Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Dwi Mukti Wibowo, Perintis Lembaga Riset dan Kajian Ekonomi Kemanusiaan, DM Center)

Dwi Mukti Wibowo, Perintis Lembaga Riset dan Kajian Ekonomi Kemanusiaan, DM Center)

Lebaran dan Kembalinya Migran, Musibah atau Berkah?

Rabu, 27 Mei 2020 | 14:09 WIB
Dwi Mukti Wibowo *)

Semilir angin di tengah hijau sawah menjadi pemandangan menawan. Celoteh dan gurauan para petani menghiasi aktivitas seharian. Banyak terlontar cerita yang tak lagi melulu hasil panen dan pemasaran. Ada kisah sanak saudaranya yang tak bisa mudik Lebaran, atau warta kepulangan keluarganya dalam rombongan para migran. Mereka paham, rasa kecewa dan lega membaur akibat wabah Covid-19 yang menelan banyak korban.

Ketenteraman dan keguyuban masyarakat desa bakalan mendapat ujian. Persediaan kebutuhan pokok menjadi hal yang har us diutamakan.

Penyebaran pandemi di wilayah desa kini menjadi sorotan. Bahkan menjadi kepanikan dan kegamangan.

Sejauh mana desa mampu menahan gempuran penyebaran? Sejauh mana desa mampu menjaga daya tahan warganya agar sehat dan tidak tertular? Sejauh mana desa mampu memenuhi kebutuhan hidup warganya selama berbulan-bulan?

Dan sejauh mana desa bisa membuktikan jika masih berfungsi sebagai lumbung pangan? Karena kini, dan setelah masa pandemi, desa akan menjadi benteng terakhir sebuah harapan.

Dari global ke lokal. Mungkin inilah istilah paling tepat menggambarkan virus corona yang sedang menguji mental. Dari pimpinan tertinggi negeri hingga pimpinan lokal. Semua dalam satu rentang koordinasi yang bahu membahu secara total. Mereka sepakat bahwa desa menjadi benteng terakhir yang sangat krusial.

Untuk itu dibutuhkan penanganan sesuai protokol kesehatan nasional, dan secara profesional. Menjaga keselamatan masyarakat desa, dan membatasi pergerakan meluasnya wabah adalah keputusan final. Karena pemerintah dan jajarannya tak ingin gagal.

Kelalaian dan kesalahan mengelola krisis kesehatan ini bisa berakibat fatal. Bukan hanya merembet ke masalah ekonomi, bisa menjadi krisis keamanan yang berunjung konflik sosial. Bayangkan saja, hampir 34 ribu migran kembali ke desa asal.

Sekitar 13.074 dari Malaysia, 11.359 dari Hong Kong, 3.688 dari Taiwan, 2.611 dari Singapura, 800 dari Arab Saudi, 770 dari Brunei Darussalam, 325 dari Korea Selatan, 304 dari Kuwait, 219 dari Italia, dan 173 dari Oman. Yang menjadi pertanyaan sekarang, kepulangan pemudik dan PMI ini menjadi musibah atau berkah?

Inilah pertanyaan yang mengganjal. Kembalinya mereka ke desa asal bisa menjadi musibah. Pertama, jika kekhawatiran mereka selama ini menjadi kenyataan. Yaitu, merebaknya pandemi Covid-19 karena tidak bisa ditekan. Akibatnya wabah semakin masif memakan korban. Apalagi jika penaganan korban Covid-19 tidak optimal atau tidak ada kesiapan, maka lonjakan jumlah korban baru menjadi tak terhindarkan. Ditambah lagi ancaman keterbatasan fasilitas kesehatan dan kapasitas rumah sakit, termasuk tenaga medis dan dokter.

Kedua, jika rencana kepulangan pekerja migran Indonesia (PMI) tidak diantisipasi, misal penanganan pandemi dan pengendalian pembatasan sosial berskala besar(PSBB) tidak cepat dilakukan dan terjebak pada batas-batas administrasi kepemerintahan. Atau, pengendalian pandemi di Pulau Jawa tidak secepat sebelum Lebaran, karena 70% kasus positif ada di Pulau Jawa.

Ketiga, pelonggaran PSBB tergesa-gesa dan tidak didasarkan data lapangan. Untuk mengatasi itu, maka arahan Presiden Jokowi sangat tepat jika pada saat kepulangan PMI, harus dikawal dari pintu masuk yang telah ditetapkan dan diikuti pergerakannya sampai ke daerah.

Dari jalur udara hingga jalur laut. Kepada mereka tetap diberlakukan protokol kesehatan yang ketat dengan memobilisasi sumber daya yang dimiliki, kepastian tempat karantina dan rumah sakit rujukan. Selin itu, kewajiban melapor, self isolation mandiri selama 14 hari dan disiplin physical distancing.

Kepulangan pemudik dan PMI bisa juga menjadi berkah bagi desa. Pertama, mereka kini memiliki kompetensi dan skills dari tempat asalnya bekerja dulu. Apalagi di mancanegara. Dengan kemampuan ini diharapkan ke depannya mereka berkontribusi positif menjadi agent of change atau agent of development di desanya. Who knows?

Karena desa kini sudah berbeda kondisinya. Tak lagi tertinggal seperti dulu, saat mereka tinggalkan. Program Nawa Cita telah memoles desa. Mengusung misi pembangunan nasional dimulai dari pinggiran/ desa.

Dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan (butir 3). Dan mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor-sektor strategis ekonomi domestik (butir7). Apa yang mereka butuhkan dulunya, mungkin tersedia saat ini.

Kedua, keinginan desa untuk sejahtera dan mandiri menjadi terpantik oleh kehadiran mereka yang diharapkan akan mengubah fenomenanya dengan “cara pandang” lain.

Ketiga, desa memerlukan konstruksi pemikiran yang menempatkan “desa” pada posisi subjek, dan harus diperlakukan sebagai organisasi sosial yang diberi kepercayaan penuh untuk mengatur dirinya. Kepulangan pemudik dan PMI harus menjadi potensi desa serta kekuatan dan modal yang ada pada dirinya.

Mampukah potensi desa memberikan peluang dan harapan pada pemudik dan pekerja migran Indonesia? Jawabannya harus optimistis: bisa. Karena geliat perekonomian nasional dalam tiga decade terakhir menunjukkan bahwa kiprah ekonomi perdesaan sangat penting dalam menopang pembangunan nasional yang berkelanjutan.

Potensi desa sangat besar dalam meningkatkan kualitas pembangunan ekonomi di pelosok negeri, termasuk potensi sumber daya manusianya. Kualitas ini telah memperkuat restorasi sosial dan budaya sebagai modal dasar pembangunan ekonomi, serta meningkatkan kualitas kesejahteraan masyarakat desa secara berkesinambungan. Apalagi desa kini telah bertransformasi. Potensi dan local wisdom-nya telah mengubah paradigma tentang peran desa dalam pembangunan.

Dalam konteks ini, patut kita cermati bahwa motor pembangunan desa tidak seluruhnya warga kelas dua. Dan yang terpenting, desa kini tak lagi tertinggal. Jadi sangat relevan apabila pemudik dan atau pekerja migran Indonesia (PMI) ke depannya akan mengisi statusnya, yang tidak lagi warga dua, tapi warga istimewa. Karena mereka telah memiliki kompetensi dan pengalaman kerja di kota maupun manca negara.

Di masa sekarang desa sudah memiliki potensi desa, pasar potensial, skala ekonomi usaha dan infrastruktur pendukung. Faktor lainnya adalah ketidaktersediaan potensi sumber daya alam (SDA) dan sumber daya manusia (SDM) yang mampu meningkatkan kesejahteraan hidupnya. Juga memiliki BUMDes dan/atau BUMDes Bersama.

Desa kini memiliki potensi yang bisa digali. Pertanian, budaya, atau bahkan pariwisatanya. Potensi desa kini luas. Bukan lagi hamparan tanah yang dihuni masyarakat, bukan wilayah dan unit administrasi pemerintahan, bukan sekadar komunitas lokal, bukan lahan kosong yang siap menerima beragam pembangunan.

Desa merupakan identitas, institusi dan entitas lokal seperti “negara kecil”, yang memiliki wilayah, sumberdaya, pranata lokal dan masyarakat. Potensi desa memiliki selling point berupa ketersediaan pasar yang lebih modern, SDM terampil dan siap bekerja, infrastruktur yang sudah terbangun, dan dana desa sebagai insentif rutin dari Pemerintah Pusat untuk pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Kesimpulan

Jika sebelumnya Jakarta dikenal sebagai epicentrum awal Covid-19 dan terpaksa melaksanakan PSBB, kini fenomenanya bergeser menuju desa. Ditengarai karena kekhawatiran para pemudik dan PMI adalah carrier Covid-19 yang dapat menularkan dan memperluas penyebaran wabah. Desa kini menjadi benteng terakhir penahan Covid-19.

Karena itu, kita harus menyemangati mereka bahwa kehadiran pemudik dan pekerja migran Indonesia adalah berkah desa. Oleh sebab itu, desa harus memberikan peran dan melibatkannya sebagai agent of development dan agent of change yang mampu berkontribusi positif.

Desa harus menyiapkan potensi desanya, peluang usaha dan memberikan kesempatan pemudik dan PMI yang berpotensi dan berminat mengembangkan BUMDes dan/ atau BUMDES Bersama. Branding mereka harus dimanfaatkan, serta kompetensi lainnya di bidang manajemen, marketing online, dan akses (pasar, sumber pembiayaan dan investasi) yang mereka miliki.

Akhir kata, hasil survei Nielsen mengungkapkan, perilaku online yang telah berubah besar di masa pandemi adalah donasi, kebutuhan pokok, e-learning, dan konsultasi medis. Keempatnya menjadi urgent dan sangat relevan menjadi kebutuhan utama dan mendesak bagi desa sebagai benteng terakhir menghadapi gempuran Covid-19, sekaligus pintu gerbang awal untuk memulai pemulihan sebuah peradaban baru pascapandemi.  

*) Pendiri DM Center, Bidang Ekonomi dan Kemanusiaan

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN