehingga kebijakan pelonggaran moneter di Uni Eropa tidak berdampak signifikan terhadap pemulihan ekonominya karena dilakukan sangat terlambat. Jelas bahwa kondisi tersebut telah merusak kredibilitas Bank Sentral Eropa (ECB).

ECB sangat keras menentang inflasi tinggi, tetapi masih toleran terhadap target pencapaian inflasi yang rendah. Tahun 2012, President ECB Mario Draghi sangat berkomitmen untuk melakukan apapun untuk menyelamatkan euro. Tetapi dia tidak berusaha keras agar target inflasi yang telah ditetapkannya dapat dicapai. Para ekonom sangat sependapat bahwa kredibilitas akan memperkuat efektivitas kebijakan moneter yang dilakukan oleh bank sentral. Kalau konsumen, pekerja dan pengusaha tidak percaya bahwa bank sentral berkomitmen penuh terhadap pencapaian mandatnya, mereka akan mengubah perilakunya sesuai dengan ekspektasinya.

Ekspektasi inflasi yang rendah akan mengarah pada angka realisasi inflasi yang rendah pula. Karena itu, kredibilitas bank sentral sangat penting dalam pencapaian mandatnya terutama untuk kestabilan harga, pertumbuhan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja. Pencapaian itu bukan tanpa biaya.

Ketika inflasi terlalu rendah, maka sangat sulit menekan tingkat bunga riil lebih rendah lagi, khususnya kalau masyarakat menentang tingkat bunga nominal negatif. Dalam kondisi seperti itu, bank sentral akan semakin kesulitan menerapkan kebijakan moneternya ketika resesi benar-benar terjadi.

Kehilangan efektivitas alat kebijakan saat ini sangat bermasalah karena mekanisme transmisi kebijakan moneter tradisional terbukti semakin tidak efektif. Misalnya, tingkat bunga sudah digenjot serendah mungkin tetapi tidak berdampak pada peningkatan penyaluran pinjaman secara signifikan, dan itu terbukti di AS maupun di Uni Eopa dan Jepang.

Kebijakan pelonggaran moneter tidak berdampak pada depresiasi mata uang dan peningkatan neraca transasi berjalan karena bank sentral lainnya juga melakukan kebijakan yang sama. Dan ketika pelonggaran agregat moneter dapat meningkatkan harga aset, konsumsi tidak akan meningkat jika keuntungan dari kebijakan tersebut dinikmati hanya oleh kelompok kelas menengah atas (the wealthy).

Karena itu, ketika nantinya resesi benar-benar terjadi, maka sudah terlambat untuk mengobati kelemahan bank sentral tersebut. Namun dengan melakukan perubahan sebelum resesi terjadi, bank sentral dapat memulihkan kredibilitasnya. Misalnya, ECB segera mengumumkan bahwa dia berkomitmen penuh untuk mencapai target inflasinya; dan tatkala kondisi benar-benar membutuhkan pelonggaran moneter, maka ECB dapat segera mengimplementasikannya.

Melakukan tindakan tersebut ketika percaya diri konsumen membaik akan mengirim sinyal kuat bahwa perubahan kebijakan tersebut adalah struktural, bukan hanya bantuan yang bersifat sementara.

Mencermati perkembangan tersebut, maka bank sentral dituntut mampu mempertahankan kredibilitasnya dalam pencapaian mandat yang diembannya. Aset utama yang dimiliki bank sentral untuk efektivitas kebijakannya adalah kepercayaan konsumen, pengusaha dan pelaku pasar bahwa bank sentral mampu mengemban mandat tersebut. Karena itu, sekali lagi efektivitas kebijakan bukan terletak pada instrumen kebijakan, tapi bermuara dari kredibilitas yang lahir karena trust dari stake holders.

Tri Winarno, Penulis Buku: Indonesia Mnyikapi Dinamika Ekonomi Global

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN