Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Antonius Benny Susetyo, Staf Khusus Ketua Dewan
Pengarah BPIP

Antonius Benny Susetyo, Staf Khusus Ketua Dewan Pengarah BPIP

Melawan Budaya Kematian dengan Penguatan Ideologi Pancasila dan Nalar Sehat

Selasa, 13 April 2021 | 21:04 WIB
Antonius Benny Susetyo *)

Tidak lama ini terjadi dua peristiwa memilukan di negara kita tercinta. Pertama adalah bom bunuh diri yang terjadi di Gereja Katderal Makassar, dan kedua adalah aksi teror penyerangan yang terjadi di Markas Besar Polisi Republik Indonesia (Mabes Polri).

Aksi bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar yang terjadi pada Hari Minggu 28 Maret 2021 itu setidaknya menyebabkan 20 orang mengalami luka-luka dan 2 pelaku tewas seketika di tempat.

Sedangkan aksi penyerangan di Mabes Polri pada Rabu, 31 Maret2021 menggemparkan publik. Seorang perempuan, tiba-tiba mendatangi kompleks Mabes Polri dan melakukan penembakan terhadap anggota Polri. Polisi pun berhasil melumpuhkan pelaku dengan tem bakan yang membuat tewas di tempat.

Dua kejadian tersebut dan peristiwa kekejian serupa yang pernah terjadi sebelumnya merupakan bukti bahwa aksi terorisme masih berkembang di Bumi Pertiwi ini.

Aksi bom bunuh diri ini sudah menjadi sebuah budaya yang dise but dengan budaya kematian.Budaya kematian (Culture of Death) adalah suatu budaya yang tidak lagi bersahabat dengan sistem kehidupan manusia dengan menempatkan manusia pada posisi objek yang bisa memusnahkan kehidupan itu sendiri.

Persoalan kekerasan yang berkaitan dengan budaya kematian ini berkaitan dengan eksistensi manusia. Manusia memiliki sikap kebinatangan ketika dirinya dalam situasi terdesak. Sikap ini biasanya keluar ketika dirinya tidak mendapatkan eksistensi dan mencari jati dirinya.

Ketika seseorang mencari jati diri dan bertemu de ngan orang atau lingkungan yang tidak seharusnya, akan memengaruhi pemikiran dan sikap seseorang, baik akan digunakan untuk kepentingan perebutan kekuasaan, kepentingan politik, kepentingan individu, dan lainnya untuk menjadikan seseorang sebagai alat kekerasan yang dirinya yakini akan mendapatkan surga.

Di era digitalisasi ini muncul masalah yaitu hilangnya kesadaran yang digantikan dengan kesadaran palsu. Munculnya kesadaran palsu ini menjanjikan ideologi kematian yang diartikan dapat memecahkan masalah ke frustasian, luka batin, masalah kesenjangan sosial, luka batin. Kesadaran palsu ini diyakini sebagai cara untuk mendapatkan surga yang semu.

Dalam hal ini bangsa mengalami kegagapan dan cara satu-satunya adalah menciptakan kesadaran kritis melalui pendidikan kritis. Kesadaran kritis harus disadarkan kepada semua pihak bahwa ini persoalan kemanusiaan yang kehilangan kemanusiaannya yang hanya dijadikan alat yang banyak dimanfaatkan oleh kepentingan politik sesaat. Jalan maut ini bisa masuk melalui media sosial, rekrutmen, dan banyak celah lainnya.

Ada beberapa cara untuk melawan budaya kematian ini, yaitu dengan memperkuat idoelogi Pancasila yang ditanamkan dalam cara berpikir, bertindak, bernalar, dan berelasi. Sudah banyak orang yang terpapar budaya kematian ini sadar dan kembali kepada jalan yang seharusnya. Inilah yang harus ditampilkan kepada publik untuk mendeskripsikan bagaimana bahaya budaya kematian ini.

Selain itu, harus dilakukan patrol atau pengawasan di media so sial terhadap konten-konten ne ga tif yang bermuatan atau mengarah kepada budaya kematian ini. Jangan diberikan ruang dan masyarakat harus aktif melaporkan jika menemukan konten ini. Baiknya masyarakat juga mem buatkonten tandingan yaitu konten positif guna mengisi ruang public dengan hal yang bermanfaat. Masyarakat harus bijak dalam mengolah informasi dan waspada terhadap budaya kematian.

Janji surga yang ditawarkan oleh budaya kematian adalah semu karena menganggap semua solusi per masalahan adalah kematian. Padahal orang yang mencintai Tuhan nya tidak akan mungkin menyakiti sesamanya bahkan hingga menghilangkan nyawademi sebuah janji palsu. Orang yang menyakiti sesamanya adalah orang yang melukai wajah Tuhan. Yang dibutuhkan saat ini adalah nalar yang sehat sebagai obat untuk menciptakan kesadaran dalam racun dunia era digitalisasi.

*) Staf Khusus Ketua Dewan Pengarah BPIP (Tulisan merupakan pendapat pribadi).

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN