Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Direktur Pengawasan dan Kepatuhan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2015-2018 Hamdi Hassyarbaini

Direktur Pengawasan dan Kepatuhan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2015-2018 Hamdi Hassyarbaini

Kunci Investasi Saham: Informasi

Sabtu, 28 Maret 2020 | 16:19 WIB
Hamdi Hassyarbaini *)

In the middle of difficulty lies opportunity – Albert Einstein.

Pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah menimbulkan ketakutan masyarakat dunia. Dunia usaha pun terdampak, baik langsung maupun tidak langsung. Beberapa industri yang terkena dampak langsung adalah penerbangan, perhotelan, pariwisata, dan restoran. Industri lain cepat atau lambat juga akan terkena dampak sehingga timbul kekhawatiran terjadi perlambatan ekonomi global.

Para investor dilanda ketakutan sehingga panic selling atas saham-saham milikinya, yang pada akhirnya menyebabkan indeks harga saham di seluruh bursa utama dunia berjatuhan.

Demikian pula di Bursa Efek Indonesia (BEI), harga saham-saham berguguran sehingga indeks harga saham gabungan (IHSG) terhitung sejak awal 2020 sampai 26 Maret 2020 anjlok 32%.

Namun, seperti ungkapan Albert Einstein di atas, di tengah kesulitan selalu ada kesempatan. Saat terjadi penurunan tajam harga saham-saham di BEI, ada dua saham yang harganya justru naik, yaitu saham PT Kimia Farma (Persero) Tbk (KAEF) dan PT Indofarma (Persero) Tbk (INAF).

Kenaikan signifikan terjadi setelah Presiden Jokowi pada 20 Maret 2020 mengumumkan bahwa pemerintah telah memesan obat yang dipercaya bisa menyembuhkan pasien positif Covid-19, yaitu Avigan dan Chloroquine masing-masing sebanyak 2 dan 3 juta.

Lalu, pada 23 Maret 2020 pagi, Presiden Jokowi kembali menegaskan pengumuman sebelumnya dan mengatakan bahwa Chloroquine akan diproduksi di dalam negeri dengan menyebutkan nama perusahaan yang akan memproduksi, yaitu PT Kimia Farma (Persero).

Selama tiga hari berturut-turut (23, 24, 26 Maret 2020) harga saham KAEF dan INAF naik signifikan bahkan sampai menyentuh batas auto rejection atas atau di pasar lazim dikenal dengan sebutan ARA, yaitu 25%.

Anda yang memperhatikan pengumuman Presiden Jokowi dan segera bertindak dengan membeli salah satu atau kedua saham tersebut, tentu telah menikmati keuntungan yang luar biasa. Bayangkan, dalam tiga hari kenaikannya sudah mendekati 100%!

Kenapa hanya harga saham KAEF dan INAF yang naik signifikan, sementara harga empat saham perusahaan farmasi lainnya: PT Kalbe Farma Tbk (KLBF), PT Darya-Varia Laboratoria Tbk (DVLA), PT Tempo Scan Pacific Tbk (TSPC), dan PT Phapros Tbk (PEHA), justru menurun pada hari pertama setelah pengumuman.

Alasan sederhananya barangkali karena KAEF dan INAF merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN), sedangkan empat perusahaan farmasi lainnya itu bukan BUMN (PEHA merupakan anak usaha KAEF). Namun, alasan yang lebih masuk akal atas kenaikan harga saham KAEF adalah karena Presiden Jokowi telah mengumumkan bahwa perusahaan itu ditunjuk pemerintah untuk memproduksi Chloroquine, obat yang sangat dibutuhkan saat ini. Lalu, apa alasan kenaikan harga saham INAF? Barangkali penjelasan di bawah ini bisa menjawab pertanyaan tersebut.

KAEF merupakan perusahaan farmasi yang selama ini memproduksi obat antimalaria, Quinine atau Quinine Sulfate yang berbahan baku ekstrak kulit pohon kina. Chloroquine atau Chloroquine Phospate juga merupakan obat antimalaria, yang berdasarkan pengalaman Pemerintah Tiongkok bisa membantu penyembuhan pasien Covid-19.

Struktur dasar keduanya pada dasarnya sama. Jadi, kalau Chloroquine bisa membantu penyembuhan pasien Covid-19, logikanya Quinine juga bisa. Namun tentu saja perlu penelitian lebih lanjut oleh ahli farmasi. Bedanya, Quinine dibuat dari ekstrak kulit pohon kina, Chloroquine dibuat dari senyawa sintetis atau kimiawi. KAEF selain memproduksi Quinine, juga bisa memproduksi Chloroquine.

Hanya saja, karena bahan baku Chloroquine adalah sintetis atau kimiawi, berarti harus diimpor. Problemnya, saat pandemi Covid-19 seperti saat ini tentu saja tidak mudah untuk mendapatkannya karena akan berebutan dengan negara lain yang membutuhkan. Apalagi, dengan terjadinya pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika, biaya produksinya akan jadi lebih mahal.

Sebaliknya, Indonesia memiliki banyak pohon kina sebagai bahan baku Quinine, sehingga biaya produksinya akan jauh lebih murah dibanding biaya produksi Chloroquine. Apabila nanti terbukti Quinine bisa memberikan manfaat yang sama terhadap pasien Covid-19, akan jadi keunggulan tersendiri bagi KAEF.

Bagaimana dengan INAF? Selain memproduksi obat-obatan, INAF juga memproduksi alat kesehatan, khususnya ranjang untuk di rumah sakit dan mesin farmasi atau alat pembuatan obat. Peningkatan tajam jumlah pasien Covid-19 (data per 27 Maret 2020 pukul 12.00 WIB sebanyak 1.046 kasus) saja meningkatkan jumlah kebutuhan ranjang rumah sakit.

Di samping itu, apabila nanti kebutuhan akan Chloroquine atau Quinine ternyata jauh lebih besar dibandingkan kapasitas produksi KAEF, maka KAEF harus menambah kapasitas produksi dengan membeli mesin farmasi, bisa jadi dari INAF. Atau, bahkan bukan tidak mungkin tugas memproduksi Chloroquine atau Quinine juga diserahkan kepada INAF.

Sebetulnya ada satu lagi BUMN farmasi, yaitu PT Bio Farma (Persero), tapi karena belum jadi emiten, tidak masuk dalam pembahasan ini.

Tentu saja tidak hanya saham KAEF dan INAF yang “diuntungkan” dengan adanya wabah Covid-19. Ada beberapa perusahaan lain yang produknya banyak dibutuhkan masyarakat selama pandemi. Investor harus selalu memperhatikan perkembangan penanganan wabah Covid-19 dan jeli memperhatikan setiap pengumumam pemerintah, seperti halnya pengumuman Presiden Jokowi tanggal 20 dan 23 Maret lalu.

Pada saat terjadi social distancing, physical distancing atau pun lockdown, produk apa yang banyak dibutuhkan oleh masyarakat? Hampir semua produk yang digunakan sehari-hari oleh masyarakat dihasilkan oleh perusahaan yang sahamnya tercatat di BEI.

Hanya dibutuhkan kejelian investor untuk melihat dan memutuskan akan membeli saham apa Anda yang membaca artikel saya di Investor Daily pekan lalu tentu ingat prinsip dasar investasi di saham adalah investasi jangka panjang, dengan horizon waktu 5 atau 10 tahun. Kalau Anda melakukan investasi sekarang saat harga-harga saham di BEI sudah terdiskon lebih dari 30%, paling tidak Anda akan memperoleh keuntungan sebesar 30% saat IHSG kembali ke titik semula nanti.

Bisa jadi, Anda membeli saham pada hari ini, lalu besok atau lusa harganya turun. Tapi sekali lagi, investasi saham adalah investasi jangka panjang. Anda tidak perlu mempedulikan turun-naik harga dalam jangka pendek. Hal yang perlu Anda perhatikan adalah setiap informasi yang terkait dengan saham yang Anda miliki atau akan Anda beli.

*) Direktur Pengawasan Transaksi dan Kepatuhan BEI periode 2015-2018

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN