Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Tri Winarno

Tri Winarno

Melawan Pandemi Covid-19 dan Dampak Ekonominya

Selasa, 31 Maret 2020 | 13:05 WIB
Tri Winarno *)

Pada Januari 2020, saya memperkirakan penyebaran Covid-19 di Tiongkok akan mencapai puncaknya pada minggu kedua atau ketiga Februari 2020. Terbukti jumlah kasus baru di negara tersebut mulai menurun sejak 22 Februari 2020, dan tidak ada kasus baru pada hari-hari berikutnya kecuali yang disebabkan oleh pelancong dari luar yang tiba di negeri Tirai Bambu itu.

Sayangnya, penularan di luar Tiongkok mengalami peningkatan yang pesat, berdampak pada petaka kesehatan publik dan ekonomi global. Berhadapan dengan pandemi, pemangku kebijakan dapat menarik berbagai pelajaran dari Tiongkok dan negara lain yang lebih dahulu terkena wabah Covid-19. Khususnya bagi negara yang belum berpengalaman dengan pandemic global. Lebih dari itu, mereka harus bertindak cepat.

Pertama, pemerintah dan otoritas kesehatan masyarakat harus meningkatkan kesiapan sebelum wabahnya menjalar dengan cepat. Ketika wabah Covid-19 sudah merebak, akan terjadi lonjakan permintaan peralatan uji, masker, alkohol, pakaian pelindung, tempat tidur di rumah sakit dan mesin penyangga kehidupan. Eropa dan Amerika Serikat (AS) tidak mempersiapkan dengan baik tiga minggu sebelum Covid-19 merajalela.

Negara lain seyogianya belajar dari pengalaman Negara Paman Sam tersebut, dan harus mempersiapkan mulai sekarang. Kalau produksi domestik kebutuhan kesehatan terbatas, negara- negara tersebut harus segera melakukan impor dari Tiongkok, Jepang dan negara lainnya.

Di samping itu, produk-produk tersebut tidak membutuhkan teknologi yang canggih dan dapat diproduksi oleh negara yang terbelakang sekalipun. Tiongkok khususnya, telah mulai berproduksi lagi dan pabriknya telah siap mengantisipasi lonjakan permintaan global dengan kecepatan yang memadai.

Kedua, rencana darurat nasional harus memastikan bahwa tersedia jumlah tempat tidur yang memadai di rumah sakit –khususnya di unit perawatan intensif, dalam mengantisipasi ledakan wabah. Kalau dalam rencana darurat nasional tersebut ternyata tidak tersedia fasilitas yang cukup, pemerintah harus mempertimbangkan untuk membuat rumah sakit darurat yang baru dengan cepat, bahkan bisa menggunakan perusahaan asing jika diperlukan.

Pejabat pemerintah yang diberi amanah oleh rakyat harus bertindak cepat memberikan arahan pada rakyatnya sejak dini, lebih jelas dan berwibawa guna menekan penyebaran virus tersebut, baik melalui peningkatan kekebalan tubuh dan menjaga jarak antarkerumunan (social distancing).

Singapura bisa dijadikan panutan dalam hal ini, di mana para pejabatnya (bahkan perdana menterinya sendiri dengan gagah, jelas dan berwibawa) meyakinkan dan membimbing rakyatnya bahwa mereka dapat mengatasi bencana tersebut.

Pemerintah sejak awal harus bertindak cepat dan tangkas melakukan kebijakan social distancing guna meminimalkan dampak penyebarannya. Sebagaimana ditunjukkan oleh pengusaha Silicon Valley, Tomas Pueyo bahwa langkah tersebut ternyata efektif sebagaimana ditunjukkan oleh langkah Tiongkok waktu me-lockdown Wuhan.

Guna memitigasi dampak penurunan ekonomi akibat pandemi, pemangku kebijakan ekonomi harus memberikan bantuan darurat segera kepada pekerja, perusahaan UMKM dan lembaga keuangan. Covid-19 akan memberikan dampak negatif yang kuat terhadap seluruh sektor ekonomi dalam jangka pendek, dan dalam jangka menengah berpotensi melemahkan beberapa sektor.

Penurunan produksi yang diakibatkan oleh penutupan pabrik yang ditransmisikan melalui rantai produksi hingga sektor hilir di seluruh dunia, meliputi negara-negara yang saat ini belum mengalami puncak wabah pendemi Covid19.

Selain itu, pandemi tersebut menyebabkan penurunan pendapatan dan permintaan yang memengaruhi sektor hulu di mana saja. Akibat penurunan pendapatan dan kepercayaan pelaku bisnis akan berakibat pada penurunan permintaan barang dan jasa lebih parah lagi.

Untuk mencegah depresi ekonomi yang semakin dahsyat (bukan resesi lagi), maka pemerintah harus dengan cepat melaksanakan program darurat yang meliputi penundaan sementara pembayaran pajak, bunga dan cicilan, serta bantuan bagi pekerja maupun rakyat kecil yang hidupnya pas-pasan.

Ketiga, saat ini penggunaan teknologi digital harus dimaksimalkan. Belanja daring dapat menggantikan kesulitan yang dihadapi oleh pengecer dan pabrik dalam menjual barangnya. Tetapi hal ini membutuhkan tersedianya internet yang memadai, sistem pembayaran non tunai yang andal dan sitem pengantaran barang yang efisien dan murah. Tiongkok telah membuktikan mampu mengatasi hal tersebut, dan harus ditiru.

Keempat, dalam kesempatan ini, penulis menilai juga harus dilakukan reformasi sektor jasa, seperti jasa kesehatan nasional yang lebih kompetitif dan memberi akses asing untuk terlibat dalam investasi di sektor ini.

Kelima, guna menstimulir ekonomi, program yang terkoordinasi secara global akan lebih efektif mengatasi depresi global ini daripada bertindak sendiri-sendiri. Khususnya yang menyangkut kebijakan fiskal. Ketika suatu negara memangkas pajak dan memberikan bantuan keuangan darurat pada rumah tangga yang memang benar-benar membutuhkan, maka peningkatan permintaan domestik akan memacu permintaan global lewat penambahan impor.

Karena itu, koordinasi internasional dapat membantu memecahkan masalah ini. Ketika semua Negara meningkatkan permintaannya, maka nilai tukar mata uang tidak perlu bergerak terlalu lebar, sehingga peningkatan permintaan global akan bermanfaat bagi semua.

Dalam hal ini G20 atau International Monetary Fund (IMF) dapat memainkan peran koordinasi yang sangan penting dan sangat dibutuhkan saat ini.

Keenam, pengurangan tarif dan halangan non tarif dalam perdagangan internasional harus segera dilakukan agar resesi ini cepat dapat diatasi. Berbagai bank sentral utama telah melakukan pemangkasan bunga kebijakan hingga nol persen, tetapi ini ada batasnya.

Karena itu, hambatan perdagangan saat ini harus secara bersama-sama diturunkan agar biaya produksi semakin turun dan pendapat riil rumah tangga domestik semakin meningkat sehingga daya beli semakin besar. Namun perlu diingat bahwa dalam situasi resesi setiap Negara merasa tergoda untuk meningkatkan hambatan perdagangan, dan saat ini kebijakan sebaliknya yang sangat dibutuhkan guna meningkatkan global output dan penyerapan tenaga kerja.

Sebagaimana ekspansi fiskal, maka liberalisasi perdagangan yang terkoordinasi akan lebih sukses mengatasi resesi ini. Karena itu, World Trade Organization (WTO) dan G20 segera harus meningkatkan kepemimpinannya untuk mengatasi isu perdagangan ini. Pandemi Covid-19 sedang mengancam dunia dengan kehancuran. Tetapi, krisis ini juga membuka peluang untuk melakukan perubahan kebijakan yang tidak hanya untuk mengatasi tantangan kesehatan publik jangka pendek, tetapi juga untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi potensial global jangka pajang.

Saya rasa tidak kebetulan bahwa krisis ini pertama kali meledak di Tiongkok, karena kata “krisis” dalam huruf Tiongkok mengandung dua arti, yaitu “danger” dan “opportunity”. Dengan demikian, pemimpin yang cakap, andal dan cerdas tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini dan harus mampu merebut peluang yang disebabkan oleh krisis akibat pandemi Covid-19.

*) Pengamat Kebijakan Ekonomi

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN